Modul Bahasa Indonesia SMA Kelas XI

MODUL PEMBELAJARAN

Standar Kompetensi 1

Memahami berbagai informasi dari sambutan/khotbah dan wawancara

 

 

 

Kompetensi Dasar

1.1  Menemukan pokok-pokok isi sambutan/khotbah yang didengar

 

Alokasi Waktu :

2           jam pelajaran  ( 1 x pertemuan )

Dilaksanakan pada pertemuan ke

 

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Mencatat pokok-pokok isi sambutan atau khotbah yang didengarkan
  • Menuliskan pokok-pokok isi sambutan tersebut ke dalam beberapa kalimat
    • Menyampaikan (secara lisan) ringkasan sambutan atau khotbah

 

 

 

 

 

1. Mendengarkan Sambutan

Dalam kegiatan keseharian, baik di lingkungan sekolah atau masyarakat, Anda tentunya pernah mengikuti kegiatan yang dilaksanakan dalam berbagai acara. Saat acara dilaksanakan, biasanya ada kata sambutan dari pihak panitia, pejabat pemerintah, ataupun orang yang dihormati. Misalnya, dalam acara kegiatan di sekolah, kepala sekolah atau ketua panitia berkenan untuk memberikan sambutan. Dalam acara resmi tingkat nasional atau internasional pun selalu adasambutan dari orang/pejabat tertentu.

Berikut ini contoh sambutan ketua panitia dalam suatu acara. Dengarkanlah dengan baik, salah seorang temanmu akan membacakannya. Selama teman Anda membacakannya, tutuplah buku Anda dan tulislah hal-hal penting yang disampaikan teman tersebut.

 

Hadirin yang saya hormati,

Pertama-tama, kita patut bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Dengan izin-Nya-lah kita bisa hadir dalam rangka pembukaan pelaksanaan “Program Forum Warga” di daerah kita tercinta ini. Saya pun mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada berbagai pihak yang telah hadir dalam kegiatan kita kali ini. Kami selaku panitia mengucapkan selamat datang kepada Ibu Bupati, para camat, serta para lurah yang telah menyempatkan hadir dalam kesempatan kita ini.

Seperti Ibu dan Bapak ketahui, pengembangan dan pemberdayaan masyarakat ke arah yang lebih baik menuntut dibukanya kebebasan warga. Biarkan mereka berpikir dan berpendapat bebas terhadap semua masalah yang terjadi di sekeliling mereka. Termasuk dalam menentukan cara menyelesaikan persoalan.

 

Hadirin yang saya hormati.

Contoh yang lebih konkret misalnya di wilayah kelurahan atau desa kita. Di lingkup itu, semua warga masyarakat harus tahu apakah kelompok miskin, pengangguran, putus sekolah di sekitar mereka semakin bertambah setiap tahun, tetap, atau berkurang. Bukan itu saja, mereka juga berhak tahu tentang kebersihan, keamanan, dan kenyamanan hidup bertetangga. Pokoknya,

semua hal yang terkait dengan hidup bermasyarakat harus diketahui, disadari dan ditangani secara bersamasama.

Pilihan yang paling tepat untuk bisa “hidup bersama- sama seperti itu adalah” tentu saja bertemunya seluruh warga atau unsur-unsur warga di satu lingkungan untuk berdialog atau berbicara secara terbuka, transparan, dan demokratis. Dalam pertemuan ini warga akan tahu kenapa dan bagaimana rencana kerja pemerintah, berapa dana yang dimiliki, dari mana sumber dana tersebut guna meningkatkan kesejahteraan warganya. Pemerintah melalui kelurahan juga dapat memahami mengapa dana untuk masyarakat “macet”. Mengapa jumlah fakir miskin, pengangguran, dan/atau putus sekolah bertambah. Apakah para pengusaha, kelompok-kelompok warga seperti majelis taklim, dewan kesejahteraan masjid, gereja, dan organisasi keagamaan lain masih dapat berpartisipasi mengatasi masalah sosial di masyarakat. Dan, mengapa ada masyarakat yang masih enggan terlibat dalam

mendukung program pemerintah.

Pertemuan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman antarkelompok agama, antaretnis, juga antargenerasi. Bahkan diharapkan mampu menjalin kerja sama demi kesejahteraan bersama. Pertemuan antarwarga atau antarunsur-unsur kelompok warga yang berjalan secara rutin selama ini, tiada lain bertujuan membicarakan masalah dan penyebabnya, merencanakan kegiatan pemecahan, hingga mengevaluasi hasil kegiatan inilah yang sering dinamakan “Forum Warga”. Meskipun istilah “Forum Warga” terkesan baru, kegiatan seperti ini sebenarnya sudah menjadi tradisi masyarakat nusantara sejak dulu. Kegiatan tersebut di pedesaan hampir sama dengan apa yang disebut “Rembuk Desa”.

 

Hadirin yang saya hormati.

Forum Warga bukan suatu organisasi dengan struktur yang formal. Ia hanyalah istilah untuk menamakan suatu kegiatan pertemuan rutin warga guna mengatasi persoalan dan meningkatkan kerja sama antarwarga masyarakat termasuk peningkatan manfaat pembangunan yang ada. Fungsi lain yang juga penting, dalam pemerintahan desa dan kelurahan yang semakin demokratis, Forum Warga juga dapat menjadi tempat penyampaian tanggung jawab pembangunan pemerintah melalui kelurahan atau desa kepada warga masyarakatnya. Demikianlah sambutan yang dapat saya sampaikan. Kami mohon maaf jika ada kekurangan selama acara kegiatan pembukaan ini. Semoga Tuhan Yang Mahakuasa memberkahi niat baik kita. Selain itu, semoga kegiatan “Program Forum Warga” ini ke depannya dapat terlaksana dengan baik. Amin.

 

Terima kasih atas perhatian hadirin.

 

 

 

1. Catatlah pokok-pokok isi sambutan di atas.

2. Lakukanlah tukar silang hasil pekerjaan dengan teman Anda.

3. Bacakanlah isi sambutan tersebut secara bergiliran.

4. Selama teman Anda membacakan sambutannya, catatlah pokokpokok pikiran yang ada dalam sambutan tersebut.

5. Sampaikan kembali isi pokok-pokok pikiran dari sambutan tersebut dengan bahasa Anda sendiri.

 

 

 

 

 

 

Kompetensi Dasar

1.2 Merangkum isi pembicaraan dalam wawancara

 

Alokasi Waktu

2 jam pelajaran (1 x pertemuan)

Dilaksanakan pada pertemuan ke

 

Indikator

  • Mencatat pokok-pokok pembicaraan ( siapa yang berbicara apa isi pembicaraannya)
  • Merangkum seluruh isi pembicaraan dalam beberapa kalimat
  • Menyampaikan (secara lisan) isi rangkuman kepada orang lain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada dasarnya, wawancara merupakan percakapan antara dua orang. Seorang yang bertanya dan seorang yang menjawab. Proses wawancara tidak jauh berbeda dengan percakapan sehari-hari yang sering Anda lakukan. Dengan demikian, dalam kegiatan wawancara, keduanya mengalami kegiatan mendengarkan dan berbicara.

Berdasarkan perilaku mendengarkan/ menyimak, terdapat dua tipe perilaku dalam kegiatan mendengarkan/ menyimak wawancara, yaitu sebagai berikut.

 

1. Menyimak Faktual

Menyimak faktual berarti menangkap serta memahami faktafakta, konsep-konsep, serta informasi yang disampaikan pembicara. Pada saat kita menyimak, kita mencoba menangkap ide-ide pokok, gagasan-gagasan penting sang pembicara atau narasumber. Kegiatan yang dilakukan saat menyimak faktual adalah:

a. memusatkan perhatian pada pesan-pesan orang lain;

b. berusaha mendapatkan fakta-fakta.

 

2. Menyimak Empatik

Menyimak empatik menolong kita untuk memahami sikap psikologis dan emosional sang pembicara/narasumber dan bagaimana sikap tersebut memengaruhi ujarannya. Menyimak empatik ini dapat juga disebut menyimak aktif atau menyimak pemahaman. Setiap pesan berisi dua bagian, yaitu isi atau materi faktual dan perasaan

atau sikap pembicara terhadap isi tersebut. Kegiatan yang dilakukan saat menyimak empatik adalah:

a. memperhatikan isyarat-isyarat nonverbal (gerak-gerik anggota tubuh);

b. menempatkan diri pada posisi orang lain;

c. memusatkan perhatian pada pesan, bukan pada penampilan.

 

 

 

 

Wawancara dengan Linda Christanty

Linda Christanty dilahirkan di Pulau Bangka tahun 1970. Setelah menyelesaikan sekolah dasar dan menengah (pertama dan atas), Linda sempat kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Selama ini, dia telah memublikasikan karyakarya cerpennya di berbagai media massa dan mendapat pujian serta perhatian dari sejumlah pengamat sastra.

Pada 1989, cerpen karya Linda bertajuk “Daun- Daun Kering” mendapatkan salah satu penghargaan lomba menulis cerpen yang diselenggarakan Kompas yang kemudian dimuat di harian yang sama pada 5 Agustus 1990. Saat itu, Linda memperoleh juara harapan bersama sembilan penulis cerpen lainnya,  di antaranya Bre Redana, Satyagraha Hoerip, dan Putu Wijaya.

Apa yang telah dicapai Linda tidak lepas dari kebiasaan masa kecilnya yang suka menulis dan membaca yang beberapa bacaan di antaranya mungkin dianggap belum saatnya dibaca anak-anak seusianya. Misalnya, buku-buku politik milik kakeknya. Berikut ini petikan wawancara Majalah Matabaca dengan Linda Christanty.

 

Apa yang sebenarnya menjadi inspirasi bagi karyakarya Anda sehingga karya-karya tersebut banyak menyinggung soal kemanusiaan yang berkaitan dengan politik?

Aku menganggap sumberku dalam berkarya adalah kehidupan sehari-hari. Realitas ini sendiri. Ya, bisa aja orang kemudian berimajinasi ada mahluk di Mars atau apa, aku pikir itu sah saja. Tapi untuk karyaku, aku berpikir memang sumbernya adalah kehidupan kita yang hari per hari ini. Dalam kehidupan sehari-hari ini kan banyak sekali peristiwaperistiwa. Misalnya, ketidakadilan terhadap orang kecil, pembunuhan, penganiayaan, atau perampokan. Hanya gara-gara, misalnya, orang itu tak punya uang, (maka orang itu) rela merampok dan membunuh untuk uang sekitar dua puluh ribu dan itu realitas dalam masyarakat kita.

 

Berapa lama biasanya Anda menyelesaikan cerpen-cerpen yang termuat dalam buku kumpulan cerpen “Kuda Terbang Mario Pinto”?

Cerpen yang paling cepat dua jam (cerpen “Makan Malam”), tapi ada juga yang berbulan-bulan yang aku bingung ini akhirnya bagaimana yah seperti “Pesta Terakhir”.

 

Kendala yang biasa Anda alami saat menulis dan menyelesaikan sebuah cerpen?

Kesulitan saya mungkin dialami juga ya sama penulis lain. Misalnya, tiba-tiba, nah ini sepertinya perlu juga penulis seperti saya karena sebagian besar penulis kita itu otodidak. Jadi, begitu menulis fiksi tidak pernah tuh wah bagian pertama adalah pembukaannya nanti ada padanannya atau segala macam yang ada klimaks antiklimaks. Jadi, saat menulis cerpen itu duduk. Apa yang dipikirkan waktu itu dan dirasakan ditulis saja. Nah itu, ternyata bermasalah. Iya kalau memang idenya terus

Anda dapat melakukan dua kegiatan menyimak tersebut pada saat mendengarkan wawancara. Sekarang, perhatikan dan dengarkanlah wawancara antara penulis Linda Christanty dan wartawan yang akan diperankan oleh dua teman Anda berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

mengalir dan energi kita langsung bisa menyelesaikan dalam sekali duduk. Seringkali, di tengah jalan, lho tokohnya mau dibawa ke mana, eh akhir ceritanya bagaimana yah, saya jadi bingung. Hal seperti itu kadang saya alami. Namun, ada juga saya dalam situasi secara psikologis juga memang sedang betul-betul mood, semangat, asyik dan saya merasa cerita ini betul-betul menyatu dengan saya. Misalnya, “Makan Malam” itu saya selesaikan dalam waktu dua jam. Saya tuh tidak pernah menulis cerpen sekali tulis walaupun banyak penulis lain (setelah) menulis, tidak dibaca lagi, langsung kirim. Saya tidak bisa seperti itu. Saya akan teliti lagi logikanya bahasanya, seperti itulah.

 

Sejak kapan Anda suka menulis?

Saya sudah menulis sejak usia delapan tahun. Pemicunya, sebuah buku catatan harian yang diberikan oleh kakek saya. Dia berkata kepada saya, “kalo Anda merasa sedih, senang, gembira, cobalah ditulis di sini.” Pada waktu masih kecil, saya kan bingung bagaimana untuk mengungkapkan kesedihan itu. Kalimatnya seperti apa kira-kira. Mungkin, kakek saya juga agak bingung kalo harus mendiktekan kalimat seperti itu, dalam situasi, ia juga tidak tahu apa yang saya rasakan. Jadi, dia bilang begini, sekarang ini Juan Carlos, Raja Spanyol dan Putri Sofia sedang datang ke Indonesia. Jadi, pembukaan catatan harianmu tuliskan saja bahwa pada hari ini tanggal sekian bulan sekian tahun sekian Raja Juan Carlos dan Putri Sofia datang ke indonesia. Saya buka catatan harian saya dengan kalimat itu.

 

Mulai kapan dan bagaimana Anda mengasah keterampilan menulis cerpen?

Saya memang sejak kecil menulis. Kemudian, mulai menulis fiksi dalam bentuk cerpen waktu SMP di mading (majalah dinding). Ketika SMA, saya menulis juga. Tahun 1989, ada lomba (menulis cerpen yang diselenggarakan harian Kompas). Sekitar 4000 lebih naskah masuk ke redaksi Kompas. Waktu itu, cerpen saya berjudul “Daun-Daun Kering” mendapat juara harapan (pemenang harapan sekitar sepuluh orang). Karya pemenang kemudian dipublikasikan. Saya (sejak itu) mulai terpacu secara serius untuk menulis fiksi. Caranya, saya membaca banyak buku. Kebetulan, saya adalah orang yang suka belajar diam-diam. Jadi, lebih asyik kalo belajar diam-diam itu lewat buku, baik karya sastra dunia maupun karya sastra Indonesia. Masa itu, saya suka pengarang-pengarang Jepang seperti Yasunari Kawabata, Yukio Mishima, Ryonosuke Akutagawa, Yuniciru Tanijaki. Karena pengarang Jepang itu, mereka kadang menceritakan hal yang sederhana dengan cara yang begitu halus dan juga puitis. Terutama, (Yukio) Mishima, saya terkesan sekali sama salah satu novelnya tentang seorang anak kecil miskin dari keluarga nelayan yang mencintai seorang gadis secara diam-diam. Mereka tinggal di sekitar mercu suar di pantai. Itu indah sekali, menurut saya. Tapi, pada masa-masa kemudian bacaan saya berkembang juga. Saya mulai baca juga Milan Kundera, Miguel Asturias, Isabel Allende, dan Carlos Fuentes. Terus, saya baca juga buku cerita anak-anak karena untuk imajinasi dalam cerita anak-anak itu kan gila-gilaan. Dan yang agak menyedihkan dari kita kalo usia kita makin tua adalah kadang-kadang imajinasi kita tidak seliar saat anak-anak itu. Dengan membaca buku cerita anak-anak itu, saya jadi pulih lagi imajinasi saya yang liar dan polos, seperti itulah.

Apa obsesi Anda saat ini atau yang akan datang?

Obsesi, sebenarnya cita-citaku ingin nulis novel. Sayang, saya kurang mendisiplinkan diri. Cerpen itu kalo sudah sampai 3.000 kata dan itu gak mau berhenti, kita jadi bingung. Bagaimana ya memberhentikannya, karena kalau halaman koran itu kalau halaman penuh maksimal 2.500 kata karena ada gambar/ilustrasi. Sementara itu, (dalam) cerpen-cerpenku, aku melihat kecenderungan karakter yang ada dalam cerpen-cerpenku adalah karakter-karakter yang harusnya lebih berkembang dan itu mungkin gak akan atau tak bisa berkembang hanya dalam sebuah cerpen yang hanya satu halaman dengan sekian ribu kata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan wawancara tersebut, kita dapat merangkum isi wawancara sebagai berikut.

 

Linda Christanty menganggap sumber dalam berkarya adalah kehidupan sehari-hari. Saat membuat karya cerpen, waktu yang paling cepat adalah dua jam, tetapi ada juga yang berbulan-bulan. Salah satu kesulitan menulis karya adalah saat menulis fiksi karena tidak ada langkah-langkah yang pasti. Ia sudah menulis sejak usia delapan tahun dan pemicunya adalah sebuah buku catatan harian yang diberikan oleh kakeknya. Ia sejak kecil menulis kemudian mulai menulis fiksi dalam bentuk cerpen waktu SMP di mading (majalah dinding). Ketika SMA pun, ia menulis juga. Obsesi ke depannya adalah ingin menulis novel.

 

 

 

 

 

 

Hasil rangkuman dalam beberapa kalimat tersebut dapat Anda sampaikan kepada teman-teman Anda dengan menggunakan bahasa Anda sendiri. Penyampaian isi rangkuman secara lisan tersebut akan membuat orang lain memahami isi pembicaraan secara umum.

 

 

 

  1. Bergabunglah dengan teman sebangkumu, simaklah sebuah acara talk show di televisi!
  2. Catatlah siapa yang mewawancarai dan siapa yang diwawancarai!
  3. Catat juga pokok-pokok isi pembicaraan dalam wawancara tersebut!
  4. Buatlah rangkuman hasil pembicaraan dalam wawancara tersebut!
  5. Salah seorang dari kamu akan menyampaikan hasil rangkuman tersebut ke depan kelas.

 

 

 

MODUL PEMBELAJARAN

Standar Kompetensi 2

Mengungkapkan secara lisan informasi hasil membaca dan  wawancara

 

 

Kompetensi Dasar

2.1 Menjelaskan secara lisan uraian   topik tertentu dari hasil membaca (artikel atau buku)

 

Alokasi Waktu :

4        jam pelajaran  ( 2 x pertemuan )

Dilaksanakan pada pertemuan ke

 

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Mendata pokok-pokok isi artikel/ buku yang diperoleh dari hasil membaca
    • Menyampaikan (secara lisan) isi artikel dengan memperhatikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
    • Mengemukan hal-hal yang menarik dalam artikel/ buku yang telah dibacanya dengan memberikan alasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Dengan membaca, kita dapat merengkuh dunia”. Begitulah ungkapan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Apa artinya kita memiliki pikiran, jika kita tidak dapat menambah informasi ke dalam otak kita? Kegiatan membaca adalah upaya yang dapat membawa kita bertualang ke dalam ilmu pengetahuan. Sudahkah Anda menjadikan perpustakaan, toko buku, atau taman bacaan sebagai rumah kedua Anda?

Membaca adalah aktivitas yang kompleks, terutama datang dari faktor luar pembaca dan dalam pembaca sendiri. Untuk memperlancar proses membaca, seorang pembaca harus memiliki modal pengetahuan dan pengalaman; kemampuan memahami bahasa; kemampuan teknik membaca; serta tahu tujuan membaca. Sebetulnya, kegiatan membaca identik dengan rasa kritis dan juga mengingat. Kegiatan membaca merupakan proses usaha memasukkan informasi yang ditangkap dari bacaan ke dalam ingatan. Dalam hal ini, Anda akan mengetahui topik yang dibahas jika Anda mampu membaca dengan baik suatu teks bacaan.

Kata artikel tidak asing lagi bagi kita. kita dapat menemukan artikel di koran atau majalah. artikel merupakan bentuk karangan yang membahas berbagai masalah. Masalah yang dibahas dalam artikel masalah yang aktual. Artikel menyajikan informasi bagi pembaca. Artikel berbentuk karangan deskripsi atau eksposisi. Dengan membaca artikel, Anda diharapkan mengerti masalah yang dibahas.

 

Untuk menemukan topik artikel diperlukan langkah-langkah sebagai berikut.

  1. Membaca dan memahami artikel secara utuh.
  2. Mencatat pokok-pokok isi artikel. Pokok-pokok isi artikel merupakan sesuatu hal yang dibahas.
  3. Mencatat topik dan pokok permasalahan yang dibahas dalam artikel.
  4. Memberikan pendapat atau uraian beserta alasan terhadap topik yang ditemukan.
  5. Menyampaikan secara lisan topik artikel yang dibaca dengan alas an perlunya membaca artikel tersebut.

 

 

Untuk melatih Anda, bacalah teks berikut dengan baik.

Rimba Gambut Menanti Ajal

Hutan gambut Sumatra terkikis hutan tanaman industri. Ini bisa menjadi awal datangnya petaka banjirasap dan kekurangan air. Kecemasan itu pelan-pelan merasuki perkampungan Suku Akit di pedalaman hutan Semenanjung Kampar, Riau. Aroma kekhawatiran seperti meletup dari gubuk-gubuk buruk di tengah hutan. Lelaki-lelaki perkasa dari suku itu kini sering pulang berburu dengan wajah getir.

Tangan mereka kosong. Tak ada tangkapan, tiada pula madu hutan.

Hutan yang didiami Ajib dan tetangga-tetangganya beberapa tahun ini telah berubah. Ajib bercerita, sudah beberapa tahun ini, ”kampungnya” alias hutan gambut itu digangsir. Banyak yang datang dengan membawa mesin-mesin gergaji. Lalu pelan-pelan kicau burung pun tergantikan deru gergaji mesin. Raungan gergaji itu juga mengganggu lebah-lebah madu sialang. Itulah yang membuat kehidupan 380 keluarga suku Akit kian pahit.

Itu baru sebagian ancaman. Ancaman lainnya adalah ”kampung” Ajib itu mulai dikeruk tanahnya dan dibangun parit-parit besar agar air di tanah gambut mengering. Gambut memang tanah yang penuh tumpukan ranting yang tak terurai sempurna selama puluhan tahun sehingga strukturnya seperti spons atau busa yang mengandung banyak air. Dengan parit, air di tanah gambut akan mongering dan bisa disulap menjadi hutan akasia yang menjadi bahan baku pabrik kertas dan bubur kertas.

Pohon ditebang, tanah dipapras, membuat ”kampung” suku Akit kian sempit. Akibatnya, sudahbanyak yang mengungsi ke pedalaman Taman Nasional Bukit Tiga Puluh di Indragiri Hilir.

Kampung Akit dan hutan gambut di Semenanjung Kampar adalah hutan yang kalah. Menurut data Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), di hutan itu kini sedikitnya ada tujuh perusahaan besar yang tiap hari mengerahkan mesinmesin penebang. Sebagian perusahaan itu menebang pohon untuk diolah menjadi bubur kertas. Untuk memenuhi pasokan bahan bakunya, ada perusahaan yang mengubah hutan gambut alam menjadi hutan dengan tanaman yang seragam atau dikenal sebagai hutan tanaman industri (HTI). Kerusakan itu belum termasuk kerusakan yang ditimbulkan 52 persen penduduk sekitar hutan yang ikut-ikutan menebangi hutan.

Tergerusnya hutan gambut ini membuat waswas para pencinta lingkungan. Menurut data World Wild Fund (WWF) Indonesia, luas hutan dan lahan gambut di Indonesia mencapai 20 juta hektare. Empat juta hektare di antaranya ada di Riau. Salah satu hutan gambut Riau yang terkenal adalah Semenanjung Kampar, kampung Suku Akit. Pada 1990-an hutan ini tercatat sebagai salah satu yang terluas di Sumatra. Membujur di pesisir timur Riau, hutan ini pada 1997 luasnya masih sejuta hektare. Kini hutan gambut itu tinggal secuil.

 

Disadur dari: Tempo, 16 Juli 2006

 

 

 

 

 

 

 

Anda telah mencatat pokok-pokok isi artikel ” Rimba Gambut Menanti Ajal”. Sekarang lakukan kegiatan berikut!

1. Sampaikan isi artikel secara lisan dan ungkapkan pendapat Anda sendiri mengenai artikel tersebut!

2. Kemukakan alasan Anda dengan data pendukung!

3. Buatlah rangkuman isi artikel!

 

PENILAIAN PENYAMPAIAN ISI ARTIKEL

Kompetensi  Dasar         : Menjelaskan secara lisan uraian   topik tertentu dari hasil membaca (artikel/ buku)

Nama Siswa                   :

Kelas                               :

Nomor Absen                :

No Aspek yang Dinilai Pertanyaan Pemandu 1 2 3 4 5
01 Kesesuaian isi Apakah isinya sesuai?          
02 Kelengkapan isi Apakah isinya lengkap?          
03 Ketepatan simpulan Apakah kesimpulannya tepat?          
04 Urutan penyampaian Apakah penyampaiannya runtut?          
05 Kemudahan dipahami Apakah penyampaiannya mudah dipahami?          
06 Intonasi penyampaian Apakah intonasinya baik?          
07 Artikulasi Bagaimana kejelasan artikulasinya?          
08 Volume suara Bagaimana volume suaranya? Tepat?          
Jumlah  nilai = 8 – 40  

 

Keterangan :           1. Sangat tidak sesuai                         4. Sesuai

2. Tidak sesuai                                    5.  Sangat sesuai

3. Biasa saja

 

Kompetensi Dasar

2.2        Menjelaskan hasil wawancara tentang tanggapan narasumber terhadap topik tertentu

 

Alokasi Waktu :

4           jam pelajaran  ( 2 x pertemuan )

Dilaksanakan pada pertemuan ke

 

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Mencatat pokok-pokok hasil wawancara topik tertentu
  • Membuat rangkuman hasil wawancara dengan kalimat yang efektif
    • Menjelaskan tanggapan nara sumber terhadap topik tertentu

 

 

 

 

 

 

 

Wawancara adalah suatu cara untuk mengumpulkan informasi dengan menanyakan langsung kepada seorang narasumber. Biasanya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan disiapkan terlebih dahulu dan diarahkan kepada informasi-informasi untuk topik yang akan dibahas.

Berikut ini teks hasil wawancara seorang wartawan terhadap seorang tokoh. Tokoh itu adalah Jennifer Hawkins, Miss Universe 2004. Salah seorang teman Anda akan membacakan teks tersebut dan teman yang lain menyimak dengan saksama!

Ingin Jadi Presenter TV

Jennifer Hawkins telah menggeluti dunia tari sejak umur lima tahun. Tahun 2001, ia menang dalam lomba tari berskala nasional di Australia. Sebelum menjadi Miss Universe, ia pernah bekerja sebagai sekretaris di kantor pengacara dan model. Ia juga penggila olahraga dan menyukai olahraga pria seperti surfing dan wakeboarding. Berkaitan dengan tugasnya sebagai Miss Universe, Jennifer menjelaskan kepada para wartawan. Demikian petikannya:

Apa saja tugas-tugas yang Anda emban sebagai Miss Universe?

Sejak dinobatkan sebagai Miss Universe, saya bergabung sebagai duta dalam organisasi The Global Healt Council, jadi, untuk saat ini tugas-tugas saya berkisar tentang bagaimana membantu organisasi tersebut dalam rangka meningkatkan kewaspadaan akan penyakit HIV/AIDS. Saya senang diberi kesempatan berbicara dalam forum-forum internasional tentang masalah ini.

Pengalaman apa yang Anda dapatkan sebagai Miss Universe?

Hal yang paling menyenangkan adalah acara jalan-jalan.

Apakah Anda merasa kehilangan waktu bersama teman dan keluarga setelah menjabat sebagai Miss Universe?

Menjadi Miss Universe membuka kesempatan bagi saya untuk melakukan kegiatan di bidang modeling dan pertelevisian. Namun, tentu saja saya sangat rindu keluarga dan teman-teman saya di Australia. Setahun ini saya akan fokus pada tugas sebagai Miss Universe. Menjadi Miss Universe itu menyenangkan, lho. Saya dapat bertemu dengan banyak orang.

Bagaimana dengan hobi Anda, surfing?

Hobi saya seperti surfing dan wakeboarding, tentu harus disesuaikan dengan jadwal Miss Universe. Kalau tidak bisa, ya, saya berolahraga di pusat kebugaran. Saya sangat merindukan Australia, karena di New York tempat saya berdomisili sebagai Miss Universe, tidak ada pantai.

Apa ambisi Anda selanjutnya?

Setelah Miss Universe, saya berniat terjun ke dunia pertelevisian sebagai presenter dan meneruskan karier sebagai model. Mumpung masih muda dan modal bagus, mengapa tidak?

Apa pendapat Anda tentang Indonesia?

Ini negeri yang indah. Orang-orangnya sangat ramah. Saya ingin berterima kasih kepada semua orang yang telah menyambut saya. Kalau saya kembali ke Australia sekitar bulan September nanti, saya akan katakan kepada semua orang, betapa indahnya Indonesia. Nanti kalau saya berkunjung ke negara lain, saya akan ceritakan kepada semua orang bahwa Indonesia indah dan aman.

Bagaimana kabar pacar Anda, Jake Wall?

Saya tidak ingin kehidupan pribadi membayang-bayangi kegiatan saya sebagai Miss Universe. Jake Wall masih di Sydney dan hubungan kami baik-baik saja.

Ada pesan yang ingin Anda sampaikan kepada wanita Indonesia?

Untuk semua wanita, Anda bisa melakukan apa yang Anda impikan. Contohnya, saya yang dulu punya mimpi ingin jadi model dan presenter TV, kini bisa menjadi Miss Universe. Anda dapat melakukan itu. Tersenyum dan selalu bahagia. Dan yang terpenting, jangan lupakan dukungan dari keluarga Anda.

Sumber: Tabloid NOVA, 15 Agustus 2004

 

 

 

 

Wawancara di atas akan dibacakan oleh dua orang  temanmu di depan kelas, tugas kamu adalah:

  1. Catatlah pokok-pokok isi wawancara tersebut.
  2. Buatlah rangkuman hasil wawancara dengan kalimat yang efektif.
  3. Sampaikanlah hasil rangkumanmu secara lisan di depan kelas.

MODUL PEMBELAJARAN

Standar Kompetensi 3

Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring

 

 

 

Kompetensi Dasar

3.1 Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif

 

Alokasi Waktu

4 jam pelajaran (2 x pertemuan)

dilaksanakan pada pertemuan ke

 

Indikator pencapaian hasil belajar

  • Menetukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
  • Menentukan kalimat penjelas yang mendukung gagasan utama
  • Menjelaskn perbedaan antara paragraf yang berpola deduktif dengan paragraf yang berpola induktif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pola pengembangan paragraf secara umum ada dua. Pertama, pola deduktif. Kedua, pola induktif. Pola deduktif adalah pola pengembangan dengan meletakkan pikiran utama atau gagasan umum di awal paragraf dan diikuti dengan pikiran-pikiran penjelasa atau gagasan-gagasan khusus. Sebaliknya, pola pengembangan induktif merupakan pengembangan paragraf dengan meletakkan pikiran utama atau gagasan utama di akhir paragraf dan diawali dengan pikiran-pikiran penjelas atau gagasan-gagasan yang bersifat khusus.

Pikiran utama atau gagasan umum adalah pikiran atau gagasan yang menjiwai sebuah paragraf. Sedangkan, pikiran penjelas atau gagasan yang bersifat khusus adalah gagasan-gagasan yang menjelaskan pikiran utama atau gagasan utama.

Perhatikan kutipan teks berikut ini!

 

 

 

 

 

 

 

Paragraf di atas terdiri atas 1 kalimat topik dan 2 kalimat penjelas. Kalimat (1) dan (2) adalah kalimat penjelas dan kalimat (3) adalah kalimat topik. Maka, gagasan utama paragraf di atas adalah kalimat (3). Karena gagasan utama paragraf terletak di akhir paragraf, paragraf tersebut tergolong paragraf induktif.

 

Perhatikan kutipan teks berikut ini!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Paragraf tersebut terdiri atas 1 kalimat topik dan 2 kalimat penjelas. Kalimat (1) adalah kalimat topik dan kalimat (2) dan (3adalah kalimat penjelas. Maka, gagasan utama paragraf tersebut adalah kalimat (1). Karena gagasan utama paragraf terletak di awal paragraf, paragraf tersebut tergolong paragraf deduktif.

 

Frasa Nominal

Frasa nominal adalah frasa yang intinya terdiri dari kata benda atau nomina.

Contoh: baju merah, jalan tol, siswa baru dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tulislah PI jika paragraf induktif dan PD jika paragraf deduktif!

 

 

 

Kompetensi Dasar

3.2     Membacakan berita dengan intonasi, lafal, dan sikap membaca yang baik

Alokasi Waktu :

8        jam pelajaran  ( 4 x pertemuan )

Dilaksanakan pada pertemuan ke

 

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Membacakan berita dengan intonasi yang baik
  • Membacakan beritadengan lafal yang jelas Membacakan berita dengan sikap yang baik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Membacakan berita dapat menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan bagi sang pembaca dan pendengarnya jika pembacaan dilakukan dengan baik. Untuk dapat menjadi pembaca berita yang baik perlu berlatih:

1. lafal dan pengucapan yang jelas;

2. intonasi yang benar;

3. sikap yang benar.

 

Dalam menyampaikan berita, intonasi dapat menimbulkan bermacam arti. Keras lambatnya suara atau pengubahan nada, dan cepat lambatnya pembacaan dapat digunakan sebagai penegasan, peralihan waktu, perubahan suasana, maupun perenungan.

Dalam membacakan berita hendaknya diutamakan pelafalan yang tepat. Gerak-gerik terbatas pada gerak tangan, lengan atau ke-pala. Segala gerak tersebut lebih banyak bersifat mengisyaratkan (bernilai sugestif) dan jangan berlebihan. Untuk menimbulkan suasana khusus yang diperlukan dalam pembacaan, suara lebih efektif dengan didukung oleh ekspresi wajah. Air muka (mimik) dan alunan suara yang pas lebih efektif untuk meningkatkan suasana. Senyum atau kerutan kening juga dapat membantu penafsiran teks. Perhatikan pula kontak pandangan Anda dengan pendengar (penonton), terutama bila membacakan berita melalui media televisi atau kontak langsung dengan pendengarnya. Jadi, membaca berita adalah menyampaikan suatu informasi atau berita melalui membaca teks berita dengan lafal, intonasi, dan sikap secara benar.

Berikut adalah contoh kutipan berita. Bacalah dengan saksama!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalimat Tunggal

Perhatikan contoh kalimat berikut.

 

 

Kalimat yang panjang tersebut berasal dari kalimat tunggal

berikut.

 

Teks berita terdiri atas beberapa kalimat yang padu. Apakah kalimat itu? Dasar kalimat adalah adanya bagian (konstituen) dasar dan intonasi final. Kontituen dasar itu biasanya berupa klausa. predikatif. Artinya, susunan tersebut dapat berfungsi sebagai predikat. Adapun yang lain berfungsi sebagai subjek, objek, dan keterangan. Berikut ini contoh klausa.

Jadi, kalau sebuah klausa diberi intonasi final, akan terbentuklah sebuah kalimat. Intonasi final itu terdiri atas intonasi deklaratif (tanda titik), intonasi interogatif (tanda tanya), dan intonasi seru

(tanda seru).

Adapun kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu seperti subjek dan predikat hanyalah satu atau merupakan satu kesatuan. Dalam kalimat tunggal, tentu saja terdapat semua unsure wajib yang diperlukan. Selain itu, tidak mustahil ada pula unsure manasuka seperti keterangan tempat, waktu, dan alat. Dengan demikian, kalimat tunggal tidak selalu dalam wujud yang pendek,tetapi juga dapat panjang seperti pada contoh berikut.

 

1. Bacakanlah isi berita tersebut di depan kelas dengan memperhatikan aspek intonasi, lafal, dan sikap.

2. Sebelum memulai pembacaan berita, lakukanlah latihan terlebih dahulu.

3. Pada saat teman Anda membacakan berita, berilah tanggapan dengan mengisi tabel penilaian berikut.

 

Penilaian Pembacaan Berita

Nama Aspek Penilaian
Lafal Tempo Nada Intonasi Sikap

Keterangan:

Skor penilaian antara 6 s.d. 10

4. Cari dan tentukanlah beberapa kalimat tunggal yang ada dalam setiap paragraf dalam teks berita tersebut.

1. Simaklah beberapa pembacaan berita di televisi! Amati intonasi, lafal, dan cara membacanya! Anda akan menemukan berbagai cara pembacaan berita.

2. Coba Anda pelajari salah satu cara membaca berita itu di televisi, yang menurut kelompok Anda merupakan cara membaca berita paling baik!

3. Salah satu anggota kelompok membaca berita di depan kelas! 4. Setiap kelompok saling menilai cara membaca berita dari kelompok lain.

5. Tuliskan teknik membaca berita yang baik menurut kelompok Anda!

MODUL PEMBELAJARAN

Standar Kompetensi 4

Mengungkapkan informasi dalam bentuk  proposal, surat dagang, karangan ilmiah

 

 

Kompetensi Dasar

4.1 Menulis proposal untuk berbagai keperluan

 

Alokasi Waktu

6 jam pelajaran (3 x pertemuan)

Dilaksanakan pada pertemuan ke

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Mengidentifikasi komponen atau unsur-unsur proposal
  • Menulis proposal sesuai dengan keperluan dengan menerapkan kalimat tunggal
  • Membahas proposal dalam kelompok kecil untuk mendapatkan masukan perbaikan.

 

 

 

 

 

 

Proposal dapat didefinisikan sebagai rencana kerja yang disusun secara sistematis dan terinci untuk suatu kegiatan yang bersifat formal.

Unsur-unsur proposal

1. Nama kegiatan (Judul)

Nama kegiatan/judul yang akan dilaksanakan tercermin dalam judul proposal.

 

2. Latar belakang

Latar belakang proposal berisi pokok-pokok pemikiran dan alasan perlunya diadakan kegiatan tertentu.

 

 

 

3. Tujuan kegiatan

Penyusunan proposal harus merumuskan tujuan sedemikian rupa agar target yang akan dicapai dan nilai tambah yang diperoleh dapat dirasakan oleh pembaca proposal. Oleh karena itu, tujuan harus dijabarkan supaya tampak manfaatnya.

4. Tema

Tema adalah hal yang mendasari kegiatan tersebut.

 

5. Sasaran/peserta

Penyusun proposal harus menetapkan secara tegas siapa yang akan dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

 

6. Tempat dan waktu kegiatan

Dalam proposal harus dituliskan secara jelas kapan dan di mana kegiatan akan dilaksanakan.

 

7. Kepanitiaan

Penyelenggara atau susunan panitia harus dicantumkan dalam proposal dan ditulis secara rinci.

 

8. Rencana anggaran kegiatan

Penulis proposal harus menyusun anggaran biaya yang logis dan realistis, serta memperhatikan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.

 

9. Penutup

Perhatikanlah contoh proposal kegiatan berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.  Susunlah sebuah proposal kegiatan lengkap sehubungan dengan rencana kegiatan study tour di sekolah Anda! Rencanakan setiap hal dalam proposal dengan saksama!

2. Bacakan proposal yang sudah dibuat di depan teman-teman Anda!

3. Mintalah teman-teman Anda menanggapi proposal tersebut! Lalu, buat catatan mengenai tanggapan dan penilaian temantemanmu!

4. Perbaiki proposal berdasarkan penilaian dan tanggapan teman-teman Anda!

 

Kompetensi Dasar

4.2     Menulis surat dagang dan surat kuasa

 

Alokasi Waktu

4 jam pelajaran  ( 2 x pertemuan )

Dilaksanakan pada pertemuan ke

 

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Mendaftar jenis surat  niaga
  • Menulis surat perjanjian jual beli dan surat kuasa sesuai dengan keperluan
    • Menjelaskan isi surat perjanjian jual beli dan surat kuasa
    • Memperbaiki  surat perjanjian jual beli dan surat kuasa hasil tulisan teman berdasarkan struktur kalimat dan EYD

 

 

 

 

 

Surat niaga (dagang) adalah surat yang dikeluarkan oleh badanbadan atau perusahaan-perusahaan dalam rangka menjalankan kegiatan usahanya.

 

  1. 1. Surat perjanjian jual beli

Surat perjanjian jual-beli dibuat oleh pihak penjual dan pihak pembeli. Di dalam surat tersebut dinyatakan secara tertulis kesepakatan antara kedua belah pihak. Surat tersebut berisi pernyataan secara tertulis mengenai kesepakatan yang menyatakan bahwa pihak penjual wajib menyerahkan barang dan berhak atas pembayaran barang itu. Sebaliknya, pihak pembeli berhak atas penerimaan barang dan wajib membayar harga barang itu kepada pihak penjual.

Dalam surat perjanjian jual-beli, barang yang dapat diperjanjikan berupa barang bergerak seperti alat-alat perabotan dan kendaraan; dan barang-barang tidak bergerak atau barang tetap, contohnya adalah rumah, gedung, dan tanah.

 

Berikut contoh surat perjanjian jual beli.

Surat Perjanjian Jual-Beli

Yang bertanda tangan di bawah ini,

 

  1. Nama               : Dini Handayani

Alamat            : Jln. Ir. H. Juanda No. 213 Bandung

Pekerjaan         : Pegawai Pemkot Bandung

Selaku pihak kesatu, selanjutnya disebut penjual, dan

 

  1. Nama               : Winda Ratuliu

Alamat                        : Jln. Mengger No.127 Bandung

Pekerjaan         : Wiraswasta

 

Selaku pihak kedua, selanjutnya disebut pembeli, pada hari ini Senin 23 Agustus 2007 telah bermufakat dan menerangkan hal-hal sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasal 1

Penjual menjual rumah yang terletak di Kelurahan Rajawali No. 12, Kecamatan BandungKulon, Kota Bandung, Jawa Barat yang diketahui benar oleh pembeli.

Pasal 2

Dalam jual beli ini termasuk pula penyerahan c.q. penerimaan hak milik penjual atas rumah tersebut dalam Pasal 1.

Pasal 3

Perjanjian jual beli ini disepakati dengan harga Rp80.000.000,00 (delapan puluh juta rupiah). Jumlah tersebut akan dibayarkan secara tunai oleh pembeli kepada penjual pada waktu penandatanganan surat perjanjian ini, dengan tanda terima/kuitansi tersendiri yang disaksikan oleh beberapa orang saksi, dan selanjutnya penjual menyerahkan semua surat rumah kepada pembeli.

Pasal 4

Segala tunggakan pajak dan lain-lain hingga saat ini adalah tanggung jawab penjual.

Pasal 5

Penjual memberi jaminan kepada pembeli, apabila ternyata pada kemudian hari terjadi hal-hal atau gugatan dari pihak lain atas rumah tersebut dalam Pasal 1.

Pasal 6

Pembaliknamaan (persil) yang dipersoalkan dalam perjanjian ini termasuk segala ongkosongkos atau biaya yang diperlukan merupakan beban pembeli.

Pasal 7

Sejauh diperlukan, penjual dengan ini memberi kuasa yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjanjian ini dan dengan hak subtitusi kepada pembeli untuk mengurus perizinan jika ada, c.q. pembaliknamaan yang bersangkutan atas nama penjual.

Pasal 8

Kedua belah pihak berjanji tidak akan membawa atau memperselisihkan ke muka pengadilan sebelum diusahakan sedapat mungkin untuk menyelesaikan perselisihan secara damai.

Pasal Penutup

Perjanjian ini dibuat dan ditandatangani dalam rangkap dua yang dua-duanya mempunyai kekuatan yang sama.

 

Bandung, 23 Agustus 2007

Penjual,                                                                                              Pembeli,

Dini Handayani                                                                                   Winda Ratuliu

 

Saksi-saksi:

  1. Yosep Nababan

2. Yulia Maharani

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Surat Kuasa

Surat kuasa digunakan untuk memberikan wewenang kepada seseorang atau lembaga yang  dipercaya untuk mewakili orang yang bersangkutan dalam melaksanakan suatu tindakan atau mengurus urusan tertentu. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat surat kuasa, yaitu:

- menentukan kegiatan yang akan diberi kuasa;

- memilih orang atau lembaga yang akan diberi kuasa;

- menentukan batas-batas kuasa yang akan dilimpahkan;

- mencantumkan tempat dan tanggal pembuatan surat kuasa;

- menulis surat kuasa di atas kertas segel atau dibubuhi meterai secukupnya;

- memberikan kuasa kepada seseorang yang dapat dipercaya;

- orang yang memberi dan menerima kuasa harus sudah dewasa, serta sehat rohani dan jasmani;

- orang yang memberi dan menerima kuasa harus menandatangani surat tersebut agar surat dianggap sah.

Contoh surat kuasa:

Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)

SMA Permata Ilmu

————————————————————————————-

Surat Kuasa

Nomor: 12/SMA PI/Oktober/2007

 

Pihak yang bertanda tangan berikut ini,

nama          : Winda Ratuliu

jabatan       : Ketua OSIS SMA Permata Ilmu

kelas          : XI/F

memberi kuasa kepada:

nama          : Sigit Armando

jabatan       : Ketua Sie. Dana Usaha OSIS SMA Permata Ilmu

kelas          : XI/A

 

untuk mengambil uang donatur acara kegiatan “Bulan Bahasa SMA Permata Ilmu” di bagian personalia PT Anugerah Lestari.

 

Atas perhatian dan kerja sama Ibu/Bapak, saya mengucapkan terima kasih.

 

Medan, 12 Oktober 2007

Penerima kuasa,                                                                      Pemberi kuasa,

 

 

 

Sigit Armando                                                                        Winda Ratuliu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Buatlah satu macam surat niaga dan surat kuasa.

2. Tukarkanlah hasil tulisan Anda tersebut dengan teman sebangku.

3. Lakukanlah saling koreksi atas surat niaga dan surat kuasa tersebut berdasarkan struktur kalimat dan EYD.

 

Format Penilaian Penulisan Surat

Hal yang Dinilai Penilaian Saran
Baik Cukup Kurang
Sistematika

Kalimat

Struktur

EYD

 

 

 

 

Kompetensi Dasar

4.3 Melengkapi karya tulis dengan daftar pustaka dan catatan kaki

 

Alokasi Waktu

6 jam pelajaran (3 x pertemuan)

Dilaksanakan pada pertemuan ke

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Menentukan topik atau gagasan yang akan dikembangkan dalam karya tulis (berdasarkan pengamatan atau penelitian)
  • Menyusun kerangka karya tulis
  • Mengembangkan kerangka menjadi karya tulis, dengan dilengkapi daftar pustaka dan catatan kaki
  • Menyunting karya tulis yang dilengkapi daftar pustaka dan catatan kaki karya sendiri atau karya teman berdasarkan struktur kalimat dan EyD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menyusun Karya Tulis

Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Yang termasuk karangan ilmiah adalah makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian.

 

Ketentuan Umum

Ketentuan umum yang harus diperhatikan dalam pembuatan karangan ilmiah:

1. Kertas yang digunakan untuk mengetik karangan adalah kertas HVS berukuran kuarto (21,5 x 28 cm). Untuk kulitnya, digunakan kertas yang agak tebal.

2. Pengetikan menggunakan huruf tegak dan jelas (misalnya, Times New Roman) dengan ukuran 12.

3. Menggunakan tinta berwarna hitam.

4. Batas-batas pengetikan:

a. pias atas 4 cm;

b. pias bawah 3 cm;

c. pias kiri 4 cm; dan

d. pias kanan 3 cm.

5. Sistematika karangan ilmiah menggunakan sistematika yang berlaku secara umum.

 

Sistematika Karya Ilmiah

A. Bagian Pembukaan

1. Kulit Luar/Kover dan Halaman Judul

Yang harus dicantumkan pada kulit luar dan halaman judul karangan ilmiah adalah sebagai berikut:

a. Judul karangan ilmiah lengkap dengan anak judul (jika ada)

b. Keperluan Penyusunan

c. Nama Penyusun

d. Nama Lembaga Pendidikan

e. Nama Kota

f. Tahun Penyusunan

 

 

2. Halaman Pengesahan

Dalam halaman ini dicantumkan nama guru pembimbing, kepala sekolah, dan tanggal, bulan, tahun persetujuan.

3. Kata Pengantar

Kata pengantar dibuat untuk memberikan gambaran umum kepada pembaca tentang penulisan karangan ilmiah. Kata pengantar hendaknya singkat tapi jelas. Yang dicantumkan dalam kata pengantar adalah (1) puji syukur kepada Tuhan, (2) keterangan dalam rangka apa karya dibuat, (3) kesulitan/ hambatan yang dihadapi, (4) ucapan terima kasih kepada pihak yang membantu tersusunnya karangan ilmiah, (5) harapan penulis, (6) tempat, tanggal, tahun, dan nama penyusun karangan ilmiah.

4. Daftar Isi

5. Daftar Tabel

Tajuk Daftar Tabel dituliskan dengan huruf kapital semua dan terletak di tengah.

6. Daftar Grafik, Bagan, atau Skema

Pada dasarnya penulisannya hampir sama seperti penulisan Daftar Tabel.

7. Daftar Singkatan

Penulisan sama dengan penulisan Daftar Tabel, Grafik, Bagan, atau Skema.

 

B. Bagian inti

1. Pendahuluan

1.1              Latar Belakang Masalah

Bagian ini memuat alasan penulis mengambil judul itu dan manfaat praktis yang dapat diambil dari karangan ilmiah tersebut. Alasan-alasan ini dituangkan dalam paragraf-paragraf yang dimulai dari hal yang bersifat umum sampai yang bersifat khusus. Misalnya, karangan ilmiah bertema “Tingkat Pencemaran Air di Wilayah Jakarta Barat”.

 

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang timbul akan dibahas dalam bagian pembahasan dan ini ada kaitannya dengan latar belakang masalah yang sudah dibahas sebelumnya. Permasalahan ini dirumuskan dalam kalimat-kalimat pertanyaan.

 

1.3 Tujuan Penulisan

Bagian ini mencantumkan garis besar tujuan pembahasan dengan jelas dan tujuan ini ada kaitannya dengan rumusan masalah dan relevansinya dengan judul. Tujuan boleh lebih dari satu.

 

1.4 Ruang Lingkup (Pembatasan Masalah)

Ruang lingkup ini menjelaskan pembatasan masalah yang dibahas. Pembatasan masalah hendaknya terinci dan istilahistilah yang berhubungan dirumuskan secara tepat. Rumusan ruang lingkup harus sesuai dengan tujuan pembahasan.

 

 

1.5 Landasan Teori/Kerangka Teori

Landasan teori berisi prinsip-prinsip teori yang mempengaruhi dalam pembahasan. Teori ini juga berguna untuk membantu gambaran langkah kerja sehingga membantu penulis dalam membahas masalah yang sedang diteliti.

 

1.6 Hipotesis

Hipotesis merupakan kesimpulan/perkiraan yang dirumuskan dan untuk sementara diterima, serta masih harus dibuktikan kebenarannya dengan data-data otentik yang ada, pada bab-bab berikutnya. Hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan sederhana, serta cukup mencakup masalah yang dibahas.

 

1.7 Sumber Data

Sumber data yang digunakan penulis karangan ilmiah biasanya adalah kepustakaan, tempat kejadian peristiwa (hasil observasi), interview, seminar, diskusi, dan sebagainya.

 

1.8 Metode dan Teknik

a. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah cara mencari data bagi suatu penulisan, ada yang secara deduktif dan atau induktif. Mencari data dapat dilakukan dengan cara studi pustaka, penelitian lapangan, wawancara, seminar, diskusi, dan lain sebagainya.

 

b. Teknik Penelitian

Teknik penelitian yang dapat digunakan ialah teknik wawancara, angket, daftar kuesioner, dan observasi. Semua ini disesuaikan dengan masalah yang dibahas.

 

1.9 Sistematika Penulisan

Sistematika Penulisan adalah suatu tulisan mengenai isi pokok secara garis besar dari bab I sampai bab terakhir atau kesimpulan dari suatu karangan ilmiah.

 

2. Bab Analisis/Bab Pembahasan

Bab ini merupakan bagian pokok dari sebuah karangan ilmiah, yaitu masalah-masalah akan dibahas secara terperinci dan sistematis. Jika bab pembahasan cukup besar, penulisan dapat dijadikan dalam beberapa anak bab.

 

3. Bab Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi kesimpulan yang telah diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan. Kesimpulan adalah gambaran umum seluruh analisis dan relevansinya dengan hipotesis yang sudah dikemukakan. Yang dimaksudkan dengan saran adalah saran penulis tentang metode penelitian lanjutan, penerapan hasil penelitian, atau beberapa saran yang ada relevansinya dengan hambatan yang dialami selama penelitian.

 

 

 

C. Bagian Penutup

Daftar Pustaka

Tajuk daftar pustaka dituliskan dengan huruf kapital semua tanpa diberi tanda baca dan dituliskan di tengah-tengah. Dalam daftar pustaka dicantumkan semua kepustakaan, baik yang dijadikan acuan penyusunan karangan maupun yang dijadikan bahan bacaan, termasuk artikel, makalah, skripsi, disertasi, buku, dan lain-lain Semua acuan dalam daftar pustaka disusun menurut abjad nama pengarang atau lembaga yang menerbitkan. Jadi, daftar pustaka tidak diberi nomor urut. Jika tanpa nama pengarang atau lembaga, yang menjadi dasar urutan adalah judul pustaka.

 

Kutipan, Daftar Pustaka, dan Catatan Kaki

A. Kutipan

Mengutip pendapat atau tulisan seseorang ada ketentuannya dan hal ini sudah dibahas di kelas X. Hal yang perlu diingat adalah sebagai berikut.

a. Kutipan harus sama persis dengan aslinya, baik ejaan, susunan kalimat, dan tanda baca.

b. Kutipan yang panjangnya kurang dari 5 baris diintegrasikan dengan teks, spasi dua, dan dibubuhi tanda kutip.

c. Kutipan yang panjangnya 5 baris atau lebih tidak harus diberi tanda kutip, dipisahkan dari teks utama dengan jarak 2,5 spasi, jarak antarbaris satu spasi, serta seluruh kutipan diketik ke dalam 5—7 ketikan.

d. Bila ada bagian yang dihapus, bagian ini diberi tanda titik-titik tiga buah.

e. Tiap kutipan diberi nomor pada akhir kutipan dan penulisannya setengah spasi ke atas.

 

B. Daftar Pustaka

Daftar pustaka dikenal juga sebagai referensi, bibliografi, sumber acuan, atau sumber rujukan. Daftar pustaka adalah susunan sumber informasi yang umumnya berasal dari sumber tertulis berupa buku-buku, makalah, karangan di surat kabar, majalah, dan sejenisnya. Semua sumber bacaan itu berhubungan erat dengan karangan yang ditulis.

Daftar pustaka ditempatkan pada bagian akhir karangan dan ditulis pada halaman tersendiri. Daftar pustaka disusun berdasarkan urutan abjad nama penulis (alfabetis) dan tidak menggunakan nomor urut.

 

Ketentuan penulisannya sebagai berikut.

a. Buku

1) Jika penulisnya satu orang, penulisan nama belakang penulisnya (jika terdiri atas dua kata atau lebih) dipindahkan ke depan. Misalnya, Yogi Yogaswara menjadi Yogaswara, Yogi.

Contoh:

Yogaswara, Yogi. 2000. Teknik Menulis Cerita Anak. Bandung: CV Aneka.

 

 

 

 

2) Jika penulisnya dua atau tiga orang, nama penulis pertama ditulis terbalik, sedangkan yang lainnya tetap. Contoh:

Warsidi, Edi dan Eriyandi Budiman. 1999. Teknik Menulis Naskah Film untuk Anak-Anak. Bandung: Katarsis.

 

 

 

 

 

 

3) Jika penulisnya lebih dari tiga orang, hanya satu orang yang dituliskan, kemudian ditambah keterangan dkk. (dan kawan-kawan). Contoh:

Sugono, Dendy dkk. 2003. Kamus Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Jakarta: Gramedia.

 

 

 

 

 

 

4) Jika beberapa buku dari penulis yang sama kita rujuk, urutan daftar pustaka tidak mengulang nama penulisnya. Pada urutan kedua dan selanjutnya, nama penulis diganti dengan garis delapan ketukan. Contoh:

Ismail, Taufiq (ed.) dkk, 2002. Horison Sastra Indonesia 1, Kitab Puisi. Jakarta: Horison & The Ford Foundation.

––––––––, 2002. Horison Sastra Indonesia 2: Kitab Cerpen. Jakarta: Horison & The Ford Foundation.

 

 

 

 

 

 

 

 

5) Jika tahun terbit tidak dicantumkan, tahun terbitnya diganti dengan tulisan tanpa tahun (tt). Contoh:

Maulana, Dodi. tanpa tahun. Beternak Unggas. Bandung: CV Permata.

 

 

 

 

 

b. Surat Kabar

1) Jika berupa berita, urutannya yaitu nama koran (dicetak miring) dan penanggalan. Contoh:

Kompas (harian). Jakarta, 20 Februari 2005.

Kedaulatan Rakyat (harian). Yogyakarta, 15 Maret 2005.

 

 

 

 

 

2) Jika berupa artikel urutannya yaitu nama penulis (seperti pada buku), tahun terbit, judul artikel (diapit tanda petik dua), nama koran, tanggal terbit. Contoh:

Saptaatmaja, Tom S. 2005. “Imlek, Momentum Untuk Rekonsiliasi.” Koran Tempo, 11 Maret 2005.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c. Majalah

Sama dengan surat kabar, tetapi di belakang nama majalah ditambahkan nomor edisi. Contoh:

Kleiden, Ignas. 2005. “Politik Perubahan Tanpa Perubahan Politik.” Tempo No. 50 tahun XXXIII.

 

 

 

 

 

d. Lembaran Kerja dari Lembaga Tertentu

Contoh:

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Pedoman Surat Dinas. Jakarta: P3B.

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

e. Makalah yang Tidak Diterbitkan

Setelah kota tempat penulisan, tidak terdapat nama penerbit. Contoh:

M.I. Sulaeman. (1985). Suatu Upaya Pendekatan Fenomenologis Situasi Kehidupan dan Pendidikan dalam Keluarga dan

Sekolah. Disertasi Doktor FPS, IKIP Bandung: tidak diterbitkan.

 

 

 

 

 

 

Berikut ini contoh daftar pustaka yang ada dalam sebuah buku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C. Catatan Kaki

Karya tulis ilmiah membutuhkan dokumentasi untuk memudahkan penulis menyatakan serta mengakui jasa para penulis lainnya. Selain itu, dokumentasi ini bertujuan agar para pembaca menguji atau memeriksa sumber informasi. Dokumentasi ini biasanya berbentuk catatan kaki. Walaupun suatu catatan kaki dapat saja menambahi komentar dan penjelasan, haruslah kita ingat benar-benar bahwa fungsi utamanya adalah memberikan informasi mengenai suatu sumber. Berikut ini contoh catatan kaki. Lihatlah penempatannya dalam halaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika bahan tulisan diambil dari sebuah buku, ikutilah bentuk berikut.

a. Buku

(1) Data pengarang

Nama pertama, nama tengah, nama akhir, koma.

(2) Data buku

Judul buku digarisbawahi (dicetak miring), tanda kurung buka,

tempat penerbitan, titik dua, penerbit, koma, tahun penerbitan,

tanda kurung tutup, koma.

(3) Data halaman

Ringkasan p. atau pp., angka, titik.

Contoh:

1Erich Fromm, The Art of Loving (New York: Harper & Row, 1956), p. 23.

 

Haruslah diperhatikan benar-benar bahwa tidak ada tanda baca mendahului tanda kurung buka, tetapi terdapat koma setelah tanda kurung tutup. Seperti juga halnya dengan kalimat, catatan kaki mulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik.

b. Artikel

(1) Data pengarang

Nama pertama, nama tengah, nama akhir, koma.

(2) Data artikel/publikasi

Tanda kutip buka, judul artikel, koma, tanda kutip tutup, judul penerbitan digarisbawahi, koma, hari, bulan (disingkat kalau lebih dari lima huruf), koma, tahun, koma.

(3) Data halaman

Singkatan p. atau pp., angka, titik.

Contoh:

2Stuart Baur, “First Message from the Planet of the Apes”, New Yorker, 24 Feb. 1975, pp. 30—37.

 

Perlu dicatat bahwa dalam catatan kaki tersebut dipakai bentuk penanggalan militer; urutannya adalah haribulantahun, bukan urutan bulanharitahun seperti yang biasa dipergunakan masyarakat umum. Juga, pada data tersebut tidak dicantumkan nomor jilid karena majalah-majalah populer diterbitkan berdasarkan tahun kalender dan dijilid di perpustakaan berdasarkan hal itu. Berikut ini beberapa contoh bagi sumber-sumber lainnya yang mungkin kita temui.

a. Artikel dalam Koran

3“College Hunt”, New York Times, 11 May 1975, p.29, col. 1.

 

 

 

 

(Catatan: tidak ada pengarang; col = kolom).

4Mitchell C. Lynch, “Shaking up the G-Men”, Wall Street Journal, 15 May 1975, p.14, cols. 4-6.

 

 

b. Artikel dalam Jurnal

6Zellig S. Harris, “Discourse Analysis”, in The Structure of Language, eds Jerry A. Fodor and Jerrold J. Katz (Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall, 1964), pp. 355–83.

 

 

 

 

 

(Catatan: eds = editors; karena Englewood Cliffs tidak begitu terkenal, diikuti oleh singkatan negara bagian).

 

d. Artikel dalam Majalah Mingguan

7Roger Angell “The Sporting Scence (Baseball)”, New Yorker,14 April 1975, pp. 90–95).

 

8“Year of the Ear”, Newsweek, 19 May 1975, p.93.

 

 

 

 

 

 

(Catatan: Pengarang tidak disebut).

 

e. Artikel dalam Majalah Bulanan

9Betsy Langman and Alexander Cockburn, “Sirhan’s Gun”. Harper’s, Jan. 1975, pp. 16–27

 

 

(Catatan: Pengarang dua orang).

f. Buku Lebih dari Satu Edisi

10Hans P. Guth, Words and Ideas, 3 rded. (Belmont, Calif.: Wadsworth, 1969), pp. 326–36.

 

Buku, edisi suntingan:

 

11William Makepeac Thackeray, Vanity Fair: A Novel Without a Hero, eds. Geoffrey and Kathleen Tellotson (Boston: Houghton Mifflin, 1963), p. 89.

 

 

 

g. Buku Terjemahan

12Miguel de Cervantes, Don Quixote, trans. J.M. Cohen (Harmondsworth, Middlesex: Penguin Books, 1950), p. 916.

 

 

h. Buku, Pengarang Dua Orang

13Christopher Jencks and David Riesman, The Academic Revolution (New York: Doubleday, 1968), pp. 55–59.

 

 

i. Laporan Komisi

14U.S. Commission on Civil Rights, The Exluded Student: Educational Practics Affecting Mexican-Americans in the Southwest, Report III (Washington, D.C.: U.S. Gouvernment Printing Office, 1973), p. 54.

 

 

j. Esai dalam Karya-Karya Kumpulan

15Ralph Waldo Emerson, “Literary Ethics”, in Works, ed. James Elliot Calot, 12 vols. (Boston: Houhton Mifflin, 1883–93), IV, 171.

 

 

 

 

(Catatan: Keduabelas jilid tersebut diterbitkan selama tahun tersebut, antara 1883–1893.

Esai yang dimaksud dalam catatan kaki nomor 15 ini termuat dalam jilid empat (yang ditulis dengan angka Romawi); penunjukan pada halaman 171 (yang ditulis dengan angka Arab) jilid tersebut. (Adelstein and Pival, 1976 : 553–55).

 

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan mengenai bentuk catatan kaki ini adalah sebagai berikut.

a. Nomor

Nomor mengikuti bahan yang dikutip, yang diacu atau yang dikomentari. Nomor itu ditempatkan agak ke atas baris, di belakang semua tanda baca, kecuali garis pisah. Catatan kaki haruslah diberi nomor secara berurutan dalam seluruh karya tersebut.

 

b. Penempatan

Catatan kaki ditulis di bawah garis pada bagian bawah halaman. Setiap catatan kaki diperlakukan sebagai suatu paragraf terpisah, dimasukkan 5 spasi diawali dengan nomor yang bersangkutan (sedikit berada di atas garis), diikuti oleh catatan yang berspasi tunggal, dan diakhiri dengan titik. Jika catatan kaki ditempatkan pada akhir karya tulis, haruslah ditempatkan pada halaman khusus (halaman terpisah). Jarak antara catatan kaki dan catatan kaki lainnya biasanya dua spasi (atau spasi ganda).

c. Kapitalisasi dalam Judul

Seperti yang telah kita ketahui, huruf pertama pada kata-kata judul hendaklah ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata-kata tugas (kata depan dan kata sambung).

 

d. Judul, Tanda Kutip, dan Huruf Miring

Semua judul mengikuti peraturan yang sama seperti pada bibliografi: judul buku, judul majalah, harian, atau ensiklopedi digarisbawahi atau dicetak dengan huruf miring; judul artikel ditempatkan dalam tanda kutip.

 

e. Referensi Kedua atau Belakangan

Kalau kita telah menyajikan semua informasi yang dibutuhkan dalam catatan kaki yang pertama bagi suatu sumber, demi kepraktisan tidak perlu lagi kita ulangi seperti catatan kaki yang pertama itu. Cukup kalau kita menulis nama akhir pengarang dan nomor halaman saja, contoh: (Tarigan, p. 17). Kalau kebetulan ada dua pengarang yang mempunyai nama akhir yang sama, kita harus menulis nama mereka secara utuh (Henry Guntur Tarigan, p. 17); dan kalau ternyata pengarang tersebut telah menulis dua atau lebih karya, maka sebaiknya kita mencantumkan nama akhir dan singkatan judul karyanya, contoh: (Tarigan, Membaca, p. 27). Sebagai bentuk pilihan, pada penyebutan kedua dan seterusnya atas sumber yang sama, judul buku dan sebagainya tidak perlu disebut lagi, dan digantikan dengan singkatan: ibid, op.cit, loc.cit.

 

 

 

1. Bentuklah kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang.

2. Tentukanlah topik atau gagasan yang akan dikembangkan menjadi karya tulis

3. Buatlah kerangka karangan berdasarkan topik tersebut

4. Kembangkanlah kerangka karangan tersebut menjadi sebuah karya tulis ilmiah

5. Lengkapilah karya tulis tersebut dengan kutipan, daftar pustaka, dan catatan kaki.

MODUL PEMBELAJARAN

Standar Kompetensi 5

Memahami pementasan drama

 

Kompetensi Dasar

Menganalisis  pementasan drama berdasarkan  teknik pementasan

 

Alokasi Waktu

2 jam pelajaran (1 x pertemuan)

Dilaksanakan pada pertemuan ke

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Menentukan tokoh dan perannya
  • Menentukan konflik dengan menunjukkan data yang mendukung
  • Menentukan latar
  • Menentukan tema dengan alasan
  • Menentukan pesan dengan data yaang mendukung
  • Mengaitkan isi drama dengan kehidupan sehari-hari

 

 

 

 

 

 

1. Drama

Gerak merupakan unsur penting dalam permainan drama. Terkadang pemain beranggapan hanya melafalkan dialog, setelah itu membisu dan mematung sampai giliran berdialog datang lagi.

Gerak dibedakan atas tiga, yaitu:

1. Gerakan perpindahan (movement)

2. Gerakan anggota tubuh (gesture)

3. Gerakan kesibukan (business)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan gerakan:

  1. Semua gerakan harus didasarkan atas suatu motivasi dan tujuan membangun dan mempertegas karakter tokoh yang diperankan dan mempersiapkan gerakan berikutnya.
  2. Tidak overacting, setiap gerakan harus dilakukan dengan porsi yang wajar sesuai dengan motif tujuan. Tidak semua dialog perlu diiringi dengan gerak karena  akan menimbulkan kesan ramai.
  3. Gerakan-gerakan kecil yang bermakna perlu dilakukan seperti mengangkat bahu, mengernyitkan dahi dan dilakukan dengan luwes dan pada waktu yang tepat.
  4. Saat tidak berdialog  pemain bisa melakukan kesibukan untuk membuat actingnya lebih hidup.
  5. Wajah adlah pusat ekspresi dan harus terlihat oleh penonton, jangan membelakangi penonton saat melakukan dialog.

 

Tata busana juga memiliki fungsi yang sama dengan tata hias

  1. Membantu mengidentifikasi.
  2. Membantu visualisasi peran, menunjukkan asal-usul dan status sosial tokoh yang diperankan.
  3. Menunjukkan waktu peristiwa itu terjadi.
  4. Mengekspresikan usia orang itu.
  5. Membantu gerak-gerik aktor di pentas.

 

Panggung ibarat sebuah kanvas dan harus didasari oleh seluruh pemain, pemain harus tahu batas-batas maya area panggung dan dapat menempatkan diri yang tepat, pemain harus memperhatikan komposisi baik pemain, peralatan dan kelompok.

 

2. Penokohan

Penokohan berkaitan dengan bagaimana sifat-sifat tokoh itu digambarkan dalam cerita tersebut oleh pengarang. Dengan menggambarkan tokoh dalam suatu cerita dapat digunakan dua metode yaitu metode analitik dan dramatik.

a. Metode analitik

Pengarang secara langsung memaparkan watak tokoh denan jalan menyebutkan sifat-sifat atau tokoh-tokohnya. Misalnya: keras hati, keras kepala, sombong, pemalu, rendah hati, pengiba.

Contoh:

Ki Sardodoh, mulanya seorang pengguna di Kadipaten. Seorang lelaki yang gagah dan sakti, tetapi justru karena kesaktiannya itulah ia menjadi kesurigaan dengan adipati yang selalu membayangkan suatu saat Ki Sardodoh akan mendorong kewibawaannya.

Dari kutipan cerpen tersebut, tokoh Ki Sardodoh, sifat-sifatnya digambarkan secara langsung oleh pengarang yaitu seorang laki-laki yang mempunyai sifat gagah dan berani.

b. Metode dramatik

Penggambaran watak tokoh yang tidak diceritakan secara langsung pengarang, tetapi disampaikan melalui hal-hal berikut.

Pilihan nama

Contoh:

Saya juga mengurangi nongkrong di warung Pak Mbedol lebih baik duduk di rumah, meski saya justru kian merasa gelisah karena jadi kepikiran nasib Kang Kurta…

Melalui pilihan nama Pak Mbedol dapat diketahui bahwa tokoh tersebut adalah sebagai orang desa yang sederhana, bukan pejabat demikian juga nama Kang Kurta. Melalui kedua tokoh tersebut pilihan namanya dapat diketahui bahwa mereka berasal dari salah satu suku dengan kehidupan yang sederhana…

 

Penggambaran fisik (misalnya cara berpakaian, postur tubuh, reaksi antar tokoh)

contoh:

Ia menyambar jaket dari cantelan. Memasang sepatu, menyelipkan celurit, wajah berjambang, bibir biru.

Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa tokoh di atas bersifat jahat.

 

Penggambaran melalui cakapan (baik dialog maupun monolog)

Contoh:

“ Oo, kau marah, Pak Tua? Ah, sudah tua suka marah-marah!”

“Huss! Apakah kau anggap aku ini pak tuamu?’

“Aku bukan kangmasmu!” bentak kakek-kakek itu lagi.

“Oo, iya! Tentunya aku harus memanggilmu mbah, ya! Aku lupa, sungguh. Tapi sebetulnya awal tadi telah aku ingatkan jika aku bersalah. Siapa bersalah wajib diingatkan. Jika tidak demikian? Coba gambarkan, betapa banyak kesalahan yang akan kuperbuat selanjutnya.”

Kakek itu tertunduk. Wajahnya berubah terang. Lalu bicara dengan suara yang tak berdaya. “Betulkah bicaramu? Aku sudah tampak sangat tua?”

“Mengapa?”

“Pantas kau panggil mbah?”

“Hi-hi-hi! Pertanyaanmu itu! Kau sekarang kentara sekali merasa sedih! Mengapa? Apakah karena umurmu yang lanjut, apa karena tidak tahu bahwa kau sudah tua?”

“Jangan bersenda gurau, Kenes, aku betul-betul bertanya!”

 

Dari percakapan di atas, jelas bahwa kakek mempunyai sifat mudah marah, tidak menyadari usianya.

Tokoh dalam sebua cerita dapat dibagi tiga:

  1. tokoh protagonis, merupakan tokoh yang berwatak baik, tokoh utama dalam cerita.
  2. tokoh antagonis, merupakan yang berwatak jahat.
  3. tokoh tritagonis, merupakan tokoh penengah, pelerai.

 

 

 

 

 

Pilihlah satu jawaban yang kamu anggap benar untuk pertanyaan berikut ini.

1. Di bawah ini merupakan gerakan yang terdapat dalam drama, kecuali….

a. gerakan perpindahan (movement)

b. gerakan anggota tubuh (gesture)

c. gerakan fisik

d. gerakan kesibukan (business)

e. gerakan ekspresi

 

2. Yang tidak termasuk fungsi ucapan adalah….

a. untuk menyampaikan informasi tentang sifat dan perasaan tokoh

b. untuk melakukan ucapan tidak perlu keras dan dapat didengar dengan  jelas

c. pemain bisa mengatur dan mengendalika pernafasan

d. pemain harus memperhatikan tingkah laku

e. kata-kata yang dilafalkan tepat akan terdengar jelas perbedaan bunyinya

 

3. Penggunaan tata lampu dalam drama adalah….

a. sebagai penerang di panggung waktu acara berlangsung

b. memberikan efek alamiah

c. memberi variasi

d. mengembangkan maksud dengan memperkuat kejiwaan

e. semuanya benar

 

4. Fungsi tata busana dalam drama adalah….

a. menunjukkan waktu peristiwa

b. mengekspresikan usia tokoh

c. membantu gerak-gerik aktor di pentas

d. membantu mengidentifikasi

e. terjadinya konflik

 

MODUL PEMBELAJARAN

Standar Kompetensi 6

Memerankan tokoh dalam pementasan drama

 

 

 

Kompetensi Dasar

Menyampaikan dialog disertai gerak-gerik dan mimik, sesuai dengan watak tokoh

 

Alokasi Waktu

6 jam pelajaran (3 x pertemuan)

Dilaksanakan pada pertemuan ke

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Memerankan drama disertai gerak-gerik yang tepat
  • Memmerankan drama dengan lafal,  intonasi, nada yang jelas
  • Mengekspresikan watak  tokoh dengan mimik yang tepat

 

 

 

 

 

 

Sebagai karya sastra, naskah drama adalah karya seni dengan media bahasa kata. Drama adalah semua bentuk tontonan yang mengandung cerita yang dipertunjukkan di depan orang banyak dan mengangkat kisah hidup manusia dalam masyarakat yang diproyeksikan ke atas panggung.

Untuk dapat membawakan dialog drama dengan baik, pelaku harus dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.

  1. Mengucapkan dialog dengan lafal yang jelas
  2. Membaca dialog dengan memperhatikan volume suara
  3. Membaca dialog dengan tekanan yang tepat

Agar dapat memerankan pelaku dengan baik, beberapa hal yang harus diperhatikan.

1. Konsentrasi atau pemusatan perhatian

2. Ingatan emosi

3. Laku dramatis

4. Pembangunan watak

5. Observasi atau pengamatannya terhadap aspek kehidupan dalam naskah drama

6. Irama

 

Pada pementasan drama, selain para pemain masih ada unsur uang terlibat, seperti sutradara, tata musik, tata panggung, dan tata busana (kostum).

1. Latihan Dasar

Karya seni sang aktor diciptakan melalui tubuh, suara, dan jiwanya sendiri. Hasilnya berupa peragaan cerita yang ditampilkan di depan penonton. Oleh karena itu, seorang aktor yang baik adalah seorang seniman yang mampu memanfaatkan potensi dirinya. Potensi diri itu dapat diperinci menjadi: potensi tubuh, potensi  dria, potensi akal, potensi hati, potensi imajinasi, potensi vokal, dan potensi jiwa. Kemampuan memanfaatkan potensi diri itu tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dengan giat berlatih. Pelatihan dasar berikut ini dapat dilakukan oleh calon aktor.

a. Potensi Tubuh

Tubuh harus bagus dan menarik. Arti bagus dan menarik di sini bukan wajah harus tampan atau cantik. Hal yang dimaksud adalah tubuh harus lentur, sanggup memainkan semua peran, dan mudah diarahkan. Latihan dasar untuk melenturkan tubuh, antara lain sebagai berikut.

  1. Latihan tari supaya aktor mengenal gerak berirama dan dapat mengatur waktu.
  2. Latihan samadi supaya aktor mengenal lebih dalam artinya diam; merenung secara insani.
  3. Latihan silat supaya aktor mengenal diri dan percaya diri.
  4. Latihan anggar untuk mengenal arti semangat.
  5. Latihan renang agar aktor mengenal pengaturan napas.

b. Potensi Dria

Dria adalah semua pancaindra: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan pengecap. Semua perlu dilatih satu per satu supaya peka. Cara melatihnya, melalui dria ganda. Artinya, suatu pengindraan disertai pengindraan yang lain. Misalnya, melihat sambil mendengarkan.

c. Potensi Akal

Seorang aktor harus cerdik dan tangkas. Kecerdikan dan ketangkasan itu dapat dipunyai kalau ia terbiasa menggunakan akal, antara lain dengan kegiatan membaca dan berolahraga. Tentu saja olahraga yang dimaksud adalah olahraga yang berhubungan dengan pikiran seperti catur, halma, bridge, atau teka-teki silang.

d. Potensi Hati

Hati merupakan landasan perasaan. Perasaan manusia amat beragam dan silih berganti. Kadang-kadang senang dan tertawa, kadangkadang sedih dan meratap. Semua berurusan dengan hati. Oleh karena itu, melatih hati sebenarnya melatih kepekaan perasaan. Jika perasaan seseorang peka, ia dapat merasakan apa yang datang dalam suasana batinnya dengan cepat dan dengan cepat pula ia dapat memberikan reaksi.

e. Potensi Imajinasi

Akting baru mungkin terjadi apabila dalam hati ada kehendak. Kehendak (niat) itu harus dilengkapi imajinasi (membayangkan sesuatu). Menyuburkan imajinasi dalam diri dapat dilakukan dengan sering mengapresiasi puisi dan mengapresiasi lukisan.

f. Potensi Vokal

Aktor mengucapkan kata-kata yang dirakit menjadi kalimatkalimat untuk mengutarakan perasaan dan pikirannya.  Kata-kata diucapkan dengan mulut. Jadi, mulut menghasilkan suara. Suara dari mulut yang membunyikan kata-kata itu  disebut vokal. Aktor harus mempunyai vokal kuat agar kata-kata yang diucapkan jelas. Latihan dasar untuk menguatkan vokal antara lain dengan deklamasi dan menyanyi.

g. Potensi Jiwa

Seorang aktor harus mampu memerankan tokoh dengan penjiwaan. Artinya, ia harus berusaha agar jiwanya melebur dalam tokoh yang diperankan. Penjiwaan ini dapat dibangkitkan lewat pengalaman dan pengamatan. Misalnya, seorang tokoh dapat memerankan tokoh sedih atau menangis tersedu-sedu dengan penuh penghayatan karena dia berpengalaman merasakan sedih atau pernah mengamati orang bersedih. Oleh karena itu, sebaiknya aktor banyak melakukan pengamatan masalah kehidupan untuk menambah pengalaman.

  1. Buatlah kelompok secara berpasangan (laki-laki dan perempuan).
  2. Perankanlah penggalan naskah drama berikut disertai gerak-gerik dan mimik sesuai dengan watak tokoh.

 

Tumbang

Karya Trisno Sumardjo

Perempuan    : Hantu?

Lelaki             : (bangkit, memegang bahu perempuan itu dan melepaskannyalagi) Tidak, tidak, kau bukan hantu. Cumaaku, aku saja.

Perempuan    : Apa maksudmu?

Lelaki             : (ketawa kecil). Ah, tidak apa-apa Tidak apa-apa, Dik.

Perempuan    : Kau tidak senang melihat aku?

Lelaki             : Bukan begitu. Aku senang kau datang kemari. Mana tempatmu?

Perempuan    : Tempatku jauh….

Lelaki             : Jauh? Di…. di sana? (menuding ke atas). Berapa kali bumi ini jauhnya?

Perempuan    : (tercengang) Mas.Omongmu tidak karuan!

Lelaki             : Di neraka atau di sorga?

Perempuan    : (marah) Rupanya kau sudah menjadi gila! Neraka atau sorga, katamu? Di sorga tak mungkin. Sebab kaulah yang menghalang-halangi aku untuk pergi ke situ kelak. Kaulah yang menyeret aku ke neraka!

Lelaki             : Benar…. benar, Dik. (berjalan ke kursi, duduk, matanya nanar memandang ke satu jurusan).

Perempuan    : Bukankah salahmu melulu, bahwa penghidupan kita ibarat neraka? Sehingga aku lari dari padamu, setahun yang lalu?

Lelaki             : (bertopang dagu) Ya, ya Dik. Maaf, maaflah.

Perempuan    : (lunak kembali) Mas, bukan maksudku untuk membalas dendam.

Lelaki             : (mengangguk) Kutahu, Dik, kutahu baik hatimu. Semuanya ini salahku. Penderitaan orangtuaku. Sengsaramu. Semua aku yang menyebabkannya. Aku penjudi, peminum, penjahat, duh! Cinta kasih orang tua dan cinta kasihmu, betapa aku membalasnya? Harta benda orang tua habis lenyap karena aku. Habis dengan judi dan minum. Kusakitkan hati ayahku, kusedihkan ibuku. Dan kau Dik, (Memandang perempuan muda. itu) betapa aku membalas kebaikanmu? Dengan malas, dengan minum, brendi berbotol-botol yang kubeli dengan uangmu! Kau yang selalu kerja keras, aku yang menghabiskan uangmu, aku yang menyayat hatimu, menyiksa jiwamu! Maaf, maaf, Dik!

Perempuan    : Biarlah, itu sudah lampau. Sekarang aku sudah bisa mendapat mata pencaharianku sendiri. Tapi kau sendiri? (melihat di sekitarnya). Kau kekurangan segalanya, Mas.

Lelaki             : Hukumanku, Dik, biarlah. Ini sudah setimpal.

Perempuan    : Kalau mau, aku bisa menolong….. (membuka tasnya).

Lelaki             : (cepat) Ah tidak! Tidak. Terima kasih, Dik.

Perempuan    :Tak usah malu-malu, Mas. Kuberikan dengan relahati.

Lelaki             : Aku tahu, aku tahu! Tapi jangan, jangan aku kauberi apa-apa. Ah, kalau kupikir bahwa kau mau menolong aku, kau yang kujerumuskan ke jurang kemiskinan dan kehinaan! Segala kesabaranmu, kerelaan dan cintamu, kubalas dengan apa? Dengan muka masam, kekasaran dan penghinaan. Ah, betapa sering kuhina kau, Dik? Betapa sering kulemparkan cacian ke mukamu bahwa kau berasal dari kaum rendah, tak pantas bersama aku, sebab aku seorang bangsawan? -Bangsawan, ha, ha! Apa artinya turunan bangsawan, jika tidak disertai kebangsawanan jiwa? O, orang yang buta tuli seperti aku ini! Picik dengan persangkaanku bahwa orang berbangsa lebih dari orang lain, mesti di atas orang biasa. Picik, pandir, dan gila! Sedangkan kau, Dik, seribu kali kau lebih bangsawan daripada aku!

Perempuan    : Sudahlah. Jangan kau siksa dirimu dengan sesalan saja. Sekarang kau sudah insaf. Tutuplah riwayat yang dulu-dulu.

Lelaki             : Riwayat yang dulu masih berakibat sampai sekarang. Hanya kepahitan sajalah yang kau terima dari aku. Segala kenikmatan hidup sudah kurenggut, kuhela, kucuri dari padamu, Dik. Tak pernah ada yang kuberi padamu….O. Keangkuhan darah bangsawan yang tak mau campur dengan darah murba, karena itu dianggapnya rendah, kotor. Tapi siapakah yang kotor, Dik? Aku, aku sendiri! Dan kaulah yang murni! Meskipun karena kemiskinanmu engkau menjadi ….. Dik, kau masih menjalankan pekerjaan yang…. yang…..?

Perempuan    : Ya, Mas, yang hina, yang sangat hina, katakan sajalah. (air matanya berlinang-linang)

Lelaki             : (berdiri) Aku yang salah, Dik! Cintamu yang murni itu bahkan mau kauberikan kepada aku yang kotor ini, tapi kau kuinjak-injak, kuhina, kurusak, sehingga… sehingga kau terpaksa pergi menjual cintamu… Demi Allah- Allah yang tak pernah kusebut dulu, kini kusebut, Dik- (memegang tangan perempuan itu kedua-duanya dengan kedua belah tangannya, berlutut), demi Allah, ampunilah aku. Maaf, maaf, Dik!

Perempuan    : (air matanya meleleh) Cukup, cukuplah, Mas.

Lelaki             : Kau ampuni aku, Dik? Katakan….!

Perempuan    : Ya, ya Mas, berdirilah.

Lelaki             : Katakan! Kumau dengar perkataan maafmu.

Perempuan    : Kumaafkan engkau, Mas, sudahlah. (berdiri)

Sumber: Horison, Kitab Nukilan Drama

3. Selama pasangan lain memerankan penggalan drama tersebut, lakukanlah penilaian dengan format berikut.

Nama Pemeran:

1. ……………

2. …………..

Unsur Penilaian Skor Nilai
a. Gerak-gerik

b. Mimik

c. Lafal dan intonasi dialog

d. Penghayatan peran

0-4

0-2

0-2

0-2

Jumlah Nilai

MODUL PEMBELAJARAN

Standar Kompetensi 7

Memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/novel terjemahan

 

 

Kompetensi Dasar

7.1 Menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat

Alokasi Waktu :

4        jam pelajaran  ( 2 x pertemuan )

Dilaksanakan pada pertemuan ke 9 dan 10.

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Mengindentifikasi ciri hikayat sebagai bentuk karya sastra lama
  • Menemukan unsur-unsur intrinsik (alur, tema, penokohan, sudut pandang, latar, dan amanat) dalam hikayat
  • Menceritakan kembali isi hikayat dengan bahasa sendiri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hikayat adalah karya sastra Melayu lama berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, silsilah raja-raja, agama, sejarah, biografi, atau gabungan dari semuanya. Pada zaman dahulu, hikayat dibaca untuk melipur lara, membangkitkan semangat juang, atau sekadar meramaikan pesta.

ebagai prosa lama, hikayat memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan prosa baru atau prosa modern, di antaranya:

1. isi ceritanya berkisar pada tokoh raja dan keluarganya (istana sentris);

2. bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika tersendiri yang tidak sama dengan logika umum, ada juga yang menyebutnya fantastis;

3. mempergunakan banyak kata arkais (klise). Misalnya, hatta, syahdan, sahibul hikayat, menurut empunya cerita, konon, dan tersebutlah perkataan;

4. nama pengarang biasanya tidak disebutkan (anonim).

 

Tema dominan dalam hikayat adalah petualangan. Biasanya, di akhir kisah, tokoh  tamanya berhasil menjadi raja atau orang yang mulia. Oleh karena itu, alurnya pun cenderung monoton. Penokohan dalam hikayat bersifat hitam putih. Artinya, tokoh yang baik biasanya selalu baik dari awal hingga akhir kisah. Ia pun dilengkapi dengan wajah dan tubuh yang sempurna. Begitu pula sebaliknya, tokoh jahat selalu jahat walaupun tidak semuanya berwajah buruk.

Contoh-contoh hikayat di antaranya “Hikayat Bayan Budiman”, “Hikayat Hang Tuah”. “Hikayat Raja-Raja Pasai”, “Hikayat Panji Semirang”, serta “Hikayat Kalila dan Dimna”. Berikut disajikan contoh teks hikayat, bacalah dengan saksama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Bacalah isi naskah hikayat di atas dengan baik.

2. Analisislah hal-hal yang berhubungan dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik naskah hikayat tersebut.

3. Catatlah kata-kata yang mungkin dianggap sulit atau kurang umum.

4. Kemukakanlah hasil analisis Anda tersebut bersama teman-teman.

5. Diskusikanlah unsur intrinsik dan ekstrinsik naskah hikayat tersebut.

6. Ceritakanlah kembali isi hikayat tersebut dengan menggunakan bahasa Anda sendiri. Lalu, carilah artinya di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kompetensi Dasar

7.2 Menganalisis unsur-unsur intrinsik  dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan

Alokasi Waktu :

4 jam pelajaran  ( 2 x pertemuan )

Dilaksanakan pada pertemuan ke 9 dan 10.

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Menceritakan isi novel terjemahan dan  novel Indonesia
  • Mendiskusikan nilai-nilai yang ada dalam novel terjemahan
  • Membandingkan nilai-nilai (budya, moral, agama, daan lain-lain) dalam novel terjemahan dengan novel Indonesia
  • Mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan kehidupan sehari-hari

 

 

 

 

 

Kelebihan novel yang khas terletak pada kemampuan menyampaikan permasalahan yang kompleks secara penuh. Hal itu berarti, menganalisis novel menjadi lebih mudah, sekaligus lebih sulit daripada menganalisis cerpen. Ia lebih mudah karena tidak menuntut kita memahami masalah yang kompleks dalam waktu sedikit. Sebaliknya, ia lebih sulit karena berupa penulisan dalam skala yang besar yang berisi unit organisasi atau bangunan yang lebih besar daripada cerpen. Hal yang dimaksud dipaparkan berikut ini.

1. Latar

Pelukisan latar novel dapat saja melukiskan keadaan latar secara terperinci sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, konkret, dan pasti. Walaupun demikian, cerita yang baik hanya akan melukiskan detail-detail tertentu yang dipandang perlu.

2. Penokohan

Tokoh-tokoh cerita novel biasanya ditampilkan secara lebih lengkap, misalnya yang berhubungan dengan ciri-ciri fisik, tingkah laku, sifat dan kebiasaan, serta hubungan antartokoh, baik yang dilukiskan secara langsung maupun tak langsung. Semua itu, tentu saja akan memberi gambaran yang lebih jelas dan konkret mengenai keadaan para tokoh. Itulah sebabnya tokoh-tokoh cerita novel dapat lebih mengesankan.

3. Alur

Berhubung ketidakterikatan pada panjang cerita yang memberi kebebasan kepada pengarang, umumnya novel memiliki lebih dari satu alur; terdiri atas satu alur utama dan subalur. Alur utama berisi konflik utama yang menjadi inti persoalan yang diceritakan sepanjang karya itu, sedangkan subalur berupa konflikkonflik tambahan yang sifatnya menopang, memperjelas dan mengintensifkan konflik utama untuk sampai ke klimaks. Alur-alur tambahan atau subalur itu berisi konflik-konflik yang mungkin tidak sama kadar kepentingan atau peran terhadap alur utama. Setiap subalur berjalan sendiri, sekaligus dengan penyelesaiannya sendiri  tetap dalam hubungan dengan alur utama.

4. Tema

Dalam novel diungkapkan berbagai masalah kehidupan yang semuanya akan disampaikan pengarang. Namun, sebagaimana peran subalur terhadap alur utama, tema-tema tambahan itu bersifat menopang dan berkaitan dengan tema utama untuk mencapai efek kepaduan.

 

 

 

  1. Bacalah penggalan kedua novel berikut dengan baik.
  2. Lakukanlah analisis terhadap unsur intrinsik dan ekstrinsik atas kedua penggalan novel berikut.

 

 

Penggalan Novel Indonesia

Pasar

Kuntowijoyo

 

Pagi hari buruh Kasan Ngali dikejutkan: papannama Bank Kredit tergeletak di tanah. Mereka mengerumuni, membiarkan papan nama itu terbujur. Majikan harus diberi tahu. Mereka mulai menerkanerka siapa yang gatal tangan itu. Mereka berbisik: “Paijo,” “Sst, Zaitun,” “Pak Mantri,” “Polisi.” Belum habis mereka menebak-nebak, orang-orang pasar di pekarangan itu pun ramai pula. Los-los pasar Kasan Ngali roboh-roboh! Tidak ada badai, tidak ada topan! Pasti tangan orang yang ingin pendek umurnya. Yang ingin cupet rezekinya, yang ingin dekat kuburnya.

Para pedagang yang kehilangan los, lalu pergi ke pasar lama di seberang. Kembali ke pasar lama! Mereka tidak mau kena perkara. Cari tempat lain, kalau tidak suka urusan. Buruh-buruh Kasan Ngali menegur mereka. Mereka mengangkat bahu.Tidak seorang pun tahu. Tentu malam-malam hal itu terjadi. Di seberang jalan, Paijo berdiri keheranan pula. la melihat orang berjalan dengan dagangan ke pasar lama. Bagaimana los pasar bisa terobrakabrik macam itu? Gedeg-gedeg berantakan di tanah. Bambunya menyelonong ke mana-mana.

Tidak ada yang bisa berbuat, buruh-buruh itu hanya berdiri saja, menantikan Kasan Ngali bangun dan bersiap-siap. Mereka melihat juga Paijo berdiri di seberang jalan. Lalu dengan suara keras mereka omong. “Saya tempeleng, siapa orangnya.” “Jotos!” “Patah tangannya!” Namun mereka tidak berani dengan terus terang menuduh Paijo. Dan memang Paijo pun keheranan. Dan tidak tahan mendengar omongan itu tukang karcis menyingkir. Mencari urusan dengan orang-orang konyol tidak ada gunanya, ia berpikir. Lalu pergi.

Kasan Ngali sudah bangun. la diserbu buruh-buruhnya.

“Bagaimana, Pak?”

Kasan Ngali hanya mengawasi saja. Tidak tampak terkejut. Bayangan mereka ialah majikannya itu akan marah sejadi-jadinya. Tidak, hanya diam memandang hasilnya. Orang-orang mulai lagi.

“Siapa berbuat ini?”

“Mau saya hantam!”

“Cabik-cabik bajunya!”

“Pukul kepalanya!”

“Lumatkan tubuhnya!”

Muka Kasan Ngali pucat sedikit. Ia menatap buruh itu satu-satu. Dan mereka diam. Kata Kasan Ngali mengakhiri: “Tutup mulut kalian. Tutup!”

“Kami tak tahu apa-apa, Pak.”

“Kami datang sudah begini!”

“Kalau saja kami tahu!”

Kasan Ngali marah.

“Tutup, kataku!”

Tidak ada yang membantah lagi, Kasan Ngali memberi perintah.

“Tidak usah diurus siapa yang berbuat ini. Tugasmu ialah, usir semua orang dari pekarangan. Tutup pintu pagar. Jangan seorang dibolehkan lagi ke sini. Kerjakan, jangan bertanya. Aku benci pertanyaan!”

Buruh-buruh itu masih belum bergerak. Belum jelas bagi mereka, bahwa itu memang keputusan Kasan Ngali.

“Apalagi? Pergi! Kaukira aku tidak waras, ya!” Mereka pun bubar. Mereka bekerja juga. Orangorang yang sedang mbeber dagangan di pekarangan itu diusir. Mereka memprotes. Siapa menyuruh kami ke sini dulu! Weh, enaknya saja. Siapa mau memperbaiki kalau begini! Ayo pergi! Mau enaknya tak mau susahnya! Mau

nangka, tidak mau getahnya! Dasar! Dan mereka yang merasa tak berhak pergi juga.

Papan nama itu masih juga tergeletak. Mereka ingin tahu bagaimana sikap Kasan Ngali. Tetapi lakilaki itu sudah bersembunyi di rumah dalam. Aneh juga. Kok tenang-tenang saja, Pak Kasan!

Paijo mengelilingi pasarnya. Tidak peduli lagi dengan pasar seberang jalan. Dilihatnya juga pedagang yang datang dari pasar baru di seberang. Pura-pura tidak tahu saja. Sekarang pasarnya sudah bersih. Boleh lihat. Pedagang akan digiringnya ke dalam, tunggulah saatnya. Kemudian penertiban soal karcis itu. Kerja itu harus bertahap. Kesabarannya akan membawa hasil Pak Mantri semakin benar di matanya. Orang tua itu telah banyak mengajarnya. Buktinya, sebagian orang telah kembali ke pasar lama. Pasar itu sudah selesai. Kantor sudah putih kapurnya, pasar sudah bersih dari sampah. Genting-genting sudah tidak pecah. “Wah, sekarang lain,” tegur penjual nasi gulai. Paijo mengamati bajunya. “Apa yang lain?”

“Bajunya baru. Dan tak mau jajan lagi.’” Ya. Paijo pernah bertengkar dengan penjual itu. Mereka mau rujuk kembali nampaknya.

“Wah, punya pasar luas, tetapi tak ada uang,” katanya.

“Karcis sudah lama tak ditarik?”

“Habis!”

“Salahmu sendiri? Malas!”

“Sekarang, mana uang karcis!”

Paijo main-main saja, tetapi penjual nasi itu mengeluarkan uang. Paijo menerima uang itu. Dan buru-buru pergi ke kantor pasar. Disahutnya tas yang tergantung dan ternyata berdebu. Dikeluarkannya karcis-karcis. Tanpa tas itu ia bergegas keluar. Pak Mantri melihatnya juga dengan heran. Paijo hanya tersenyum saja. Ditemuinya kembali orang-orang pasar. Dan beberapa orang mulai lagi membayar

karcisnya! Penjual nasi itu membuatnya berani. Dan hari itu Paijo sibuk kembali. Tidak diduganya akan dimulai juga pekerjaan itu. Tukang karcis menarik karcis kembali. Hui! Kantong Paijo mulai terisi. Karcis-karcis diulurkan dan menerima uang. Tas itu mestinya dibawa, ternyata diperlukan juga sebenarnya. Tangannya gemetar karena kegirangan. Hidup orang-orang pasar. Ah, hari besar apa ini. Pak

Mantri akan memujinya. Pasar hidup kembali. Hui. Uang-uang kecil dari dompet pedagang berpindah ke saku Paijo. Karcis-karcis kecil berpindah dari tangan Paijo ke pedagang-pedagang. Mana uang karcis! Dan orang-orang mengulurkan.

Keberuntungan itu dimulai dari menghormati diri sendiri dan pekerjaan. Pasar bersih, los-los terpelihara, kantor dikapur putih. Dan uang kembali mengalir. Orang-orang masih menghormatinya juga. Dan juga mereka yang dulu pindah ke pasar Kasan Ngali telah membayar kembali uang karcis. Tidak seorang pun berdalih lagi. Hari itu kebahagiaan saja yang terjadi. Sakunya penuh. Dan setiap jalan melintas orang akan terdengar kelinting ringan dari sakunya. Uang-uang logam yang terguncangguncang. Paijo mendengar lagi bunyi uang itu sekarang. Akan diberitahukannya nanti kepada Pak Mantri. Nanti, bik selesai kerjanya. Ah, orang-orang pasar itu berbaik hati! Mukanya berseri-seri, sambil tertawa-tawa ia menarik karcis. Tangannya tidak lagi kaku, mulutnya tidak lagi kelu. Ia tidak ragu-ragu lagi. Bayar dan dibayarlah.

Paijo menarik uang dari orang-orang yang berjualan di jalan.

“Sekarang boleh pergi ke los pasar. Ditanggung bersihl Teduhl Aman!”

Sementara itu diliriknya rumah Kasan Ngali. Dan di toko itu terjadi keributan. Kasan Ngali sedang memarahi orang yang berderet antre. Mereka sedang menantikan giliran untuk mendapat kredit dari Bank Kredit

“Sekarang sudah bubar! Uang siapa kalian kira! Uang buyutmu! Uang kakekmu! Tidak ada lagi kredit! Tidak ada uang! Pemerasan!”

Mereka yang antre itu membubarkan diri. Malu juga mendapat umpatan macam itu.

 

 

Penggalan Novel Terjemahan

Sang Alkemis

Karya Paulo Coelho

 

Dia terbangun karena dikejutkan seseorang. Dia tertidur di tengah pasar itu, dan kehidupan di alun-alun akan dimulai.

Melihat sekeliling, dia mencari dombanya, dan kemudian sadar bahwa dia berada di dunia baru. Tapi bukannya sedih, dia merasa bahagia. Dia tidak perlu lagi mencari makanan dan air untuk dombadombanya. Sebaliknya, dia dapat mencari harta karunnya. Dia tidak punya sesen pun di sakunya, tapi dia punya keyakinan. Dia telah memutuskan, tadi malam, bahwa dia akan menjadi pengembara persis seperti cerita di buku-buku yang selalu membuatnya terpesona.

Dia berjalan pelan-pelan melewati pasar. Para pedagang memasang tenda kios-kios mereka, dan si bocah membantu seorang penjual manisan memasang tendanya. Wajah penjual manisan itu menyungging senyum: dia bahagia, sadar tentang hidupnya, dan bersiap memulai pekerjaan hari ini. Senyumnya mengingatkan si bocah pada lelaki tua itu — seorang raja tua misterius yang pernah dia jumpai. Pedagang manisan ini membuat manisan bukan supaya kelak dia bisa berkelana atau menikah dengan puteri seorang pemilik toko.

“Dia melakukannya karena memang itulah yang diinginkannya,” pikir si bocah. Dia sadar bahwa dia mampu melakukan hal serupa dengan yang dilakukan si lelaki tua — merasakan apakah seseorang dekat atau jauh dari Legenda Pribadinya. Hanya dengan menatap mereka. Gampang sekali, tapi ternyata aku tak pernah melakukannya sebelumnya, pikirnya.

Saat tenda sudah terpasang, penjual tadi menawari si bocah manisan pertama yang dibuatnyauntuk hari itu. Si bocah berterima kasih, memakannya, dan meneruskan perjalanannya. Saat baru berjalan beberapa langkah, dia sadar bahwa ketika mereka mendirikan kios tadi, salah satu dari mereka bicara bahasa Arab dan yang lain Spanyol.

Dan mereka saling mengerti dengan sangat baik.

Pastilah ada bahasa yang tak tergantung pada kata-kata, pikir si bocah. Aku pernah mengalaminya dengan domba-domba, dan sekarang terjadi dengan manusia. Dia belajar banyak hal baru. Beberapa di antaranya adalah hal-hal yang sudah pernah dia alami, dan tak terlalu baru, tapi belum pernah dia renungkan sebelumnya. Dan dia tidak merenungkannya karena dia sudah terbiasa dengannya. Dia sadar: Jika aku dapat belajar memahami bahasa tanpa kata-kata ini, aku bisa belajar memahami dunia.

Santai dan tak tergesa, dia lega bahwa dia dapat melangkah melalui jalan-jalan sempit Tangier. Hanya dengan cara itulah dia mampu membaca pertanda. Dia tahu ini memerlukan kesabaran, tapi para gembala tahu banyak tentang kesabaran.

Sekali lagi dia melihat bahwa, di negeri asing itu, dia menerapkan pelajaran-pelajaran serupa dengan yang dia pelajari dari domba-dombanya.

“Segalanya satu belaka,” sang raja tua pernah berkata.

***

Pedagang kristal itu terbangun bersama hari, dan merasakan kegelisahan yang sama seperti yang diidapnya setiap pagi. Dia berada di tempat yang sama selama tiga dasawarsa: sebuah toko di ujung jalan berbukit, dilewati oleh pembeli yang sedikit. Sekarang sudah terlambat untuk mengubah semuanya — satu-satunya yang pernah dia pelajari adalah menjual dan membeli barang pecah-belah kristal. Pernah ada suatu masa ketika banyak orang kenal tokonya: pedagang-pedagang Arab, ahli-ahli geologi Francis dan Inggris, para serdadu Jerman yang selalu banyak uang. Di hari-hari itu sangat menyenangkan menjual kristal, dan dia pernah merasa betapa akan kayanya ia, dan punya perempuan-perempuan cantik di sisinya seiring menuanya usia.

Tapi, waktu melangkah, dan Tangier berubah. Kota tetangga Ceuta berkembang lebih laju, dan bisnis melaju. Para jiran berpindahan, dan di bukit itu hanya tinggal be-berapa toko kecil yang bertahan. Dan tidak ada orang yang mau menaiki bukit hanya untuk melihat-lihat beberapa toko sempit.

Tapi pedagang kristal itu tak punya pilihan. Dia telah menjalani tigapuluh tahun hidupnya denganmembeli dan menjual barang-barang kristal, dan sekarang sudah terlambat untuk melakukan hal yang lain.

Dia menghabiskan sepanjang hari dengan mengamati jarangnya orang yang lalu-lalang di jalan itu. Dia melakukan hal ini selama bertahun-tahun, dan tahu jadwal setiap orang yang lewat. Namun, tepat sebelum jam makan siang, seorang bocah berhenti di depan tokonya. Dia berpakaian normal, tapi mata pedagang kristal yang berpengalaman itu tahu anak itu tak punya uang. Meski begitu, si pedagang memutuskan untuk menunda makan siangnya sebentar sampai anak itu pergi. selembar kartu yang tergantung di pintu masuk mengumumkan sejumlah bahasa yang bisa digunakan di toko itu. Si bocah melihat seorang lelaki keluar dari belakang meja.

“Aku bisa membersihkan barang-barang di etalase itu, kalau Bapak mau,” kata si bocah. “Tidak akan ada orang yang membeli barang-barang itu kalau melihat tampilannya begitu.”

Lelaki itu melihat padanya tanpa menanggapi.

“Sebagai imbalan, Bapak bisa memberiku makanan.”

Lelaki itu tetap bungkam, dan si bocah merasa dia harus mengambil keputusan. Di kantongnya ada jaket.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Kemukakanlah analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik atas kedua penggalan novel tersebut.
Unsur yang Dianalisis Judul Novel
A B
a. Tema

b. Tokoh dan Perwatakan

c. Latar

d. Sudut Pandang

e. Gaya Bahasa

f. Alur

g. Amanat

   
  1. Lakukanlah diskusi bersama teman untuk membahas analisis kedua penggalan novel tersebut, baik dari unsur intrinsik maupun ekstrinsiknya.

 

 

 

 

MODUL PEMBELAJARAN

Standar Kompetensi 8

Mengungkapkan pendapat, informasi, dan pengalaman dalam bentuk resensi dan cerpen

 

 

Kompetensi Dasar

7.1 Menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat

Alokasi Waktu :

5        jam pelajaran  ( 2 x pertemuan )

Dilaksanakan pada pertemuan ke 9 dan 10.

Indikator pencapaian hasil belajar:

  • Mengindentifikasi ciri hikayat sebagai bentuk karya sastra lama
  • Menemukan unsur-unsur intrinsik (alur, tema, penokohan, sudut pandang, latar, dan amanat) dalam hikayat
  • Menceritakan kembali isi hikayat dengan bahasa sendiri

 

 

Mengungkapkan pendapat, informasi, dan pengalaman dalam bentuk resensi dan cerpen

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS ESAI MELALUI TEKNIK TIRU MODEL PADA SISWA KELAS XII IPA SMAN I HILIRAN GUMANTI

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS ESAI MELALUI TEKNIK TIRU MODEL PADA SISWA KELAS XII  IPA SMAN I HILIRAN GUMANTI

Meldawati

Abstrak: This study is aimed to observe a process of developing essays writing skill by using the technique of Copy Master used by the 12 grade students of the Natural Science program at SMAN I Hiliran Gumanti. The methodology used was action research, which involved two circles. The first and the second circle were done in two times meeting that each took place for about 2 x 45 minutes. The data on teachers’ actions, and students’ attitudes and activities in learning activities were collected from abservation technique using observation sheet as the tool. The data about students’ perceptions towards learning activities were gathered from questionnaires using the tool of survey questionnaires, and the data about students’ essays writing ability were collected from a test held. The results revealed that the technique of Copy Master could develop students’ essays writing skill. The findings have implication of how teachers of Bahasa Indonesia provide more models to develop students’ essays writing skill with a respect to their age and intellectual capability.

 

Kata kunci: teknik kopi master, menulis esai, SMAN I Hiliran Gumanti

PENDAHULUAN

Ada empat aspek yang selalu dilatih dan dikembangkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Keempat aspek itu adalah (1) mendengarkan, (2) berbicara, (3) membaca, dan (4) menulis. Empat aspek itu saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Oleh karenanya, di setiap satuan pendidikan, keempat aspek tersebut selalu dikembangkan.

Kemampuan menulis merupakan suatu komponen berbahasa yang rumit dan kompleks yang harus dipelajari dengan baik dan dilatih secara intensif baik berupa anjuran tugas dari guru maupun hasil kreativitas siswa itu sendiri. Untuk mencapai kemampuan ini, seorang siswa harus memahami aturan menulis yang meliputi penguasaan terhadap isi yang akan ditulis dan penguasaan teknik untuk mengorganisasikan ide-ide atau gagasan yang akan dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Kegiatan menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh pembelajaran yang dialami oleh siswa di sekolah. Pada tiap semester, siswa selalu dihadapkan pada materi keterampilan menulis. Bahkan, di akhir waktu pembelajaran, siswa diberikan ujian praktik menulis. Tidak hanya dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia saja, tetapi juga beberapa mata pelajaran lainnya, seperti menulis laporan pada mata pelajaran Biologi, Sosiologi, dan lainnya.

Salah satu keterampilan menulis yang harus dikuasai oleh siswa adalah kemampuan menulis esai. Esai merupakan karangan prosa yang berisi pandangan, pendapat, perasaan, dan pikiran pengarang terhadap suatu masalah. Struktur esai terdiri atas tiga bagian, yaitu (1) pendahuluan, (2) pembahasan, dan (3) kesimpulan (Atmazaki, 2006:109).

Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kemampuan menulis esai siswa di SMAN I Hiliran Gumanti masih rendah. Hal ini dapat terlihat dari hasil tes awal siswa dalam menulis esai. Struktur esai yang ditulis siswa belum lengkap (belum tergambarnya dengan jelas unsur pendahuluan, pembahasan, dan kesimpulan). Di samping itu, esai yang ditulis oleh siswa  hanya berupa  karangan yang direka-reka saja. Sementara itu, esai membutuhkan tanggapan yang disertai oleh alasan-alasan dan bukti-bukti yang bisa memperkuat pendapat penulis. Dengan demikian, siswa hanya mampu memperoleh nilai menulis esai di bawah Kriteria Kompetensi Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 65. Berdasarkan catatan penilaian menulis siswa yang ada pada penulis, umumnya siswa hanya memperoleh nilai 60 dan bahkan ada nilai 50.

Keterampilan menulis esai dapat dipengaruhi oleh aspek-aspek yang ada dalam proses belajar mengajar dan aspek-aspek yang berasal dari diri pembelajar itu sendiri serta lingkungannya. Aspek pengajaran meliputi silabus, materi, metode, strategi, teknik, media dan pengajar. Aspek-aspek nonpengajaran antara lain sikap, bakat bahasa, motivasi, keuletan, disiplin, kepribadian, daya ingatan, emosi, umur, kemampuan mengekspresikan gagasan, dan lingkungan.

Berdasarkan keadaan di atas, guru harus lebih kreatif menentukan metode dan teknik yang tepat dalam pembelajaran menulis. Dengan metode yang dimaksud diharapkan tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, metode itu harus dapat memotivasi siswa untuk berfikir kritis dalam  pembelajaran menulis esai. Salah satu cara yang digunakan untuk menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran menulis adalah melalui teknik tiru model.

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis esai siswa kelas XII IPA SMAN I Hiliran Gumanti. Adapun indikator keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tugas dengan baik adalah 75 % siswa mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan adalah 65.

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis esai. Peningkatan kemampuan menulis siswa tidak hanya meningkat secara sturktur esai saja tetapi juga meningkat dalam penggunaan bahasa yang efektif. Selain itu, penelitian ini juga dapat digunakan untuk mengajarkan materi menulis lainnya seperti menulis cerpen, menulis puisi dan lain-lain.

Berdasarkan pendapat para ahli, menulis merupakan kegiatan menuangkan ide, gagasan, dan pendapat ke dalam bentuk tulisan. Melalui tulisan seseorang bisa menyalurkan inspirasinya. Sebagaimana yang diungkapkan Widyamartaya (1992:9) bahwa menulis dapat dipahami sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami tepat seperti yang dimaksudkan oleh pengarang.

Menulis merupakan pengetahuan yang kompleks, yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Kegiatan menulis juga membutuhkan banyak tenaga, waktu dan perhatian yang sungguh-sungguh (Akhadiah, 1992:1).           Menulis meliputi berbagai aspek  yang saling terkait, yang perlu dikuasai untuk dapat menghasilkan suatu tulisan.

Untuk dapat dipahami dan diterima dengan baik oleh pembacanya, pengungkapan gagasan melalui karangan menuntut sejumlah kemampuan. Djiwandono (1996:129) menjelaskan bahwa dari segi isi, kemampuan menulis menuntut kemampuan untuk mengidenfikasi dan merumuskan gagasan pokok yang akan diungkapkan. Gagasan perlu disertai dengan pokok-pokok pikiran yang merupakan rincian dan uraian dari gagasan pokok itu. Pokok-pokok pikiran itu disusun menurut urutan yang logis agar mudah diikuti dan dimengerti pembaca. Hal ini menuntut kemampuan mengorganisasikan pokok pikiran.

Untuk mengungkapkan seluruh gagasan dan pokok pikiran diperlukan penguasaan terhadap berbagai aspek komponen berbahasa. Pertama-tama, perlu dipikirkan kosa kata yang sesuai dengan isi dan makna yang ingin diungkapkan. Kata-kata harus disusun dalam bentuk rangkaian kata menurut kaidah penyusunan kata, dituangkan dalam kalimat yang efektif, serta memenuhi persyaratan tata bahasa.

Selain itu, juga diperlukan kemampuan untuk menggunakan bahasa tertentu, sesuai dengan sifat dan tujuan penulisan karangan. Dalam kaitan dengan teknik penulisan, perlu diperhatikan aspek ejaan, dalam bentuk kemampuan untuk menuliskan kata dan penggunaan tanda baca dengan tepat. Semua itu merupakan bagian penting dari kemampuan menulis.

Halim, dkk (1974:35) menyatakan bahwa menulis adalah kemampuan mengorganisasikan dan mengekspresikan unsur-unsur yang meliputi: (1) isi karangan, (2) bentuk karangan, (3) tata bahasa, (4) gaya atau pilihan struktur dan kosa kata, dan (5) penerapan ejaan dan penguasaan tanda baca.

Menurut Semi (1990:10) untuk menghasilkan suatu tulisan yang baik setiap penulis harus memiliki lima keterampilan dasar dalam menulis karangan, yaitu: (1) keterampilan berbahasa, (2) keterampilan penyajian, (3) keterampilan perwajahan, (4) gaya atau pilihan struktur kosa kata, dan (5) penerapan ejaan dan penggunaan tanda baca. Tarigan (1986: 15) Mengemukakan kuantitas dan kualitas tingkat penguasaan kosa kata seseorang merupakan hal yang terbaik bagi perkembangan mentalnya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa mempelajari sebuah kata baru dengan sendirinya membawa efek dan pengaruh terhadap siswa.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis pada hakikatnya merupakan: (1) kemampuan mengorganisasikan dan mengekspresikan ide yang akan dituangkan dalam suatu karangan, (2) kemampuan menggunakan bahasa secara gramatikal, (3) kemampuan memilih kosa kata yang tepat, dan (4) kemampuan menggunakan ejaan resmi sesuai dengan kaidah yang berlaku. Untuk memperoleh kemampuan menulis diperlukan banyak latihan yang teratur dan kontinyu.

Esai pada awalnya berarti karangan prosa dengan bahasa dan cara menarik. Karangan ini biasanya membahas sebuah masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya (Hasanuddin WS, 2004:253). Kata kunci pada bentuk tulisan esai adalah adanya faktor analisis, interpretasi, dan refleksi. Karakter esai, umumnya nonteknis, nonsistematis, dengan karakter dari penulis yang menonjol (Rahardi, 2006:31).

Lebih lanjut Atmazaki (2006:109) mengartikan esai sebagai karangan prosa yang berisi pandangan, pendapat, perasaan, dan pikiran sejauh suatu masalah menggugah pikiran pengarang. Selanjutnya ditegaskan bahwa pada dasarnya struktur esai terdiri atas tiga bagian, yaitu: (1) pendahuluan, (2) pembahasan, (3) kesimpulan.

Hasanuddin WS (2004:253) mengemukakan dua jenis esai (1) esai formal, dan (2) esai nonformal. Esai formal merupakan karangan yang membahas suatu tema dan topik secara panjang lebar dan mendalam dengan tinjauan yang cukup objektif. Esai nonformal merupakan esai yang membahas karangan orang lain secara sepintas lalu sehingga agak bersifat subjektif.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa esai merupakan karya tulis yang ditulis berdasarkan pandangan penulis terhadap suatu masalah, objek atau peristiwa yang akan ditulisnya. Esai bersifat pribadi karena penulisan esai disesuaikan dengan gaya penulisan penulisnya. Struktur esai terdiri dari (1) pendahuluan, (2) pembahasan, (3) kesimpulan.

 

Teknik Tiru Model dalam Konteks Teori Pembelajaran

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Depdiknas, 2003:1). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Dalam hal ini, guru bertugas membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Guru bertugas mengelola kelas sebagai suatu tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).

Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama. Ketujuh kompenen itu adalah konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment).

Pemodelan (modeling) dalam CTL adalah pemberian model atau contoh yang bisa  ditiru. Guru bukan satu-satunya model dalam CTL. Model bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, mengerjakan tugas, bentuk tugas. Model dapat dirancang bersama-sama dengan siswa, bahkan siswa dapat ditunjuk untuk dijadikan sebagai model.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam pendekatan CTL terdapat strategi pemodelan. Strategi pemodelan dapat berupa teknik tiru model. Hal ini sesuai dengan pernyataan Depdiknas (2003:18) bahwa salah satu contoh praktik pemodelan adalah guru bahasa Indonesia menunjukkan teks berita dari Harian Kompas, Jawa Pos, dan sebagainya untuk dijadikan model pembuatan berita.

Keterampilan menulis erat kaitannya dengan keterampilan membaca. Untuk dapat menulis seseorang harus banyak membaca. Membaca adalah sarana utama menuju ke keterampilan menulis. Salah satu teknik menulis yang erat kaitannya dengan membaca adalah teknik tiru model. Teknik ini merupakan cara menulis dengan menggunakan sebuah contoh tulisan yang digunakan sebagai model. Tulisan model tidak ditiru secara keseluruhan. Model yang ditiru hanyalah kerangka dan bentuk karangannya sedangkan isi karangan tidak ditiru.

Marahimin (1999:21) menyatakan bahwa teknik tiru model pada dasarnya menuntut melakukan latihan-latihan sesuai dengan master yang diberikan. Model harus dibaca terlebih dahulu, dilihat isi dan bentuknya, dianalisis serta dibuatkan kerangkanya, kemudian menulis. Tulisan yang dibuat tidak sama persis seperti model, yang ditiru adalah kerangkanya, atau idenya, atau bahkan juga cara atau tekniknya.

Lebih lanjut Tarigan (1986:194) menegaskan bahwa cara menulis dengan meniru model adalah guru mempersiapkan suatu karangan model yang akan dijadikan contoh dalam menyusun karangan. Karangan siswa tidak persis sama, struktur karangan memang sama tetapi berbeda dalam isi.

Dapat disimpulkan bahwa teknik tiru model merupakan teknik yang dilakukan untuk menulis dengan menggunakan sebuah contoh tulisan yang digunakan sebagai model. Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan teknik tiru model adalah:

  1. Guru membagikan bahan ajar kepada siswa yang berupa contoh esai.
  2. Siswa membaca dan memahami bahan ajar tersebut.
  3. Guru membimbing siswa menentukan tiga unsur esai yang terdapat pada contoh esai.
  4. Siswa menentukan ide pokok dan ide penjelas dalam setiap paragraf.
  5. Siswa menentukan pola pengembangan setiap paragraf dari bahan ajar.
  6. Siswa menentukan tema esai.
  7. Siswa menulis esai berdasarkan tema esai contoh.
  8. Siswa diperbolehkan meniru tema, pola pengembangan paragraf esai contoh.
  9. Siswa tidak perbolehkan meniru semua bagian esai tersebut. Oleh karenanya, contoh esai dikumpulkan sebelum siswa diminta menulis esai.

 

METODE

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada siswa kelas XII IPA SMAN I Hiliran Gumanti. Kelas XII IPA di sekolah ini hanya terdiri dari satu kelas. Jumlah siswa kelas XII IPA  terdiri dari 18 orang. Dengan demikian, subjek penelitian ini berjumlah 18 orang siswa.

Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas empat langkah, meliputi: perencanaan (planning), pelaksanaan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Siklus pertama dilakukan sebanyak dua kali pertemuan. Sementara itu, siklus kedua dilakukan berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama. Pelaksanaan siklus pertama sama dengan siklus kedua sama. Perbedaannya, pada siklus kedua, materi dititikberatkan pada aspek-aspek yang belum berhasil dicapai oleh siswa pada siklus pertama. Pada siklus kedua, contoh esai dibedakan dengan contoh esai pada siklus pertama. Pada siklus kedua, siswa diberikan kebebasan memilih tema esai yang mereka tulis.

Dalam proses observasi, peneliti dibantu oleh satu orang guru bahasa Indonesia. Guru ini sebagai pengamat. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data selama penelitian berlangsung. Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif, yang menggambarkan aktivitas dan keantusiasan siswa, perubahan kinerja guru, hasil prestasi siswa, mutu pembelajaran, dan perubahan suasana kelas.

Sebelum memulai siklus pertama, diberikan tes awal kepada siswa. Tes tersebut berupa tes menulis esai lima paragraf. Tujuannya adalah untuk melihat kemampuan awal siswa dalam menulis. Hasil tes dianalisis dan dinilai. Berdasarkan hasil tes tersebut, disiapkan tindakan-tindakan apa yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis esai bagi siswa. Perolehan nilai siswa pada tes awal adalah sebagai berikut ini.

Tabel 1. Nilai Siswa pada Tes Awal

No Urut

Siswa

Jumlah

Skor

%

Penguasaan

1 15 75
2 11 55,0
3 7,6 38
4 16,3 81,5
5 9,3 46,5
6 14 70
7 9,66 48,3
8 14,3 71,5
9 17,3 86,5
10 14,66 73,3
11 10 50
12 9,3 46,5
13 8,3 41,5
14 13,3 66,5
15 11,6 58
16 12 60
17 12 60
18 8,6 43
Jumlah 214,22 1071,10
Rata-rata 11,9 59,51

 

Hasil tes awal menunjukkan bahwa nilai siswa paling tinggi adalah 86,5. Nilai  siswa paling rendah adalah 38. Nilai  rata-rata kelas adalah 59, 51. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa siswa telah memiliki pengetahuan dan pemahaman awal tentang menulis. Kondisi ini disebabkan oleh keterampilan menulis sudah pernah dipelajari pada tingkat pendidikan sebelumnya sehingga siswa sudah mengetahui  konsep-konsep dasar menulis. Namun demikian, siswa belum memahami tulisan yang berupa esai. Oleh karena itu, diperlukan tindakan-tindakan seperti pada siklus I.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Siklus Pertama

Siklus pertama dilakasanakan sebanyak dua kali pertemuan. Tahapan dalam siklus pertama ini adalah sebagai berikut ini.

  1. Perencanaan

Berdasarkan hasil tes awal, direncanakan hal-hal berikut ini. Pertama, perencanaan untuk menggunakan teknik tiru model. Kedua, menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan kompetensi dasar menulis esai. Ketiga, mempersiapkan berbagai contoh esai. Keempat, mempersiapkan bentuk penugasan. Kelima, mempersiapkan rancangan penilaian. Penilaian esai meliputi empat aspek, yaitu kelengkapan unsur struktur esai (pendahuluan, isi/pembahasan, dan penutup), keruntutan penataan ide, kepaduan gagasan, dan keefektifan kalimat. Keenam, mempersiapkan lembaran observasi teman sejawat.

  1. Pelaksanaan

1) Pertemuan I

Pada pertemuan pertama, siswa dibagi kedalam empat kelompok. Setelah siswa duduk berkelompok, siswa diberikan  penjelasan mengenai cara menulis esai melalui teknik tiru model. Contoh esai dibagikan kepada siswa. Siswa diminta untuk membaca dan memahami contoh esai. Dalam hal ini, siswa bersama teman sekelompok diminta untuk mendiskusikan definisi esai, ciri-ciri esai, tema esai, ide pokok dan ide penjelas dari setiap paragraf, dan pola pengembangan setiap paragraf yang terdapat di dalam esai.

Siswa diberikan pengukuhan berdasarkan tema, ide pokok, dan pola pengembangan esai contoh, setiap siswa diminta untuk menulis esai. Siswa diperbolehkan meniru tema, ide pokok, dan pola pengembangan paragraf pada esai contoh yang sudah mereka diskusikan. Esai  yang sudah ditulis oleh siswa dikumpulkan.

Materi pembelajaran disimpulkan. Selanjutnya, proses belajar mengajar ditutup.

2) Pertemuan II

Pada pertemuan kedua ini, siswa tidak duduk berkelompok. Hasil kerja siswa dikembalikan. Tugas siswa yang dikembalikan berupa hasil ketikan yang diketik sesuai dengan tulisan asli siswa. Tujuannya adalah supaya siswa dapat mengoreksi tugasnya langsung pada lembaran kerja. Kemudian, beberapa orang siswa membacakan esainya di depan kelas. Siswa yang lain memberikan komentar (Tidak semua siswa ke dapan kelas). Selanjutnya, tulisan terbaik siswa dimuat di majalah dinding (Mading) di sekolah.

Setelah beberapa orang siswa mewakili ke depan. Siswa diminta untuk mengoreksi tugas teman sebangkunya dari segi kelengkapan struktur esai, kertuntutan penataan ide, kepaduan gagasan, dan keefektifan kalimat. Kemudian, siswa saling mengoreksi esai temannya dari segi kelengkapan struktur esai, keruntutan penataan ide, kepaduan gagasan dan keefektifan kalimat. Setelah selesai, hasil penilaian siswa terhadap esai temannya dicek kembali. Esai siswa dikumpulkan kembali. Pelajaran ditutup setelah materi pembelajaran disimpulkan.

 

 

  1. Observasi/ Evaluasi

Pengamatan terhadap proses peningkatan kemampuan menulis esai dengan menggunakan teknik tiru model  meliputi dua hal. Pertama, pengamatan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar oleh guru di dalam kelas. Kedua, pengamatan terhadap aktivitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Dalam melakukan pengamatan, digunakan bantuan teman sejawat.

Berikut adalah rekapitulasi aktivitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar pada pertemuan 1 siklus I.

Tabel 2. Rekapitulasi Aktivitas Siswa pada Pertemuan 1 Siklus I

No. Aspek yang diamati Rata-rata Skor Klasifikasi
1 Perhatian siswa terhadap berbagai aktivitas dalam PBM 3,61 Baik
2 Keaktifan siswa dalam diskusi kelompok 3,46 Baik
3 Keaktifan siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat 2,22 Kurang
4 Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan 1,83 Kurang
5 Suasana hati siswa dalam PBM 4 Baik
  Jumlah 15,12  
  Rata-rata 3,02 Cukup

 

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa perhatian, keaktifan dalam diskusi kelompok, dan suasana hati siswa dalam PBM baik. Hal ini dapat dilihat dari perolehan skor dengan klasifikasi baik. Sedangkan, keaktifan siswa dalam mengemukakan pendapat masih kurang. Ini terlihat dari perolehan skor dan klasifikasi baik.

Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar pada pertemuan kedua dalam siklus I adalah sebagai berikut ini.

 

 

Tabel 3. Rekapitulasi Aktivitas Siswa pada Pertemuan ke-2 Siklus I

No. Aspek yang diamati Rata-rata Skor Klasifikasi
1 Perhatian siswa terhadap berbagai aktivitas dalam PBM 3,67 Baik
2 Keaktifan siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat 2,56 Kurang
3 Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan 1,94 Kurang
4 Suasana hati siswa dalam PBM 4 Baik
  Jumlah 12,17  
  Rata-rata 3,04 Cukup

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa perhatian dan suasana hati siswa dalam PBM baik. Hal ini terlihat pada perolehan skor dan klasifikasi baik. Sedangkan, keaktifan siswa dalam mengemukakan pendapat kurang. Hal ini terlihat dari perolehan skor dan klasifikasi kurang.

3) Penilaian Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa pada siklus satu adalah sebagai berikut ini.

Tabel 4. Nilai Siswa pada Siklus 1

No Urut Siswa Jumlah %

Penguasaan

1 16 80
2 13,7 68,5
3 14,3 71,5
4 17 85
5 17,3 86,5
6 15,3 76,5
7 14,7 73,5
8 17,7 88,5
9 15,7 78,5
10 17,7 88,5
11 14 70
12 15,7 78,5
13 15,3 76,5
14 17,3 86,5
15 17,7 88,5
16 13,6 68
17 16 80
18 16 80
Jumlah 285 1425
Rata-rata 15,83 79,17

 

Hasil tes pada siklus I menunjukkan bahwa nilai tertinggi adalah 88,5. Nilai terendah adalah 68. Nilai rata-rata kelas adalah 79,17. Ini menunjukkan bahwa keterampilan siswa kelas XII IPA dalam menulis, secara klasikal sudah memperoleh peningkatan. Namun demikian, ketuntasan individu belum tercapai. Masih ada dua orang siswa yang mempunyai nilai di bawah KKM yang ditetapkan, yaitu 70.

d. Refleksi

Berdasarkan hasil catatan lapangan oleh guru, hasil pengamatan oleh teman sejawat, dan hasil belajar siswa tergambar bahwa secara klasikal telah terjadi peningkatan keterampilan menulis esai bagi siswa kelas XII IPA. Namun demikian, ketuntasan individu belum tercapai. Pada umumnya, siswa belum memahami struktur esai. Untuk meningkatkan kemampuan siswa menentukan dan menuliskan struktur esai (pendahuluan, isi/pembahasan, dan penutup), perlu dilakukan: 1) Mencarikan contoh esai yang lebih mudah dipahami oleh siswa. 2) Memberikan penjelasan kepada siswa mengenai stuktur esai. 3) Memberikan pengetahuan kepada siswa bagaimana cara berkomunikasi secara lisan. 4) Memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih tema dalam menulis esai. 5) Memberikan bimbingan khusus kepada individu.

Siklus Kedua

a. Perencanaan

Berdasarkan refleksi tentang proses dan hasil belajar siklus pertama, dilakukan penyusunan RPP, materi dan bahan ajar yang sesuai dengan tujuan  perbaikan siklus kedua. Perencanaan penugasan, pada siklus kedua, penugasan berbeda dengan siklus pertama. Pada siklus kedua,  diberikan kebebasan kepada siswa untuk menentukan tema tulisan. Mempersiapkan format penilaian hasil belajar dan lembaran observasi.

b. Pelaksanaan

Pada siklus kedua, proses belajar mengajar dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan. Satu kali pertemuan adalah 2 x 45 menit.

1) Pertemuan I

Aspek utama yang harus ditingkatkan pada siklus kedua adalah pengetahuan dan pemahaman siswa tentang struktur esai. Berikutnya, kepada siswa diberikan penjelasan yang lebih rinci tentang struktur esai. Penjelasan ini diberikan berdasarkan  contoh esai yang diberikan kepada siswa. Pada contoh esai, sudah dikelompokkan bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup. Setelah diberikan penjelasan, secara individu siswa diminta untuk menentukan struktur esai pada esai contoh yang lainnya. Siswa diminta untuk menentukan tema, dan pola pengembangan tiap paragraf.

Setelah hasil temuan siswa didiskusikan, siswa diminta untuk menulis esai lima paragraf dengan memperhatikan kelengkapan unsur struktur esai. Untuk tidak mengikat kreativitas siswa dalam menulis esai, pada siklus II, siswa diberikan kebebasan untuk memilih tema esai yang akan mereka tulis.

2)    Pertemuan II

Pada pertemuan kedua, beberapa orang siswa membacakan esainya di depan kelas. Siswa lain memberikan komentar. Esai yang sudah ditulis oleh siswa dikoreksi secara bersama, tujuannya adalah supaya siswa tersebut lebih memahami tingkat kemampuan mereka dalam menulis esai. Setelah itu guru dan siswa menyimpulkan materi pembelajaran.

  1. Observasi/ Evaluasi

Sama halnya dengan siklus I, pada siklus II ini, pengamatan terhadap proses peningkatan kemampuan menulis esai dengan menggunakan teknik tiru model  juga meliputi dua hal. Pertama, pengamatan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar oleh guru di dalam kelas. Kedua, pengamatan terhadap aktivitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Dalam melakukan pengamatan, digunakan bantuan teman sejawat.

Berikut adalah rekapitulasi aktivitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar pada pertemuan 1 siklus II.

Tabel 5. Rekapitulasi Aktivitas Siswa pada Pertemuan 1 Siklus II

No. Aspek yang diamati Rata-rata Skor Klasifikasi
1 Perhatian siswa terhadap berbagai aktivitas dalam PBM 4 Baik
2 Keaktifan siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat 2,37 Kurang
3 Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan 1,95 Kurang
4 Suasana hati siswa dalam PBM 4 Baik
  Jumlah 12,32  
  Rata-rata 3,08 Cukup

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa perhatian dan suasana siswa dalam PBM baik. Sedangkan  keaktifan siswa masih kurang.

Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar pada pertemuan kedua dalam siklus II adalah sebagai berikut ini.

Tabel 6. Rekapitulasi Aktivitas Siswa pada Pertemuan 2 Siklus II

No. Aspek yang diamati Rata-rata Skor Klasifikasi
1 Perhatian siswa terhadap berbagai aktivitas dalam PBM 4,11 Baik
2 Keaktifan siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat 2,74 Kurang
3 Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan 1,95 Kurang
4 Suasana hati siswa dalam PBM 4 Baik
  Jumlah 12,79  
  Rata-rata 3,08 Cukup

 

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa perhatian dan suasana siswa dalam PBM baik. Sedangkan  keaktifan siswa masih kurang.

3) Penilaian Hasil Belajar Siswa

Nilai siswa pada siklus dua adalah sebagai berikut ini.

Tabel 7. Nilai Siswa pada Siklus II

No Urut Siswa Jumlah %

Penguasaan

1 18,67 93,35
2 17,30 86,5
3 18,67 93,35
4 19,00 95
5 17,00 85
6 18,30 91,5
7 18,30 91,5
8 18,00 90
9 19,00 95
10 18,67 93,35
11 18,30 91,5
12 16,00 80
13 16,67 83,35
14 18,00 90
15 19,67 98,35
16 16,30 81,5
17 19,00 95
18 17,00 85
Jumlah 323,85 1619,25
Rata-rata 17,99 89,96

 

Hasil tes pada siklus II menunjukkan bahwa nilai tertinggi adalah 98,35. Nilai terendah adalah 80. Nilai rata-rata kelas adalah 89,96. Ini menunjukkan bahwa keterampilan siswa kelas XII IPA dalam menulis esai, secara klasikal sudah memperoleh peningkatan.

d.   Refleksi

Berdasarkan hasil catatan lapangan oleh guru, hasil pengamatan oleh teman sejawat, dan hasil belajar siswa tergambar bahwa telah terjadi peningkatan keterampilan menulis esai bagi siswa kelas XII IPA. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa penelitian ini tidak perlu dilanjutkan ke siklus III.

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan deskripsi data, terlihat bahwa keamampuan menulis esai siswa pada prasiklus sangat memprihatinkan. Dari 18 orang siswa, hanya 6 orang siswa yang memperoleh nilai diatas KKM yang ditentukan, yaitu 70. Bahkan, ada siswa yang memperoleh nilai 38. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 59,51. Artinya, ketuntasan belajar secara klasikal maupun individu belum tercapai.

Kegagalan siswa menulis esai pada prasiklus disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, siswa belum bisa menuliskan ide dalam bentuk pendahuluan, isi, dan penutup. Hal ini dapat dilihat dengan perolehan skor siswa dalam kemampuan menulis struktur esai hanya 2,79. Kesulitan ini disebabkan karena siswa belum mengetahui struktur esai. Sebelum menulis esai, mereka tidak diberikan penjelasan terperinci mengenai esai.

Kedua, siswa tidak mampu menuangkan ide tersebut secara efektif. Ini terlihat dari perolehan skor siswa dalam kemamuan menulis kalimat efektif hanya 2,78. Artinya, siswa belum mampu menulis kalimat efektif. Penyebabnya adalah ketidaktepatan siswa dalam menggunakan ejaan, kosa kata, dan struktur kalimat. Selama ini, keefektifan kalimat kurang menjadi perhatian dalam pembelajaran sehingga kesalahan-kesalahan dalam menulis kalimat menjadi kebiasaan di kalangan siswa.

Ketiga, siswa belum mampu menuangkan ide secara runtut. Hal ini dapat dilihat dari perolehan skor 3,22. Artinya, kemampuan siswa menuangkan ide secara runtut masih cukup. Siswa belum menguasai pola pengembangan ide dengan baik sehingga terdapat ide yang urutannya tidak tepat.

Keempat, siswa belum mampu menuangkan gagasan secara padu. Hal ini terlihat dari perolehan skor 3,11. Artinya, kemampuan siswa menuangkan gagasan yang padu masih cukup. Dalam menuangkan gagasan, masih terdapat gagasan-gagasan yang tidak sesuai dengan gagasan pokok. Ini mengakibatkan terpecahnya gagasan dalam paragraf.

Dari uraian di atas jelas bahwa siswa belum memenuhi kriteria penulisan esai yang baik. Kriteria penulisan esai dalam hal ini terkait dengan empat aspek penilaian esai. Keempat aspek tersebut adalah kelengkapan unsur struktur esai, keruntututan penataan ide, kepaduan gagasan, dan keefektifan kalimat.

Perolehan nilai siswa pada prasiklus menunjukkan bahwa kemampuan siswa menulis esai masih rendah. Artinya, kemampuan berkomunikasi siswa melalui bahasa tulis rendah. Untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa, guru harus melakukan tindakan. Sejalan dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning [CTL]) bahwa guru bertugas membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi mengajar. Guru bertugas mengelola kelas sebagai suatu tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Guru tidak mentransfer pengetahuan kepada siswa (Depdiknas, 2003:1).

Sesuai dengan penerapan teknik tiru model, pada siklus I dilaksanakan PBM menulis esai dengan memberikan contoh-contoh esai kepada siswa. Selanjutnya, diikuti cara pelaksanaan tiru model yang  dikemukakan oleh Marahimin (1999:21) bahwa teknik tiru model pada dasarnya menuntut melakukan latihan-latihan sesuai dengan contoh yang diberikan. Contoh harus dibaca terlebih dahulu, dilihat isi dan bentuknya, dianalisis serta dibuatkan kerangkanya, kemudian menulis. Tulisan yang dibuat tidak sama persis seperti contoh, yang ditiru adalah kerangkanya, atau idenya, atau bahkan juga cara atau tekniknya.

Hasil penelitian menggambarkan bahwa proses belajar mengajar menulis esai dengan teknik tiru model mampu meningkatkan kemampuan siswa menulis esai. Proses pembelajaran yang dilakukan sangat membantu siswa. Melalui teknik tiru  model siswa dibantu untuk lebih memahami konsep esai. Melalui contoh esai yang diberikan, siswa mendapatkan gambaran, dan bentuk yang nyata dari esai. Bahkan, contoh-contoh yang sesuai dengan tingkat pemahaman dan usia siswa, membuat siswa tertarik dan lebih termotivasi untuk menulis.

Pada siklus I, siswa menulis esai berdasarkan contoh. Peningkatan hasil belajar pada siklus I disebabkan karena proses menulis esai dengan teknik tiru model berbeda dengan teknik sebelumnya. Proses pembelajaran dengan teknik tiru model membantu siswa mengongkritkan konsep esai.  Dengan contoh, siswa mendapatkan gambaran yang nyata bahwa ternyata esai yang sudah dipelajari berdasarkan teori adalah seperti yang ada pada mereka sehinggga siswa memiliki representasi mental tentang esai. Hal ini sejalan dengan pernyataan Depdiknas (2003:18) bahwa salah satu contoh praktik pemodelan adalah guru bahasa Indonesia menunjukkan teks berita dari Harian Kompas, Jawa Pos, dan sebagainya untuk dijadikan model pembuatan berita. Dengan demikian, dalam penelitian ini, peneliti menggunakan contoh esai yang dijadikan model pembuatan esai.

Sebagai penulis awal, siswa tentu saja belum mempunyai pengalaman tentang menulis esai. Siswa belum mengetahui apa saja yang bisa ditulis untuk membuat esai. Oleh karena itu, melalui esai contoh, siswa mendapatkan ide dan gagasan untuk menulis esai dengan  meniru tema pada esai contoh. Tema esai tersebut bisa ditiru tanpa mengubahnya, namun siswa juga bisa memodifikasikan dengan ide mereka sendiri.

Selain meniru tema, siswa juga diperbolehkan meniru ide pokok pada setiap paragraf. Tujuannya adalah supaya siswa terlatih menuliskan ide-ide mereka secara runtut. Walaupun sudah mendapatkan ide yang akan ditulis, siswa belum mampu menetapkan apa saja yang akan ditulis sehingga ide yang mereka dapatkan bisa menjadi esai. Dengan melihat dan meniru ide pokok tiap paragraf, siswa dibantu untuk mengidentifikasi hal-hal apa saja yang mendukung tema atau gagasan yang sudah mereka dapatkan.

Setelah siswa mendapatkan tema dan ide pokok tiap paragraf dari esai contoh, siswa diperbolehkan meniru pola pengembangan paragraf. Hal ini bertujuan untuk membimbing siswa dalam menyusun paragraf yang padu. Siswa bisa menuliskan ide pokok di awal atau di akhir paragraf sesuai dengan esai contoh.

Selanjutnya, siswa  mengembangkan ide pokok tersebut dengan kalimat-kalimat mereka sendiri. Ide penjelas pada esai contoh tidak boleh ditiru. Siswa harus menciptakan ide penjelas yang sesuai dengan ide pokok yang mereka tiru.  Tujuannya adalah supaya siswa berpikir mencarikan ide-ide apa saja yang sesuai dengan ide pokok yang ditentukan. Ternyata, walaupun tema, ide pokok, dan pola pengembangan paragraf sama, siswa mempunyai kalimat yang beragam dalam mengungkapkan ide-ide penjelas.

Setelah pelaksanaan siklus I, kemampuan siswa secara klasikal meningkat. Peningkatan kemampuan siswa menulis esai dari prasiklus ke siklus I signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa di akhir siklus I.

Walaupun peningkatan kemampuan menulis esai pada siklus I sudah signifikan, namun ada aspek kemampuan menulis esai yang perlu ditingkatkan lagi. Aspek itu adalah kemampuan siswa dalam menuliskan struktur esai, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup. Siswa belum mampu memberikan latar belakang masalah dengan tepat. Siswa juga belum melengkapi bagian pendahuluan dengan tujuan apa yang ingin dicapai melalui esai yang ditulisnya. Untuk menuliskan bagian isi atau pembahasan, siswa belum mampu mengemukakan fakta-fakta atau bukti-bukti yang mendukung pernyataan mereka. Selanjutnya, untuk bagian penutup, belum semua siswa yang memberikan simpulan dan saran yang sesuai dengan bagian pendahuluan dan isi atau pembahasan.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya petunjuk dan penjelasan dari guru bagaimana struktur esai yang benar. Pada awal siklus I, guru hanya memberikan teori bahwa esai itu terdiri dari tiga bagian. Bagian itu adalah pembuka, isi atau pembahasan, dan penutup. Penjelasan guru tidak disertai dengan contoh yang lengkap. Pada esai contoh, guru tidak mengelompokkan struktur esai. Akibatnya, siswa tidak memahami unsur apa saja yang harus ada dalam esai.

Pada siklus II proses belajar mengajar tetap menggunakan teknik tiru model. Sasaran utama pada siklus kedua adalah memperbaiki hal-hal yang belum mampu dicapai pada siklus pertama. Oleh karenanya, materi pembelajaran siklus kedua berbeda dengan siklus pertama. Materi pada siklus kedua lebih difokuskan pada struktur esai. Untuk itu, contoh esai yang diberikan kepada siswa   dikelompokkan berdasarkan unsur struktur esai (pendahuluan, isi/pembahasan, dan penutup).

Berbeda dari siklus I, pada siklus II siswa diberikan kebebasan menentukan tema yang akan mereka kembangkan menjadi esai sehingga siswa tidak terikat dengan tema yang ditentukan. Siswa mempunyai wawasan dan pengalaman tentang ide mereka sendiri. Dengan demikian, siswa  lebih mudah mengembangkan ide tersebut.

 

PENUTUP

Teknik tiru model dalam pembelajaran menulis esai membantu siswa dalam menuangkan ide-ide dan pikiran-pikirannya sehingga siswa lebih termotivasi untuk menulis dan berpikir lebih kritis. Dalam penggunaan model atau contoh esai, dituntut kejelian guru dalam memilih esai yang relevan dan mudah dipahami oleh siswa. Melalui esai yang sesuai dengan tingkat kepemahaman siswa, siswa akan lebih mudah memahami cara pengembangan ide dan gagasan dalam bentuk esai. Untuk itu, guru dapat menggunakan contoh esai sebagai bahan ajar untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis esai.

Adapun saran yang dapat disampaikan dalam tulisan ini agar  kemampuan menulis siswa meningkat, guru dapat menggunakan teknik tiru model. Dalam pemilihan model atau contoh yang digunakan  disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan usia siswa.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Achmadi, Muchsin. 1988. Materi Dasar Pengajaran Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: P2LPTK.

 

Akhadiah, Sabarti, dkk. 1992. Pembinaan Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

 

Akhadiah, Sabarti.1988. Evaluasi dalam Pengajaran Bahasa. Jakarta: P2LPTK.

 

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Atmazaki. 2006. Kiat-kiat Mengarang dan Menyunting. Padang: Citra Budaya Indonesia.

 

______. 2006. “Penelitian Tindakan Kelas sebagai Upaya Peningkatan Hasil Belajar”. Padang: UNP. Makalah tidak Dipublikasikan.

 

Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)). Jakarta: Depdiknas.

 

Djiwandono, M. Soenardi. 1996. Tes Bahasa dalam Pengajaran. Bandung: ITB.

 

F. Rahardi. 2006. Panduan Lengkap Menulis Artikel, Feature, dan Esai. Depok: Kawan Pustaka.

 

Halim, Amran, dkk. 1974. Ujian Bahasa. Bandung: Ganaco NV.

 

Hasanuddin WS. 2004. Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu.

 

Keraf, Gorys. 1994. Komposisi. Ende: Nusa Indah.

 

Marahimin, Ismail. 1999. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya.

 

Nurhadi, dkk. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/ CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Surabaya: Universitas Negeri Malang.

 

Semi, M. Atar.1990. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya.

 

Subyakto, Nababan, Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: P2LPTK.

 

Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: SIC.

 

Tarigan, Hendry Guntur. 1986. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

 

Tarigan, Jago dan Hendry Guntur Tarigan. 1986. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

 

Wiriaatmaja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda Karya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENULIS

 

Meldawati lahir di Dilam (Kecamatan Bukit Sundi, Kabupaten Solok), 17 Juni 1980. Menamatkan SD Inpres Dilam pada tahun 1993, menamatkan SMPN Koto Baru pada tahun 1996 dan menamatkan SMKN I Solok pada tahun 1999. Melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Padang (UNP) pada jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tamat tahun 2003. Tahun 2006,   melanjutkan pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pada Program Studi Pengajaran Bahasa, Konsentrasi Pengajaran Bahasa Indonesia di PPs UNP, tamat tahun 2008. Diangkat menjadi guru Bahasa Indonesia di SMAN I Hiliran Gumanti Kabupaten Solok semenjak Desember 2003 sampai Juni 2010. Juli 2010 Berdinas di SMAN I Gunung Talang sampai sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

ANALISIS BENTUK TINDAK TUTUR (SPEECH ACT) BERDASARKAN KONTEKS

ANALISIS BENTUK TINDAK TUTUR (SPEECH ACT)

BERDASARKAN KONTEKS

Oleh Meldawati

  1. I. PENDAHULUAN

Di dalam kegiatan bertutur, penutur tidak sekedar menyampaikan pesan, tetapi ia juga membangun hubungan sosial dengan petutur (mitra tutur). Penutur perlu memilih strategi bertutur yang dapat mengungkapkan pesan secara tepat dan tuturan itu dapat membangun hubungan sosial. Dengan kata lain, penutur tidak ‘asal buka mulut dalam bicara’ tetapi ia harus memikirkan terlebih dahulu tuturan yang akan dituturkannya. Anjuran bahwa sebelum orang bertutur, orang perlu memikirkan apa yang akan dituturkannya, seperti yang dianjurkan di dalam ungkapkan bahasa Minang Kabau, yaitu “mangok dahulu sabalun mangecek”

Untuk mencapai tujuan bertutur yang kedua, yaitu membangun hubungan sosial, penutur kadang-kadang bertutur dengan mengabaikan makna referensial ujaran yang dituturkan atau penutur sekadar melakukan komunikasi fatis (bertutur sekadar untuk basa-basi).

Walaupun ribuan kalimat tentang beragam topik dari berbagai sumber yang didengar oleh manusia setiap hari, mereka selalu berusaha untuk memahaminya. Mereka tidak mengalami kesulitan untuk memahami apa yang didengarnya, dan mereka cenderung menganggap bahwa pemahaman adalah hal yang sederhana saja. pemahaman merupakan proses mental yang dialami oleh pendengar dalam menangkap bunyi-bunyi yang diucapkan oleh si pembicara dan menggunakan bunyi-bunyian itu untuk menciptakan terjemahan dari apa yang difikirkan mengenai apa yang dimaksud oleh si pembicara.

Namun demikian, memahami ujaran bukanlah hal yang mudah. Disaat memahami ujaran seseorang  sering melakukan kesalahan sehingga terbukti bahwa pemahaman terhadap ujaran adalah persoalan yang sulit.

Untuk memahami sebuah ujaran, seseorang harus memahami dahulu urutan-urutan kata-kata yang mereka dengar dan melihat bahwa kata-kata itu membuat suatu kelompok. Akhirnya pendengar membuat terjemahan untuk kalimat tersebut.

Untuk membuat terjemahan terhadap kalimat atau ujaran-ujaran, harus memperhatikan konteks. Lebih tegas Yule (1996) mengatakan bahwa dalam melakukan analisis wacana tentu saja melibatkan sintaksis dan semantic, tetapi yang terutama adalah pragmatic. Pragmatik adalah hubungan antara tanda dengan para penafsir.

Apabila seseorang memberikan penafsiran ataupun terjemahan terhadap kalimat atau ujaran tanpa melihat konteksnya (tempat berbicaranya dimana, kapan pembicaraan berlangsung, siapa yang menuturkan kalimat atau ujaran, apa tujuan pembicaraan, cara penutur mengungkapkan gagasannya, bahasa apa yang dipakai, apakah penutur bertanya, memberitahu, memerintah atau meminta tolong, dan dalam suatu kegiatan apa tuturan itu disampaikan) maka ia diragukan untuk dapat menangkap informasi apa yang sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh penutur. Misalnya saja penutur berkata “Enak, ya!” bisa saja mempunyai penafsiran berbeda dari banyak orang yang mendengar ucapan tersebut. Pemahaman pendengar bisa saja penutur memberitahu bahwa yang “enak” itu brownies yang dimakannya dengan tujuan sekedar memberi informasi kepada pendengar dalam situasi pesta, atau mungkin pendengar menafsirkan penutur sedang mengejek lawan bicaranya yang dimarahi oleh ibu kost apabila pembicaraan itu terjadi di tempat pondokan putri dengan tujuan mengejek. Bahkan penafsiran orang bisa ratusan banyaknya.

Ternyata  begitu pentingnya konteks dalam memahami dan menafsirkan wacana. Konteks sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja ketika orang berusaha memperoleh makna yang sesungguhnya dari informasi yang didengar atau dibacanya.

 

  1. II. LANDASAN TEORITIS
  2. A. Tindak Tutur (Speech Act)

Austin (1962: 94-95) dan Searle (1969: 16) sama-sama menganggap tuturan adalah tindakan yadn disebut tindak tutur (speech act). Austin (1962: 109-120) membagi tindak tutur menjadi tiga, yaitu tindak lokusioner, tindak ilokusioner, dan tindak perlokusioner. Tindak lokusioner adalah tindak tutur dengan makna tuturan itu persis sama dengan makna kata-kata yang di dala kamus atau makna gramatikal. Tindak illokusioner adalah tindak tutur yang penutur menumpangkan maksud tertentu di dalam tuturan itu. TIndak perlokusioner adalah tindakan yang muncul akibat seseorang melakukan tindak tutur tertentu.

Searle (1976:1-24) mengelompokkan tindak tuturan menjadi lima jenis, yaitu (1) tindak tutur representarif, (2) direktif, (3) ekspresif, (4) komisif, dan (5) deklaratif. Tindak tutur representative adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya atas kebenaran yang dikatannya. Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penutur agar petutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Tindak tutur direktif mencakupi tindak tutur menyuruh, memohon, menyarankan, menghimbau, dan menasihati. Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yagn dilakukan dengan maksud untuk menilai atau mengevaluasi hal yang disebutkan di dalam tuturannya itu. Memuji dan mengkritik tergolong tindak tutur ekspresif. Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan hal yang disebutkan di dalam tuturan itu. Berjanji atau bersumpah termasuk dalam tindak tutur komisif. Tindak tutur deklaratif adalah tindak tutur yang dilakukan denan maksud menciptakan keadaan yang baru. Membatalkan dan mengizinkan termasuk tindak tutur deklarasi. Topik penkajian analisis ini adalah analisis bentuk tindak tutur (speech act) berdasarkan konteksnya.

 

  1. B. Konteks

Konsep teori konteks dipelopori oleh antropolog Inggris Bronislow Malinowski. Dia berpendapat bahwa untuk memahami ujaran harus diperhatikan konteks situasi. Berdasarkan analisis konteks situasi dapat dipecahkan aspek-aspek bermakna bahasa sehingga aspek-aspek linguistic dan aspek nonlinguistic dapat dikorelasikan (Pateda, 1994).

Selanjutnya Pateda mengatakan pada intinya teori konteks adalah (1) makna tidak terdapat pada unsur-unsur lepas yang berwujud kata. Tetapi terpadu pada ujaran secara keseluruhan dan (2) makna tidak boleh ditafsirkan secara dualis (kata dan acuan) atau secara trialis (kata, acuan dan tafsiran) tetapi merupakan satu fungsi atau tugas dalam tutur yang dipengaruhi oleh situasi.

Stubbs (1993) mengemukakan bahwa unsur-unsur konteks itu adalah pembicara, pendengar, pesan, latar atau situasi, saluran dan kode. Namun Freedle (1982) mengatakan bahwa konteks yang langsung berhubungan dengan tuturan adalah setting, partisipan, bentuk bahasa, topik, dan fungsi tindak tutur.

Hymes (1964) mengemukakan bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan  komponen yang tersimpulkan dalam akronim SPEAKING. Kedelapan komponen tersebut adalah:

S : Setting, yang merupakan tempat berbicara dan suasana bicara

P :   Participant, adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan

E :   End, merupakan tujuan petuturan

A : Act Sequeces, adalah bentuk ujaran atau suatu peristiwa di mana seseorang pembicara sedang mempergunakan kesempatan bicara

K :   Key, mengacu pada nada, cara dan ragam bahasa yang digunakan dalam menyampaikan pendapatnya dan cara mengemukakan pendapatnya.

I :   Instrument, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan seperti bahasa lisan, bahasa tulis, dan juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan seperti bahasa, dialek, dan lain-lain

N : Norm, yaitu aturan dalam berinteraksi misalnya yang berhubungan dengan aturan memberi tahu, memerintah, bertanya, minta maaf, basa-basi, mengkritik, dan sejenisnya

G : Genre, yaitu jenis kegiatan

 

Beberapa aturan atau norma berbahasa yang berfungsi dalam suatu tindak tutur sering terdapat dalam peristiwa bahasa adalah: (a) tindak tutur memberitahu adalah memberitahu sesuatu kepada lawan tuturnya, (b) tindak tutur perintah atau imperative merupakan peristiwa atau kalimat yang meminta lawan tutur untuk melakukan tindakan sesuai dengan maksud penutur, (c) tindak tutur bertanya adalah dimana penutur ingin mendapatkan suatu informasi dari lawan tutur, (d) tindak tutur minta maaf merupakan permintaan penutur kepada lawan tutur untuk menyampaikan penyesalannya karena telah melakukan suatu kesalahan atau suatu kejadian yang dirasakan kurang sopan, (e) tindak tutur basa basi merupakan adat sopan santun atau tata krama pergaulan penutur kepada lawan tutur, (f) tindak tutur mengritik adalah penutur memberikan kecaman dan tanggapan atau pertimbangan, (g) tindak pernyataan merupakan hal tindakan mengatakan atau menyelaskan, permakluman, dan pemberitahuan, (h) tindak tutur penegasan merupakan penjelasan atau penentua atau menerangkan, (i) tindak tutur persetujuan merupakan persetujuan merupakan pernyataan setuju dan mufakat, cocok, sesuai, (j) tindak tutur pengulangan, balik lagi  dan kembali ke semula, kembali mengungkapkan apa yang sudah dikatakan, (h) tindak tutur permohonan merupakan meminta sesuatu dengan hormat terhadap mendapat sesuatu.

Disamping itu, Brown (1987) mengemukakan ciri-ciri konteks relevan : addresser (pembicara) addressee (pendengar) topic (topik) setting (waktu, tempat dan situasi) channel (bahasa lisan atau bahasa tulisan) code (pilihan kata) event (kejadian)

Werth (dalam yasin 1991) membagi konteks atas : konteks situasional (ekstra linguistik) dan konteks linguistik. Konteks situasional diperinci lagi menjadi konteks budaya dan konteks langsung. Pembagian itu digambarkan pada diagram berikut:

 

Konteks langsung terdiri atas lima unsur (1) setting, meliputi tempat, waktu dan situasi, (2) partisipan, ialah pihak-pihak yang terlibat, (3) saluran bentuk bahasa lisan atau tulisan, (4) topik pembicaraan, (5) fungsi bahasa.

 

III.     PEMBAHASAN

Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan pada bagian II di atas, maka peranan konteks dalam menganalisis wacana dapat diaplikasikan untuk menganalisis wacana berikut. Data (wacana)  ini penulis dapatkan dengan merekam pembicaraan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari antara seorang wanita dengan tetangganya. Hasil rekaman percakapan tersebut penulis transkripsikan kedalam bentuk tulisan. Jenis bahasa adalah ragam bahasa lisan walaupun ditranskripsikan ke dalam bentuk tulisan.

Topik : Bertetangga

  1. 1. Transkripsi Percakapan

Setting: Waktu percakapan sekitar pukul 08.15 WIB di depan rumah petakan yang disewa oleh Ibu I dan Ibu II. Ibu I berusia kira-kira 26 tahun, suku Minang, mempunyai anak satu orang masih bayi, menyewa petakan di sebelah petakan sewaan Ibu II. Ibu II berusia kira-kira 37 tahun, suku Minang, Panggilan akrabnya Bunda, mempunyai dua orang anak bertetangga dengan Ibu I.

Pagi itu Ibu I akan menjemur pakaian di jemuran depan rumahnya, terlihat Ibu II sedang bersih-bersih di halamannya.

Ibu I : (Sambil menjemur pakaian, Ia menyapa Ibu II) “ Lagi bersih-bersih Nda?”

Ibu II : (Senyum, sambil menoleh sedikit ke arah Ibu I tanpa mengubah posisi duduknya, tangannya sibuk mencabuti rumput liar yang tumbuh di halamannya) “Ya, sudah terlalu panjang. Sudah hampir sampai ke pintu.” (tertawa kecil)

Ibu I : (Ikut tertawa juga) “Iya, ya, Nda. Apalagi musim hujan begini, tumbuhnya cepat sekali.”

Ibu II : “Ho Oh.”

Ibu I : “Kami juga… Ntar Nda, Tiara terbangun..” (Tiba-tiba pembicaraan terputus. Ibu I berlari ke dalam rumahnya karena terdengar tangis anaknya yang tadinya lagi tidur)

 

  1. 2. Analisis
  2. Secara umum percakapan dalam wacana lisan di atas terkesan sangat akrab karena Ibu I dan Ibu II sudah lama saling mengenal. Walaupun Ibu I sudah tahu bahwa Ibu II sedang bersih-bersih, tetap saja menanyakannya.

“Lagi bersih-bersih Nda?” Kalimat ini walaupun bersifat interogatif sesungguhnya hanya berfungsi sebagai sapaan untuk membuka percakapan.

  1. Jawaban “Ya” dari Ibu II menyatakan persetujuan bahwa dia memang sedang bersih-bersih. “Sudah terlalu panjang. Sudah hampir sampai ke pintu.”(kalimat deklaratif) Pernyataan ini hanya untuk memperakrab suasana. Walaupun rumputnya sudah panjang dan tumbuh banyak tidak beraturan, tidak mungkin sampai ke pintu karena antara pintu dengan halaman ada teras.
  2. Pernyataan Ibu I “Iya, ya, Nda. Apalagi musim hujan begini, tumbuhnya cepat sekali.” (kalimat deklaratif) menyetujui perkataan Ibu II dan seolah-olah mempertegas dan mencarikan penyebab dari pernyataan Ibu II tadi.
  3. Pernyataan Ibu II “Ho Oh.” Juga merupakan persetujuan dari penegasan Ibu I. Dari pernyataan ini terlihat bahwa Ibu I dan Ibu II sesungguhnya mempunyai pemikiran yang sama mengenai topik yang sedang mereka bicarakan.
  4. Pernyataan selanjutnya dari Ibu I memang belum selesai, tetapi kalau diteliti dari dua kata yang baru saja diucapkan (“Kami juga…”) dapat dikatakan kalau Ibu I akan menyatakan sesuatu bahwa keadaan halaman rumahnya sama halnya dengan Ibu II.

 

Dari analisis di atas dapat disimpulkan bahwa keseluruhan percakapan antara Ibu I dengan Ibu II hanyalah untuk menjaga keakraban di antara mereka. Suasana itu terlihat dari hampir seluruh pembicaraan yang diwarnai oleh senyum dan tertawa.

Memang terdapat kalimat yang tidak sempurna, kadang-kadang sulit diberi label. Hal itu juga dapat diterima dalam percakapan lisan karena konteks percakapan dan unsur-unsur paralinguistic sangat membantu untuk memahami ilokusi masing-masing.

Dapat bahwa upaya menjaga keakraban dengan orang lain dapat dilakukan dengan banyak cara. Orang bisa menyatakan keadaan keluarga, menyapa, bercanda, dan hal ringan lainnya. Akan tetapi yang sangat penting adalah percakapan itu perlu dihiasi dengn senyum atau ketawa. Hampir tidak ada percakapan mengakrabkan diri yang terkesan kaku.

Kesimpulannya, wacana lisan di atas mempunyai konteks sebagai berikut:

S : Setting, dalam wacana “bertetangga” adalah pukul 08.15 WIB di depan rumah petakan yang disewa oleh Ibu I dan Ibu II.

P : Participant, yang terlibat dalam pembicaraan wacana “bertetangga” adalah Ibu I berusia kira-kira 26 tahun, suku Minang, mempunyai anak satu orang masih bayi, menyewa petakan di sebelah petakan sewaan Ibu II. Ibu II berusia kira-kira 37 tahun, suku Minang, Panggilan akrabnya Bunda, mempunyai dua orang anak bertetangga dengan Ibu I.

E : End,  tujuan pembicaraan dalam wacana “bertetangga” adalah untuk menjaga keakraban di antara ibu I dan ibu II.

A : Act Sequeces, dalam wacana “bertetangga” ada berupa lokusi, perlokusi dan illokusi

K : Key, Penutur dalam wacana “bertetangga’ menggunakan basa-basi dalam   menjaga keakraban

I : Instrument, bahasa yang digunakan dalam wacana “bertetangga” adalah ragam lisan.

N : Norm, dalam wacana “bertetangga” ada berupa kalimat interogaif yang sebenarnya hanya berfungsi sebagai sapaan, dan beberapa kalimat deklaratif untuk menyatakan persetujuan dalam menjaga keakraban.

G : Genre, penutur dalam wacana “bertetangga” adalah ibu rumah tangga dalam kegiatan sehari-harinya.

 

IV. PENUTUP

Konteks sangat penting dalam memahami dan menafsirkan wacana. Konteks sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja ketika orang berusaha memperoleh makna yang sesungguhnya dari informasi yang didengar atau dibacanya. Menentukan konteks dalam pemahaman wacana tentu saja dengan memberikan penafsiran terhadap SPEAKING (setting, participant, end, act sequences, key, instrument, norm, and genre)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Djajasudarma, T. Fatimah. 1991. Wacana ke Arah Pemahaman Teks. Bandung: Program Pascasarjana UNPAD.

 

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS.

 

Hymes, Dell (Ed). 1964. language In Culture and Society. New York: Harper and Row.

 

Kartomiharjo, S. 1992. Analisis Wacana dan Penerapannya: Pidato Ilmiah dalam Rangka Pengukuhan Guru Besar IKIP Malang: IKIP Malang.

 

Lubis, A. Hamid Hasan. 1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.

 

Maksan, Marjusman. 1996. Bahasa Minangkabau suatu Kajian Sosiolinguistik. Forum Pendidikan IKIP Padang No. 2 Th. XXI – 1996.

 

Pateda, Mansoer. 1992. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa.

 

Purwo, Bambang Kaswanti (penyunting). 1993. PELLBA 6 (Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atmajaya: Keenam). Jakarta: Lembaga Bahasa Atmajaya.

 

Van Dijk, Teun. 1997. Text and Context, Exploration In The Semantics and Pragmatics of Discourse. London: Longman Group Limited.

 

________. 1997. Discours as Structure and Process. London: Sage Publication.

 

Wahab, Abdul. 1990. Butir-butir Linguistik. Surabaya: Airlangga University Press.

 

Wardhaugh, Ronald. 1988. An Introduction Sosiolinguistics. New York: Basil Blackwell Inc.

 

Werth, Paul. 1984. Focus, Coherence, and Emphasis. London: Croom Helm.

 

Widdowson. 1981. Exploration in Applied Linguistics. New York: Basil Blackwell Inc.

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

ANALISIS RETORIKA TERHADAP TAJUK RENCANA

ANALISIS RETORIKA TERHADAP TAJUK RENCANA

I. Pendahuluan

Komunikasi antarpersonal merupakan proses memberikan sesuatu kepada orang lain dengan kontak tertentu atau dengan mempergunakan suatu alat. Komunikasi interpersonal hanya melibatkan satu individu.

Penggunaanbahasa yang baik sangat mendukung komunikasi. Dengan menggunakan bahasa yang baik pihak yang dituju dalam komunikasi antarpersonal dapta menerima dan memahami pesan yang disampaikan komunikator, lebih dari itu, situasi komunikasi yang efektif dan serasipun dapat dikembangkan.

Kemampuan menggunakan bahasa yang baik tidak hanya terkait dengan kemampuan seseorang memahami dan menerapkan kaidah ketatabahasaan, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan seseorang memahami unsur-unsur yang terlibat dalam praktik komunikasi. Unsur-unsur itu mencakup siapa dan bagaimana karakteristik penerima pesan, tujuan penyampaian pesan, alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan, dan bagaimana karakteristik situasi komunikasi ketika penyampaian pesan berlangsung. Secara umum, bidang ilmu yang menelaah unsur-unsur komunikasi itu adalah retorika.

Retorika adalah ilmu yang mengajarkan tindak dan usaha yang efektif dalam persiapan, penataan, dan penampilan tutur untuk membina saling pengertian, kerja sama, serta kedamaian dalam kehidupan masyarakat (Oka, 1976: 44). Sedangkan Keraf (1986: 18) mendefinisikan retorika sebagai cara pemakaian bahasa sebagai seni, lisan maupun tulisan yang didasarkan pada suatu pengetahuan atau suatu metode yang teratur dan tersusun baik.

Menurut Richards dalam Atmazaki (2006: 1) retorika merupakan seni yang mengadaptasi wacana sebagai tujuan akhir, tujuan utama retorika adalah untuk menemukan cara agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Dari beberapa Pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa retorika merupakan kajian bagaimana kita bisa berkomunikasi atau berbicara di depan orang lain tidak menimbulkan kebosanan, kemuakan, kekesalan, dan membuat orang merasa tertarik, terpukau dengan penampilan kita.

Dalam kehidupan berkomunikasi, sering terjadi adanya komunikasi yang tidak lancara karena apa yang diucapakan oleh penutur tidak berarti dapat didengar oleh penerima, apa yang didengar penerima tidak berarti dapat dimengerti, apa yang dimengerti tidak berarti disetujui dan apa yang disetujui belum tentu dilaksanakan. Intinya, komunikasi yang baik adalah komunikasi yang mampu membangun saling pengertian dan pemahaman antar pihak yang terlibat dalam praktik komunikasi.

 

II. Aspek-aspek Retorika

  1. 1. Diksi dalam retorika

Kosa kata berbeda dengan diksi. Jika kosa kata merupakan kekayaan perbendaharaan kata yang ada dalam sistem kognitisi seseorang, maka diksi merupakan kemampuan orang mendayagunakan kosakatanya dalam kegiatan berkomunikasi. Diksi sangat dipengaruhi oleh kekayaan kosa kata seseorang.          Menurut Keraf (1984: 3) persoalan diksi atau pilihan kata jauh lebih luas dibandingkan dengan persoalan menjalin atau merangkai kata-kata itu dalam bertutur, lisan maupun tulis. Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata yang dipilihnya untuk menimbulkan gagasan-gagasan yagn tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa yang dipikirkan oleh penulis atau pembicara.

Untuk mendayagunakan ketepatan diksi, dituntuk kesadaran penulis atau pembicara mengetahui bagaimana hubungan antara bentuk bahasa dengan referensinya. Diksi hendaknya memenuhi dua syarat: pertama, kebakuan, yaitu: (a) kebakuan penulisan, alat ukurnya adalah EYD, atau ketepatan pengucapan, (b) kebakuan bentuk kata, alat ukurnya adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan, (c) kebakuan gramatikal, alat ukurnya Buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (BTBBBI). Kedua, ketepatan yaitu berkaitan dengan aspek makna, baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Untuk ketepatan makna leksikal alat ukurnya KBBI, sedangkan ketepatan makna gramatikal pada tingkat frasa, klausa dan kalimat diukur denan BTBBBI.

 

  1. 2. Kalimat efektif

Kemampuan menggunakan kalimat efektif merupakan salah satu unsur penting dalam retorika. Seorang komunikator hendaknya mampu mendayagunakan kalimat-kalimat yang efektif dalam kegiatan retorisnya. Kalimat dikatakan efektif apabila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan pesan berlangsung secara sempurna. Efektivitas hal ditentukan oleh: kebakuan, kesatuan gagasan, koherensi, kejelasan penekanan, kevariasian, kehematan, keparalelalan, dan kelogisan penalaran.

Kebakuan adalah penerapan EYD, diksi, struktur frase, klausa, dan kalimat. Kesatuan gagasan merupakan ketepatan seluruh unsur dalam mengungkapkan satu hal. Koherensi berkaitan dengan urutan unsur kalimat disusun secara tepat sesuai dengan kaidah sistem sintaksis bahasa Indonesia. Kejelasan berkaitan dengan kejelasan aspek atau hal yang ditekankan dalam kalimat. Kevariasian, berkaitan dengan kalimat tunggal atau kalimat majemuk yang digunakan dalam penyampaian ide. Kehematan, berkaitan dengan tidak ada unsur yang mubazir. Keparalelan Maksudnya kalimat yang digunakan tidak menimbulkan salah tafsir. Kelogisan berkenaan dengan makna kalimat.

 

  1. Penalaran

Menurut Keraf (1983: 5) penalaran adalah suatu proses berpikir yang berusaha menghubungkan fakta-fakta atau evidensi ang diketahui menuju pada suatu kesimpulan. Dengan demikian penalaran dapat diartikan sebagai pengambilan kesimpulan yang logis dan sesuai dengan fakta. Menurut Moeliono (1998: 2) bernalar memiliki Kedekatan dengan berpikir logis, proses menghubungkan data/fakta yang ada sehingga sampai pada simpulan. Dengan demikian, bernalar juga dapat diartikan sebagai proses pengambilan kesimpulan dari suatu hal. Dapat diambil kesimpulan kemampuan bernalar yang baik akan sangat membantu seseorang dalam menguasai retorika.

Moeliono (1989: 124) membagi jpenalaran atas dua: penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran deduktif adalah berpikir dari sesuatu secara umum ke hal yang bersifat khusus, sedangkan induktif adalah berpikir dari sesuatu yang khusus ke hal yang bersifat umum.

 

III. Analisis Tajuk Rencana Berdasarkan Aspek Retorika

Tajuk rencana merupakan ulasan dari berita utama di surat kabar. Melalui tajuk rencana seorang pembaca akan dapat lebih memahami berita utama yang disampaikan oleh surat kabar bersangkutan. Dengan demikian alangkah baiknya seorang penulis tajuk rencana mempunyai penguasaan terhadap ketiga aspek retorika di atas. Dengan penguasaan retorika maka tajuk rencana yang ditulis mampu menggugah perhatian pembaca dan dipahami dengan tepat oleh pembaca.

Dalam hal ini, tajuk rencana yang dianalisis adalah tajuk rencana yang terdapat dalam Harian Umum Haluan, Kamis, 08 Maret 2007. Tajuk rencana ini berjudul “Gempa Bumi Datang Sumbar Berduka”.

 

 

 

 

 

 

 

 

Analisis diksi, kalimat efektif dan penalaran dalam  tajuk rencana

No Kalimat Ketepatan Diksi Keefektifan Kalimat Penalaran

(paragraf)

T T T E T E D I  
1 2 3 4 5 6 7 8  
1.1 Sumatera Barat kembali dilanda gempa bumi dahsyat yang menimbulkan puluhan korban tewas dan kerugian harta benda yang tidak sedikit. 19 - - -  
1.2 Gempa yang terjadi menjelang tengah hari Selasa, 6 Maret 2007 ini membuat panik masyarakat Sumbar. 16 - -      
1.3 Getaran gempa terasa di seluruh Sumbar. 7 - -      
1.4 Sumbar berduka dan berkabung. 4 - -      
2.1 Kerusakan dan korban tewas terjadi di beberapa daerah kota dan kabupaten seperti Solok, Bukittinggi, Payakumbuh, Padangpanjang, Padang Pariaman dan Tandah Datar. 20 1 - -  
2.2 Daerah ini mengalami banyak korban karena pusat gempa di kawasan itu, bukan di laut. 13 1 -      
2.3 Kota Padang yang selama ini diramalkan akan terkena gelombang tsusami kalau gempa hebat terjadi, kemarin terhindar dari kerusakan hebat dan korban jiwa. 22 - -      
2.4 Walaupun getaran terasa begitu keras sehingga orang berlarian ke luar gedung, namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa dan harta benda. 20 - -      
3.1 Gempa kemarin tidak hanya terasa di Sumbar, melainkan juga di daerah Riau dan bahkan sampai ke luar negeri Singapura dan Malaysia. 21 - - -  
3.2 Ini menandakan bahwa kekuatan gempa itu amat kuat. 7 1 -      
4.1 Warga kota Padang menghadapi gempa kemarin terlihat panik dan trauma. 10 - - -  
4.2 Kebanyakan warga kota lari ke daerah ketinggian guna menyelamatkan diri dari kemungkinan tsunami. 12 1 -      
4.3 Hal ini disebabkan karena prediksi selama ini menyebutkan bahwa Padang akan dilanda tsunami dalam waktu dekat. 16 - -      
4.4 Ramalan inilah yang menyebabkan ketakutan luar biasa dari warga kota Padang. 11 - -      
5.1 Kita menilai bahwa manusia memang boleh meramal apa saja, tetapi keputusan tetap di tangan Tuhan. 14 1 - -  
5.2 Tahun lalu, tepatnya di bulan Maret 2006 kota Padang dilanda gempa berulang kali sehingga banyak ramalan bahwa daerah ini bakal diamuk tsunami dalam waktu dekat. 23 2 -      
5.3 Untuk itu, pemerintah kota melakukan persiapan seperti latihan menghadapi bahaya tsunami dan memasang peringatan dini akan tsunami. 17 - -      
6.1 Namun, setelah setahun berlalu, tsunami tidak terjadi di Padang. 9 - - -  
6.2 Malah daerah lain seperti Jogjakarta yang tidak pernah diramal akan dilanda gelombang laut, menjadi korban. 14 1 -      
6.3 Ini mengagetkan orang. 3 - -      
6.4 Rupanya ramalan orang meleset. 3 1 -      
7.1 Sekarang terjadi lagi gempa hebat di Sumbar, namun pusatnya tidak di laut. 12 - - -  
1 2 3 4 5 6 7 8  
7.2 Hal ini juga telah menghindarkan warga kota Padang dari bencana tsunami. 11 - -      
7.3 Namun, kita prihatin bahwa korban berjatuhan di daerah darat yang letaknya malah di pinggiran yang jauh dari laut. 18 - -      
8.1 Dulu banyak orang Padang ingin pindah ke daerah-daerah di Sumbar karena takut akan tsunami. 14 1 - -  
8.2 Mereka juga membangun rumah di daerah ketinggian seperti arah ke Indarung dan By Pass. 12 2 -      
8.3 Hal ini dilakukannya karena mereka menganggap bahwa tinggal di daerah lebih aman tidak bakal kena tsunami. 13 3 -      
9.1 Akan tetapi, benar juga kata pepatah “Tidak ajal berpantang mati”. 10 - - -  
9.2 Ajal memang tidak dapat ditentukan oleh manusia. 7 - -      
9.3 Langkah, rezeki, pertemuan, dan maut adalah urusan Allah. 7 1 -      
9.4 Tidak seorang pun tahu di mana dia akan mati atau mendapat rezeki. 12 - -      
9.5 Di mana saja kita diam, kalau bencana akan datang tidak ada orang yang bisa menghindari. 13 2 -      
9.6 Kini rupanya daerah yang dulu aman itu pula yang dihantam gempa dahsyat. 8 4 -      
9.7 Di sana pula korban berjatuhan. 4 1 -      
9.8 Padang yang diramalkan akan terkena bencana hebat, malah terhindar. 9 - -      
9.9 Itulah kekuasaan Tuhan yang harus kita renungkan. 7 - -      
10.1 Oleh karena itu, kita mengingatkan agar kita lebih mendekatkan diri kepada Allah. 11 1 - -  
10.2 Janganlah kita membuat ramalan-ramalan yang bukan-bukan karena Allah akan marah dan murka. 11 1 -      
10.3 Bencana itu adalah urusan Allah, dan ia bisa terjadi di mana-mana. 9 2 -      
10.4 Kemana saja engkau akan lari, kalau nasib akan celaka pun akan celaka jua. 11 2 -      
10.5 Sekarang perlu bagi kita semua adalah berdoa bagi keselamatan dan keamanan bersama. 10 2 -      
10.6 Kepada keluarga korban bencana gempa di Sumbar kita menyampaikan ucapan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. 12 1 -      
10.7 Semoga arwah para korban diterima di sisiNya dan keluarga yang ditinggalkan tabah menerima musibah ini. 14 1 -      

 

 

Keterangan:

 

T : Pilihan kata tepat

TT : Pilihan kata tidak tepat

E : Kalimat efektif

TE : Kalimat tidak efektif

D : Deduktif

I : Induktif

 

Berdasarkan hasil analisis di atas masih terdapat banyak kesalahan pemilihan kosa kata dalam penyampaian ide dan ketidakefektivan kalimat. Hal ini terlihat pada beberapa kalimat yang berupa opini seperti kalimat 3.2 Ini menandakan bahwa kekuatan gempa itu amat kuat. Kata “amat” tidak tepat, sehingga mengakibatkan kalimat tersebut tidak efektif. Kata “amat” bisa diganti dengan “sangat” sehingga kalimatnya akan menjadi efektif. “Ini menandakan bahwa kekuatan gempa itu sangat kuat.”

Begitu juga dengan dengan kosa kata dan kalimat lainnya yang tidak efektif. Pilihan kata yang tidak tepat apabila diganti dengan kata yang baku akan menjadikan kalimat itu efektif.

Di dalam tajuk rencana di atas terdapat pemborosan kata sehingga ada unsur mubazir dalam kalimat yang mengakibatkan kalimat tidak efektif. Ini terlihat pada kalimat 10.4 “Kemana saja engkau akan lari, kalau nasib akan celaka pun akan celaka jua.” Kalimat ini seharusnya “Kemana pun engkau lari, kalau nasib akan celaka tetap akan  celaka.”

Ketidakefektivan kalimat juga disebabkan karena pola kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat bahasa Indonesia. Ini terdapat pada kalimat 4.4 “Ramalan inilah yang menyebabkan ketakutan luar biasa dari warga kota Padang.” Kalimat ini seharusnya “Ramalan inilah yang menyebabkan warga kota Padang  ketakutan luar biasa.”

Hal lain yang membuat kalimat tidak efektif adalah karena penggunaan tanda baca yang tidak tepat. Ini terlihat dalam kalimat 3.1 “Gempa kemarin tidak hanya terasa di Sumbar, melainkan juga di daerah Riau dan bahkan sampai ke luar negeri Singapura dan Malaysia.” Kalimat ini seharusnya “Gempa kemarin tidak hanya terasa di Sumbar, melainkan juga di daerah Riau dan bahkan sampai ke luar negeri,  Singapura dan Malaysia.”

 

IV. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan:

  1. Masih terdapat kesalahan diksi dalam kalimat.
  2. Kesalahan diksi mengakibatkan kalimat tidak efektif.
  3. Dalam tajuk rencana tersebut kalimat tidak efektif juga disebabkan karena adanya unsur yang mubazir.
  4. Pola kalimat yang tidak mengikuti pola umum kalimat bahasa Indonesia juga mengakibatkan kalimat tidak efektif.
  5. Kesalahan penggunaan tanda baca juga mengakibatkan kalimat tidak efektif.
  6. Kesalahan diksi dan ketidakefektifan kalimat membuat pembaca sulit menerima informasi yang ingin disampaikan oleh penulis.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Alwi, Hasan (Ed). 2001. Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia: Paragraf. Jakarta: Depdiknas.

 

Keraf, Gorys. 1983. Komposisi. Flores: Nusa Indah.

 

________. 1984. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

 

Moeliono, M. Anton. 1989. Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar. Jakarta: Gramedia.

 

________. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

 

Rahmat, Jalaludin. 1992. Retorika Modern: Pendekatan Praktis. Bandung: Remaja Rosda Karya.

 

Semi, M. Atar. 1990. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya.

 

Tarigan, Hendry Guntur. 1985. Pengajaran Bahasa. Bandung: Angkasa.

 

________. 1998. Berbicara sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

 

Parera, Jos Daniel. 1991. Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta: Erlangga.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Menulis dengan Teknik Tiru Model

Menulis dengan teknik tiru model sangatlah mudah. Anda cukup mencari contoh tulisan yang akan digunakan sebagai model. Anda boleh meniru tema, ide pokok tulisan dan alur penulisan. Anda hanya meniru garis besarnya saja. Berikutnya Anda dapat mengembangkan tema, dan ide pokok dengan kalimat Anda sendiri. Tulisan baru akan lahir. Tentu saja tulisan yang baru ini adalah hasil karya Anda sendiri.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar