PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS ESAI MELALUI TEKNIK TIRU MODEL PADA SISWA KELAS XII IPA SMAN I HILIRAN GUMANTI

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS ESAI MELALUI TEKNIK TIRU MODEL PADA SISWA KELAS XII  IPA SMAN I HILIRAN GUMANTI

Meldawati

Abstrak: This study is aimed to observe a process of developing essays writing skill by using the technique of Copy Master used by the 12 grade students of the Natural Science program at SMAN I Hiliran Gumanti. The methodology used was action research, which involved two circles. The first and the second circle were done in two times meeting that each took place for about 2 x 45 minutes. The data on teachers’ actions, and students’ attitudes and activities in learning activities were collected from abservation technique using observation sheet as the tool. The data about students’ perceptions towards learning activities were gathered from questionnaires using the tool of survey questionnaires, and the data about students’ essays writing ability were collected from a test held. The results revealed that the technique of Copy Master could develop students’ essays writing skill. The findings have implication of how teachers of Bahasa Indonesia provide more models to develop students’ essays writing skill with a respect to their age and intellectual capability.

 

Kata kunci: teknik kopi master, menulis esai, SMAN I Hiliran Gumanti

PENDAHULUAN

Ada empat aspek yang selalu dilatih dan dikembangkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Keempat aspek itu adalah (1) mendengarkan, (2) berbicara, (3) membaca, dan (4) menulis. Empat aspek itu saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Oleh karenanya, di setiap satuan pendidikan, keempat aspek tersebut selalu dikembangkan.

Kemampuan menulis merupakan suatu komponen berbahasa yang rumit dan kompleks yang harus dipelajari dengan baik dan dilatih secara intensif baik berupa anjuran tugas dari guru maupun hasil kreativitas siswa itu sendiri. Untuk mencapai kemampuan ini, seorang siswa harus memahami aturan menulis yang meliputi penguasaan terhadap isi yang akan ditulis dan penguasaan teknik untuk mengorganisasikan ide-ide atau gagasan yang akan dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Kegiatan menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh pembelajaran yang dialami oleh siswa di sekolah. Pada tiap semester, siswa selalu dihadapkan pada materi keterampilan menulis. Bahkan, di akhir waktu pembelajaran, siswa diberikan ujian praktik menulis. Tidak hanya dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia saja, tetapi juga beberapa mata pelajaran lainnya, seperti menulis laporan pada mata pelajaran Biologi, Sosiologi, dan lainnya.

Salah satu keterampilan menulis yang harus dikuasai oleh siswa adalah kemampuan menulis esai. Esai merupakan karangan prosa yang berisi pandangan, pendapat, perasaan, dan pikiran pengarang terhadap suatu masalah. Struktur esai terdiri atas tiga bagian, yaitu (1) pendahuluan, (2) pembahasan, dan (3) kesimpulan (Atmazaki, 2006:109).

Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kemampuan menulis esai siswa di SMAN I Hiliran Gumanti masih rendah. Hal ini dapat terlihat dari hasil tes awal siswa dalam menulis esai. Struktur esai yang ditulis siswa belum lengkap (belum tergambarnya dengan jelas unsur pendahuluan, pembahasan, dan kesimpulan). Di samping itu, esai yang ditulis oleh siswa  hanya berupa  karangan yang direka-reka saja. Sementara itu, esai membutuhkan tanggapan yang disertai oleh alasan-alasan dan bukti-bukti yang bisa memperkuat pendapat penulis. Dengan demikian, siswa hanya mampu memperoleh nilai menulis esai di bawah Kriteria Kompetensi Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 65. Berdasarkan catatan penilaian menulis siswa yang ada pada penulis, umumnya siswa hanya memperoleh nilai 60 dan bahkan ada nilai 50.

Keterampilan menulis esai dapat dipengaruhi oleh aspek-aspek yang ada dalam proses belajar mengajar dan aspek-aspek yang berasal dari diri pembelajar itu sendiri serta lingkungannya. Aspek pengajaran meliputi silabus, materi, metode, strategi, teknik, media dan pengajar. Aspek-aspek nonpengajaran antara lain sikap, bakat bahasa, motivasi, keuletan, disiplin, kepribadian, daya ingatan, emosi, umur, kemampuan mengekspresikan gagasan, dan lingkungan.

Berdasarkan keadaan di atas, guru harus lebih kreatif menentukan metode dan teknik yang tepat dalam pembelajaran menulis. Dengan metode yang dimaksud diharapkan tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, metode itu harus dapat memotivasi siswa untuk berfikir kritis dalam  pembelajaran menulis esai. Salah satu cara yang digunakan untuk menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran menulis adalah melalui teknik tiru model.

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis esai siswa kelas XII IPA SMAN I Hiliran Gumanti. Adapun indikator keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tugas dengan baik adalah 75 % siswa mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan adalah 65.

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis esai. Peningkatan kemampuan menulis siswa tidak hanya meningkat secara sturktur esai saja tetapi juga meningkat dalam penggunaan bahasa yang efektif. Selain itu, penelitian ini juga dapat digunakan untuk mengajarkan materi menulis lainnya seperti menulis cerpen, menulis puisi dan lain-lain.

Berdasarkan pendapat para ahli, menulis merupakan kegiatan menuangkan ide, gagasan, dan pendapat ke dalam bentuk tulisan. Melalui tulisan seseorang bisa menyalurkan inspirasinya. Sebagaimana yang diungkapkan Widyamartaya (1992:9) bahwa menulis dapat dipahami sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami tepat seperti yang dimaksudkan oleh pengarang.

Menulis merupakan pengetahuan yang kompleks, yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Kegiatan menulis juga membutuhkan banyak tenaga, waktu dan perhatian yang sungguh-sungguh (Akhadiah, 1992:1).           Menulis meliputi berbagai aspek  yang saling terkait, yang perlu dikuasai untuk dapat menghasilkan suatu tulisan.

Untuk dapat dipahami dan diterima dengan baik oleh pembacanya, pengungkapan gagasan melalui karangan menuntut sejumlah kemampuan. Djiwandono (1996:129) menjelaskan bahwa dari segi isi, kemampuan menulis menuntut kemampuan untuk mengidenfikasi dan merumuskan gagasan pokok yang akan diungkapkan. Gagasan perlu disertai dengan pokok-pokok pikiran yang merupakan rincian dan uraian dari gagasan pokok itu. Pokok-pokok pikiran itu disusun menurut urutan yang logis agar mudah diikuti dan dimengerti pembaca. Hal ini menuntut kemampuan mengorganisasikan pokok pikiran.

Untuk mengungkapkan seluruh gagasan dan pokok pikiran diperlukan penguasaan terhadap berbagai aspek komponen berbahasa. Pertama-tama, perlu dipikirkan kosa kata yang sesuai dengan isi dan makna yang ingin diungkapkan. Kata-kata harus disusun dalam bentuk rangkaian kata menurut kaidah penyusunan kata, dituangkan dalam kalimat yang efektif, serta memenuhi persyaratan tata bahasa.

Selain itu, juga diperlukan kemampuan untuk menggunakan bahasa tertentu, sesuai dengan sifat dan tujuan penulisan karangan. Dalam kaitan dengan teknik penulisan, perlu diperhatikan aspek ejaan, dalam bentuk kemampuan untuk menuliskan kata dan penggunaan tanda baca dengan tepat. Semua itu merupakan bagian penting dari kemampuan menulis.

Halim, dkk (1974:35) menyatakan bahwa menulis adalah kemampuan mengorganisasikan dan mengekspresikan unsur-unsur yang meliputi: (1) isi karangan, (2) bentuk karangan, (3) tata bahasa, (4) gaya atau pilihan struktur dan kosa kata, dan (5) penerapan ejaan dan penguasaan tanda baca.

Menurut Semi (1990:10) untuk menghasilkan suatu tulisan yang baik setiap penulis harus memiliki lima keterampilan dasar dalam menulis karangan, yaitu: (1) keterampilan berbahasa, (2) keterampilan penyajian, (3) keterampilan perwajahan, (4) gaya atau pilihan struktur kosa kata, dan (5) penerapan ejaan dan penggunaan tanda baca. Tarigan (1986: 15) Mengemukakan kuantitas dan kualitas tingkat penguasaan kosa kata seseorang merupakan hal yang terbaik bagi perkembangan mentalnya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa mempelajari sebuah kata baru dengan sendirinya membawa efek dan pengaruh terhadap siswa.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis pada hakikatnya merupakan: (1) kemampuan mengorganisasikan dan mengekspresikan ide yang akan dituangkan dalam suatu karangan, (2) kemampuan menggunakan bahasa secara gramatikal, (3) kemampuan memilih kosa kata yang tepat, dan (4) kemampuan menggunakan ejaan resmi sesuai dengan kaidah yang berlaku. Untuk memperoleh kemampuan menulis diperlukan banyak latihan yang teratur dan kontinyu.

Esai pada awalnya berarti karangan prosa dengan bahasa dan cara menarik. Karangan ini biasanya membahas sebuah masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya (Hasanuddin WS, 2004:253). Kata kunci pada bentuk tulisan esai adalah adanya faktor analisis, interpretasi, dan refleksi. Karakter esai, umumnya nonteknis, nonsistematis, dengan karakter dari penulis yang menonjol (Rahardi, 2006:31).

Lebih lanjut Atmazaki (2006:109) mengartikan esai sebagai karangan prosa yang berisi pandangan, pendapat, perasaan, dan pikiran sejauh suatu masalah menggugah pikiran pengarang. Selanjutnya ditegaskan bahwa pada dasarnya struktur esai terdiri atas tiga bagian, yaitu: (1) pendahuluan, (2) pembahasan, (3) kesimpulan.

Hasanuddin WS (2004:253) mengemukakan dua jenis esai (1) esai formal, dan (2) esai nonformal. Esai formal merupakan karangan yang membahas suatu tema dan topik secara panjang lebar dan mendalam dengan tinjauan yang cukup objektif. Esai nonformal merupakan esai yang membahas karangan orang lain secara sepintas lalu sehingga agak bersifat subjektif.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa esai merupakan karya tulis yang ditulis berdasarkan pandangan penulis terhadap suatu masalah, objek atau peristiwa yang akan ditulisnya. Esai bersifat pribadi karena penulisan esai disesuaikan dengan gaya penulisan penulisnya. Struktur esai terdiri dari (1) pendahuluan, (2) pembahasan, (3) kesimpulan.

 

Teknik Tiru Model dalam Konteks Teori Pembelajaran

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Depdiknas, 2003:1). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Dalam hal ini, guru bertugas membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Guru bertugas mengelola kelas sebagai suatu tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).

Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama. Ketujuh kompenen itu adalah konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment).

Pemodelan (modeling) dalam CTL adalah pemberian model atau contoh yang bisa  ditiru. Guru bukan satu-satunya model dalam CTL. Model bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, mengerjakan tugas, bentuk tugas. Model dapat dirancang bersama-sama dengan siswa, bahkan siswa dapat ditunjuk untuk dijadikan sebagai model.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam pendekatan CTL terdapat strategi pemodelan. Strategi pemodelan dapat berupa teknik tiru model. Hal ini sesuai dengan pernyataan Depdiknas (2003:18) bahwa salah satu contoh praktik pemodelan adalah guru bahasa Indonesia menunjukkan teks berita dari Harian Kompas, Jawa Pos, dan sebagainya untuk dijadikan model pembuatan berita.

Keterampilan menulis erat kaitannya dengan keterampilan membaca. Untuk dapat menulis seseorang harus banyak membaca. Membaca adalah sarana utama menuju ke keterampilan menulis. Salah satu teknik menulis yang erat kaitannya dengan membaca adalah teknik tiru model. Teknik ini merupakan cara menulis dengan menggunakan sebuah contoh tulisan yang digunakan sebagai model. Tulisan model tidak ditiru secara keseluruhan. Model yang ditiru hanyalah kerangka dan bentuk karangannya sedangkan isi karangan tidak ditiru.

Marahimin (1999:21) menyatakan bahwa teknik tiru model pada dasarnya menuntut melakukan latihan-latihan sesuai dengan master yang diberikan. Model harus dibaca terlebih dahulu, dilihat isi dan bentuknya, dianalisis serta dibuatkan kerangkanya, kemudian menulis. Tulisan yang dibuat tidak sama persis seperti model, yang ditiru adalah kerangkanya, atau idenya, atau bahkan juga cara atau tekniknya.

Lebih lanjut Tarigan (1986:194) menegaskan bahwa cara menulis dengan meniru model adalah guru mempersiapkan suatu karangan model yang akan dijadikan contoh dalam menyusun karangan. Karangan siswa tidak persis sama, struktur karangan memang sama tetapi berbeda dalam isi.

Dapat disimpulkan bahwa teknik tiru model merupakan teknik yang dilakukan untuk menulis dengan menggunakan sebuah contoh tulisan yang digunakan sebagai model. Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan teknik tiru model adalah:

  1. Guru membagikan bahan ajar kepada siswa yang berupa contoh esai.
  2. Siswa membaca dan memahami bahan ajar tersebut.
  3. Guru membimbing siswa menentukan tiga unsur esai yang terdapat pada contoh esai.
  4. Siswa menentukan ide pokok dan ide penjelas dalam setiap paragraf.
  5. Siswa menentukan pola pengembangan setiap paragraf dari bahan ajar.
  6. Siswa menentukan tema esai.
  7. Siswa menulis esai berdasarkan tema esai contoh.
  8. Siswa diperbolehkan meniru tema, pola pengembangan paragraf esai contoh.
  9. Siswa tidak perbolehkan meniru semua bagian esai tersebut. Oleh karenanya, contoh esai dikumpulkan sebelum siswa diminta menulis esai.

 

METODE

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada siswa kelas XII IPA SMAN I Hiliran Gumanti. Kelas XII IPA di sekolah ini hanya terdiri dari satu kelas. Jumlah siswa kelas XII IPA  terdiri dari 18 orang. Dengan demikian, subjek penelitian ini berjumlah 18 orang siswa.

Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas empat langkah, meliputi: perencanaan (planning), pelaksanaan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Siklus pertama dilakukan sebanyak dua kali pertemuan. Sementara itu, siklus kedua dilakukan berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama. Pelaksanaan siklus pertama sama dengan siklus kedua sama. Perbedaannya, pada siklus kedua, materi dititikberatkan pada aspek-aspek yang belum berhasil dicapai oleh siswa pada siklus pertama. Pada siklus kedua, contoh esai dibedakan dengan contoh esai pada siklus pertama. Pada siklus kedua, siswa diberikan kebebasan memilih tema esai yang mereka tulis.

Dalam proses observasi, peneliti dibantu oleh satu orang guru bahasa Indonesia. Guru ini sebagai pengamat. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data selama penelitian berlangsung. Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif, yang menggambarkan aktivitas dan keantusiasan siswa, perubahan kinerja guru, hasil prestasi siswa, mutu pembelajaran, dan perubahan suasana kelas.

Sebelum memulai siklus pertama, diberikan tes awal kepada siswa. Tes tersebut berupa tes menulis esai lima paragraf. Tujuannya adalah untuk melihat kemampuan awal siswa dalam menulis. Hasil tes dianalisis dan dinilai. Berdasarkan hasil tes tersebut, disiapkan tindakan-tindakan apa yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis esai bagi siswa. Perolehan nilai siswa pada tes awal adalah sebagai berikut ini.

Tabel 1. Nilai Siswa pada Tes Awal

No Urut

Siswa

Jumlah

Skor

%

Penguasaan

1 15 75
2 11 55,0
3 7,6 38
4 16,3 81,5
5 9,3 46,5
6 14 70
7 9,66 48,3
8 14,3 71,5
9 17,3 86,5
10 14,66 73,3
11 10 50
12 9,3 46,5
13 8,3 41,5
14 13,3 66,5
15 11,6 58
16 12 60
17 12 60
18 8,6 43
Jumlah 214,22 1071,10
Rata-rata 11,9 59,51

 

Hasil tes awal menunjukkan bahwa nilai siswa paling tinggi adalah 86,5. Nilai  siswa paling rendah adalah 38. Nilai  rata-rata kelas adalah 59, 51. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa siswa telah memiliki pengetahuan dan pemahaman awal tentang menulis. Kondisi ini disebabkan oleh keterampilan menulis sudah pernah dipelajari pada tingkat pendidikan sebelumnya sehingga siswa sudah mengetahui  konsep-konsep dasar menulis. Namun demikian, siswa belum memahami tulisan yang berupa esai. Oleh karena itu, diperlukan tindakan-tindakan seperti pada siklus I.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Siklus Pertama

Siklus pertama dilakasanakan sebanyak dua kali pertemuan. Tahapan dalam siklus pertama ini adalah sebagai berikut ini.

  1. Perencanaan

Berdasarkan hasil tes awal, direncanakan hal-hal berikut ini. Pertama, perencanaan untuk menggunakan teknik tiru model. Kedua, menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan kompetensi dasar menulis esai. Ketiga, mempersiapkan berbagai contoh esai. Keempat, mempersiapkan bentuk penugasan. Kelima, mempersiapkan rancangan penilaian. Penilaian esai meliputi empat aspek, yaitu kelengkapan unsur struktur esai (pendahuluan, isi/pembahasan, dan penutup), keruntutan penataan ide, kepaduan gagasan, dan keefektifan kalimat. Keenam, mempersiapkan lembaran observasi teman sejawat.

  1. Pelaksanaan

1) Pertemuan I

Pada pertemuan pertama, siswa dibagi kedalam empat kelompok. Setelah siswa duduk berkelompok, siswa diberikan  penjelasan mengenai cara menulis esai melalui teknik tiru model. Contoh esai dibagikan kepada siswa. Siswa diminta untuk membaca dan memahami contoh esai. Dalam hal ini, siswa bersama teman sekelompok diminta untuk mendiskusikan definisi esai, ciri-ciri esai, tema esai, ide pokok dan ide penjelas dari setiap paragraf, dan pola pengembangan setiap paragraf yang terdapat di dalam esai.

Siswa diberikan pengukuhan berdasarkan tema, ide pokok, dan pola pengembangan esai contoh, setiap siswa diminta untuk menulis esai. Siswa diperbolehkan meniru tema, ide pokok, dan pola pengembangan paragraf pada esai contoh yang sudah mereka diskusikan. Esai  yang sudah ditulis oleh siswa dikumpulkan.

Materi pembelajaran disimpulkan. Selanjutnya, proses belajar mengajar ditutup.

2) Pertemuan II

Pada pertemuan kedua ini, siswa tidak duduk berkelompok. Hasil kerja siswa dikembalikan. Tugas siswa yang dikembalikan berupa hasil ketikan yang diketik sesuai dengan tulisan asli siswa. Tujuannya adalah supaya siswa dapat mengoreksi tugasnya langsung pada lembaran kerja. Kemudian, beberapa orang siswa membacakan esainya di depan kelas. Siswa yang lain memberikan komentar (Tidak semua siswa ke dapan kelas). Selanjutnya, tulisan terbaik siswa dimuat di majalah dinding (Mading) di sekolah.

Setelah beberapa orang siswa mewakili ke depan. Siswa diminta untuk mengoreksi tugas teman sebangkunya dari segi kelengkapan struktur esai, kertuntutan penataan ide, kepaduan gagasan, dan keefektifan kalimat. Kemudian, siswa saling mengoreksi esai temannya dari segi kelengkapan struktur esai, keruntutan penataan ide, kepaduan gagasan dan keefektifan kalimat. Setelah selesai, hasil penilaian siswa terhadap esai temannya dicek kembali. Esai siswa dikumpulkan kembali. Pelajaran ditutup setelah materi pembelajaran disimpulkan.

 

 

  1. Observasi/ Evaluasi

Pengamatan terhadap proses peningkatan kemampuan menulis esai dengan menggunakan teknik tiru model  meliputi dua hal. Pertama, pengamatan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar oleh guru di dalam kelas. Kedua, pengamatan terhadap aktivitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Dalam melakukan pengamatan, digunakan bantuan teman sejawat.

Berikut adalah rekapitulasi aktivitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar pada pertemuan 1 siklus I.

Tabel 2. Rekapitulasi Aktivitas Siswa pada Pertemuan 1 Siklus I

No. Aspek yang diamati Rata-rata Skor Klasifikasi
1 Perhatian siswa terhadap berbagai aktivitas dalam PBM 3,61 Baik
2 Keaktifan siswa dalam diskusi kelompok 3,46 Baik
3 Keaktifan siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat 2,22 Kurang
4 Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan 1,83 Kurang
5 Suasana hati siswa dalam PBM 4 Baik
  Jumlah 15,12  
  Rata-rata 3,02 Cukup

 

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa perhatian, keaktifan dalam diskusi kelompok, dan suasana hati siswa dalam PBM baik. Hal ini dapat dilihat dari perolehan skor dengan klasifikasi baik. Sedangkan, keaktifan siswa dalam mengemukakan pendapat masih kurang. Ini terlihat dari perolehan skor dan klasifikasi baik.

Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar pada pertemuan kedua dalam siklus I adalah sebagai berikut ini.

 

 

Tabel 3. Rekapitulasi Aktivitas Siswa pada Pertemuan ke-2 Siklus I

No. Aspek yang diamati Rata-rata Skor Klasifikasi
1 Perhatian siswa terhadap berbagai aktivitas dalam PBM 3,67 Baik
2 Keaktifan siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat 2,56 Kurang
3 Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan 1,94 Kurang
4 Suasana hati siswa dalam PBM 4 Baik
  Jumlah 12,17  
  Rata-rata 3,04 Cukup

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa perhatian dan suasana hati siswa dalam PBM baik. Hal ini terlihat pada perolehan skor dan klasifikasi baik. Sedangkan, keaktifan siswa dalam mengemukakan pendapat kurang. Hal ini terlihat dari perolehan skor dan klasifikasi kurang.

3) Penilaian Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa pada siklus satu adalah sebagai berikut ini.

Tabel 4. Nilai Siswa pada Siklus 1

No Urut Siswa Jumlah %

Penguasaan

1 16 80
2 13,7 68,5
3 14,3 71,5
4 17 85
5 17,3 86,5
6 15,3 76,5
7 14,7 73,5
8 17,7 88,5
9 15,7 78,5
10 17,7 88,5
11 14 70
12 15,7 78,5
13 15,3 76,5
14 17,3 86,5
15 17,7 88,5
16 13,6 68
17 16 80
18 16 80
Jumlah 285 1425
Rata-rata 15,83 79,17

 

Hasil tes pada siklus I menunjukkan bahwa nilai tertinggi adalah 88,5. Nilai terendah adalah 68. Nilai rata-rata kelas adalah 79,17. Ini menunjukkan bahwa keterampilan siswa kelas XII IPA dalam menulis, secara klasikal sudah memperoleh peningkatan. Namun demikian, ketuntasan individu belum tercapai. Masih ada dua orang siswa yang mempunyai nilai di bawah KKM yang ditetapkan, yaitu 70.

d. Refleksi

Berdasarkan hasil catatan lapangan oleh guru, hasil pengamatan oleh teman sejawat, dan hasil belajar siswa tergambar bahwa secara klasikal telah terjadi peningkatan keterampilan menulis esai bagi siswa kelas XII IPA. Namun demikian, ketuntasan individu belum tercapai. Pada umumnya, siswa belum memahami struktur esai. Untuk meningkatkan kemampuan siswa menentukan dan menuliskan struktur esai (pendahuluan, isi/pembahasan, dan penutup), perlu dilakukan: 1) Mencarikan contoh esai yang lebih mudah dipahami oleh siswa. 2) Memberikan penjelasan kepada siswa mengenai stuktur esai. 3) Memberikan pengetahuan kepada siswa bagaimana cara berkomunikasi secara lisan. 4) Memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih tema dalam menulis esai. 5) Memberikan bimbingan khusus kepada individu.

Siklus Kedua

a. Perencanaan

Berdasarkan refleksi tentang proses dan hasil belajar siklus pertama, dilakukan penyusunan RPP, materi dan bahan ajar yang sesuai dengan tujuan  perbaikan siklus kedua. Perencanaan penugasan, pada siklus kedua, penugasan berbeda dengan siklus pertama. Pada siklus kedua,  diberikan kebebasan kepada siswa untuk menentukan tema tulisan. Mempersiapkan format penilaian hasil belajar dan lembaran observasi.

b. Pelaksanaan

Pada siklus kedua, proses belajar mengajar dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan. Satu kali pertemuan adalah 2 x 45 menit.

1) Pertemuan I

Aspek utama yang harus ditingkatkan pada siklus kedua adalah pengetahuan dan pemahaman siswa tentang struktur esai. Berikutnya, kepada siswa diberikan penjelasan yang lebih rinci tentang struktur esai. Penjelasan ini diberikan berdasarkan  contoh esai yang diberikan kepada siswa. Pada contoh esai, sudah dikelompokkan bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup. Setelah diberikan penjelasan, secara individu siswa diminta untuk menentukan struktur esai pada esai contoh yang lainnya. Siswa diminta untuk menentukan tema, dan pola pengembangan tiap paragraf.

Setelah hasil temuan siswa didiskusikan, siswa diminta untuk menulis esai lima paragraf dengan memperhatikan kelengkapan unsur struktur esai. Untuk tidak mengikat kreativitas siswa dalam menulis esai, pada siklus II, siswa diberikan kebebasan untuk memilih tema esai yang akan mereka tulis.

2)    Pertemuan II

Pada pertemuan kedua, beberapa orang siswa membacakan esainya di depan kelas. Siswa lain memberikan komentar. Esai yang sudah ditulis oleh siswa dikoreksi secara bersama, tujuannya adalah supaya siswa tersebut lebih memahami tingkat kemampuan mereka dalam menulis esai. Setelah itu guru dan siswa menyimpulkan materi pembelajaran.

  1. Observasi/ Evaluasi

Sama halnya dengan siklus I, pada siklus II ini, pengamatan terhadap proses peningkatan kemampuan menulis esai dengan menggunakan teknik tiru model  juga meliputi dua hal. Pertama, pengamatan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar oleh guru di dalam kelas. Kedua, pengamatan terhadap aktivitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Dalam melakukan pengamatan, digunakan bantuan teman sejawat.

Berikut adalah rekapitulasi aktivitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar pada pertemuan 1 siklus II.

Tabel 5. Rekapitulasi Aktivitas Siswa pada Pertemuan 1 Siklus II

No. Aspek yang diamati Rata-rata Skor Klasifikasi
1 Perhatian siswa terhadap berbagai aktivitas dalam PBM 4 Baik
2 Keaktifan siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat 2,37 Kurang
3 Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan 1,95 Kurang
4 Suasana hati siswa dalam PBM 4 Baik
  Jumlah 12,32  
  Rata-rata 3,08 Cukup

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa perhatian dan suasana siswa dalam PBM baik. Sedangkan  keaktifan siswa masih kurang.

Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar pada pertemuan kedua dalam siklus II adalah sebagai berikut ini.

Tabel 6. Rekapitulasi Aktivitas Siswa pada Pertemuan 2 Siklus II

No. Aspek yang diamati Rata-rata Skor Klasifikasi
1 Perhatian siswa terhadap berbagai aktivitas dalam PBM 4,11 Baik
2 Keaktifan siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat 2,74 Kurang
3 Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan 1,95 Kurang
4 Suasana hati siswa dalam PBM 4 Baik
  Jumlah 12,79  
  Rata-rata 3,08 Cukup

 

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa perhatian dan suasana siswa dalam PBM baik. Sedangkan  keaktifan siswa masih kurang.

3) Penilaian Hasil Belajar Siswa

Nilai siswa pada siklus dua adalah sebagai berikut ini.

Tabel 7. Nilai Siswa pada Siklus II

No Urut Siswa Jumlah %

Penguasaan

1 18,67 93,35
2 17,30 86,5
3 18,67 93,35
4 19,00 95
5 17,00 85
6 18,30 91,5
7 18,30 91,5
8 18,00 90
9 19,00 95
10 18,67 93,35
11 18,30 91,5
12 16,00 80
13 16,67 83,35
14 18,00 90
15 19,67 98,35
16 16,30 81,5
17 19,00 95
18 17,00 85
Jumlah 323,85 1619,25
Rata-rata 17,99 89,96

 

Hasil tes pada siklus II menunjukkan bahwa nilai tertinggi adalah 98,35. Nilai terendah adalah 80. Nilai rata-rata kelas adalah 89,96. Ini menunjukkan bahwa keterampilan siswa kelas XII IPA dalam menulis esai, secara klasikal sudah memperoleh peningkatan.

d.   Refleksi

Berdasarkan hasil catatan lapangan oleh guru, hasil pengamatan oleh teman sejawat, dan hasil belajar siswa tergambar bahwa telah terjadi peningkatan keterampilan menulis esai bagi siswa kelas XII IPA. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa penelitian ini tidak perlu dilanjutkan ke siklus III.

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan deskripsi data, terlihat bahwa keamampuan menulis esai siswa pada prasiklus sangat memprihatinkan. Dari 18 orang siswa, hanya 6 orang siswa yang memperoleh nilai diatas KKM yang ditentukan, yaitu 70. Bahkan, ada siswa yang memperoleh nilai 38. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 59,51. Artinya, ketuntasan belajar secara klasikal maupun individu belum tercapai.

Kegagalan siswa menulis esai pada prasiklus disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, siswa belum bisa menuliskan ide dalam bentuk pendahuluan, isi, dan penutup. Hal ini dapat dilihat dengan perolehan skor siswa dalam kemampuan menulis struktur esai hanya 2,79. Kesulitan ini disebabkan karena siswa belum mengetahui struktur esai. Sebelum menulis esai, mereka tidak diberikan penjelasan terperinci mengenai esai.

Kedua, siswa tidak mampu menuangkan ide tersebut secara efektif. Ini terlihat dari perolehan skor siswa dalam kemamuan menulis kalimat efektif hanya 2,78. Artinya, siswa belum mampu menulis kalimat efektif. Penyebabnya adalah ketidaktepatan siswa dalam menggunakan ejaan, kosa kata, dan struktur kalimat. Selama ini, keefektifan kalimat kurang menjadi perhatian dalam pembelajaran sehingga kesalahan-kesalahan dalam menulis kalimat menjadi kebiasaan di kalangan siswa.

Ketiga, siswa belum mampu menuangkan ide secara runtut. Hal ini dapat dilihat dari perolehan skor 3,22. Artinya, kemampuan siswa menuangkan ide secara runtut masih cukup. Siswa belum menguasai pola pengembangan ide dengan baik sehingga terdapat ide yang urutannya tidak tepat.

Keempat, siswa belum mampu menuangkan gagasan secara padu. Hal ini terlihat dari perolehan skor 3,11. Artinya, kemampuan siswa menuangkan gagasan yang padu masih cukup. Dalam menuangkan gagasan, masih terdapat gagasan-gagasan yang tidak sesuai dengan gagasan pokok. Ini mengakibatkan terpecahnya gagasan dalam paragraf.

Dari uraian di atas jelas bahwa siswa belum memenuhi kriteria penulisan esai yang baik. Kriteria penulisan esai dalam hal ini terkait dengan empat aspek penilaian esai. Keempat aspek tersebut adalah kelengkapan unsur struktur esai, keruntututan penataan ide, kepaduan gagasan, dan keefektifan kalimat.

Perolehan nilai siswa pada prasiklus menunjukkan bahwa kemampuan siswa menulis esai masih rendah. Artinya, kemampuan berkomunikasi siswa melalui bahasa tulis rendah. Untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa, guru harus melakukan tindakan. Sejalan dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning [CTL]) bahwa guru bertugas membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi mengajar. Guru bertugas mengelola kelas sebagai suatu tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Guru tidak mentransfer pengetahuan kepada siswa (Depdiknas, 2003:1).

Sesuai dengan penerapan teknik tiru model, pada siklus I dilaksanakan PBM menulis esai dengan memberikan contoh-contoh esai kepada siswa. Selanjutnya, diikuti cara pelaksanaan tiru model yang  dikemukakan oleh Marahimin (1999:21) bahwa teknik tiru model pada dasarnya menuntut melakukan latihan-latihan sesuai dengan contoh yang diberikan. Contoh harus dibaca terlebih dahulu, dilihat isi dan bentuknya, dianalisis serta dibuatkan kerangkanya, kemudian menulis. Tulisan yang dibuat tidak sama persis seperti contoh, yang ditiru adalah kerangkanya, atau idenya, atau bahkan juga cara atau tekniknya.

Hasil penelitian menggambarkan bahwa proses belajar mengajar menulis esai dengan teknik tiru model mampu meningkatkan kemampuan siswa menulis esai. Proses pembelajaran yang dilakukan sangat membantu siswa. Melalui teknik tiru  model siswa dibantu untuk lebih memahami konsep esai. Melalui contoh esai yang diberikan, siswa mendapatkan gambaran, dan bentuk yang nyata dari esai. Bahkan, contoh-contoh yang sesuai dengan tingkat pemahaman dan usia siswa, membuat siswa tertarik dan lebih termotivasi untuk menulis.

Pada siklus I, siswa menulis esai berdasarkan contoh. Peningkatan hasil belajar pada siklus I disebabkan karena proses menulis esai dengan teknik tiru model berbeda dengan teknik sebelumnya. Proses pembelajaran dengan teknik tiru model membantu siswa mengongkritkan konsep esai.  Dengan contoh, siswa mendapatkan gambaran yang nyata bahwa ternyata esai yang sudah dipelajari berdasarkan teori adalah seperti yang ada pada mereka sehinggga siswa memiliki representasi mental tentang esai. Hal ini sejalan dengan pernyataan Depdiknas (2003:18) bahwa salah satu contoh praktik pemodelan adalah guru bahasa Indonesia menunjukkan teks berita dari Harian Kompas, Jawa Pos, dan sebagainya untuk dijadikan model pembuatan berita. Dengan demikian, dalam penelitian ini, peneliti menggunakan contoh esai yang dijadikan model pembuatan esai.

Sebagai penulis awal, siswa tentu saja belum mempunyai pengalaman tentang menulis esai. Siswa belum mengetahui apa saja yang bisa ditulis untuk membuat esai. Oleh karena itu, melalui esai contoh, siswa mendapatkan ide dan gagasan untuk menulis esai dengan  meniru tema pada esai contoh. Tema esai tersebut bisa ditiru tanpa mengubahnya, namun siswa juga bisa memodifikasikan dengan ide mereka sendiri.

Selain meniru tema, siswa juga diperbolehkan meniru ide pokok pada setiap paragraf. Tujuannya adalah supaya siswa terlatih menuliskan ide-ide mereka secara runtut. Walaupun sudah mendapatkan ide yang akan ditulis, siswa belum mampu menetapkan apa saja yang akan ditulis sehingga ide yang mereka dapatkan bisa menjadi esai. Dengan melihat dan meniru ide pokok tiap paragraf, siswa dibantu untuk mengidentifikasi hal-hal apa saja yang mendukung tema atau gagasan yang sudah mereka dapatkan.

Setelah siswa mendapatkan tema dan ide pokok tiap paragraf dari esai contoh, siswa diperbolehkan meniru pola pengembangan paragraf. Hal ini bertujuan untuk membimbing siswa dalam menyusun paragraf yang padu. Siswa bisa menuliskan ide pokok di awal atau di akhir paragraf sesuai dengan esai contoh.

Selanjutnya, siswa  mengembangkan ide pokok tersebut dengan kalimat-kalimat mereka sendiri. Ide penjelas pada esai contoh tidak boleh ditiru. Siswa harus menciptakan ide penjelas yang sesuai dengan ide pokok yang mereka tiru.  Tujuannya adalah supaya siswa berpikir mencarikan ide-ide apa saja yang sesuai dengan ide pokok yang ditentukan. Ternyata, walaupun tema, ide pokok, dan pola pengembangan paragraf sama, siswa mempunyai kalimat yang beragam dalam mengungkapkan ide-ide penjelas.

Setelah pelaksanaan siklus I, kemampuan siswa secara klasikal meningkat. Peningkatan kemampuan siswa menulis esai dari prasiklus ke siklus I signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa di akhir siklus I.

Walaupun peningkatan kemampuan menulis esai pada siklus I sudah signifikan, namun ada aspek kemampuan menulis esai yang perlu ditingkatkan lagi. Aspek itu adalah kemampuan siswa dalam menuliskan struktur esai, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup. Siswa belum mampu memberikan latar belakang masalah dengan tepat. Siswa juga belum melengkapi bagian pendahuluan dengan tujuan apa yang ingin dicapai melalui esai yang ditulisnya. Untuk menuliskan bagian isi atau pembahasan, siswa belum mampu mengemukakan fakta-fakta atau bukti-bukti yang mendukung pernyataan mereka. Selanjutnya, untuk bagian penutup, belum semua siswa yang memberikan simpulan dan saran yang sesuai dengan bagian pendahuluan dan isi atau pembahasan.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya petunjuk dan penjelasan dari guru bagaimana struktur esai yang benar. Pada awal siklus I, guru hanya memberikan teori bahwa esai itu terdiri dari tiga bagian. Bagian itu adalah pembuka, isi atau pembahasan, dan penutup. Penjelasan guru tidak disertai dengan contoh yang lengkap. Pada esai contoh, guru tidak mengelompokkan struktur esai. Akibatnya, siswa tidak memahami unsur apa saja yang harus ada dalam esai.

Pada siklus II proses belajar mengajar tetap menggunakan teknik tiru model. Sasaran utama pada siklus kedua adalah memperbaiki hal-hal yang belum mampu dicapai pada siklus pertama. Oleh karenanya, materi pembelajaran siklus kedua berbeda dengan siklus pertama. Materi pada siklus kedua lebih difokuskan pada struktur esai. Untuk itu, contoh esai yang diberikan kepada siswa   dikelompokkan berdasarkan unsur struktur esai (pendahuluan, isi/pembahasan, dan penutup).

Berbeda dari siklus I, pada siklus II siswa diberikan kebebasan menentukan tema yang akan mereka kembangkan menjadi esai sehingga siswa tidak terikat dengan tema yang ditentukan. Siswa mempunyai wawasan dan pengalaman tentang ide mereka sendiri. Dengan demikian, siswa  lebih mudah mengembangkan ide tersebut.

 

PENUTUP

Teknik tiru model dalam pembelajaran menulis esai membantu siswa dalam menuangkan ide-ide dan pikiran-pikirannya sehingga siswa lebih termotivasi untuk menulis dan berpikir lebih kritis. Dalam penggunaan model atau contoh esai, dituntut kejelian guru dalam memilih esai yang relevan dan mudah dipahami oleh siswa. Melalui esai yang sesuai dengan tingkat kepemahaman siswa, siswa akan lebih mudah memahami cara pengembangan ide dan gagasan dalam bentuk esai. Untuk itu, guru dapat menggunakan contoh esai sebagai bahan ajar untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis esai.

Adapun saran yang dapat disampaikan dalam tulisan ini agar  kemampuan menulis siswa meningkat, guru dapat menggunakan teknik tiru model. Dalam pemilihan model atau contoh yang digunakan  disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan usia siswa.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Achmadi, Muchsin. 1988. Materi Dasar Pengajaran Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: P2LPTK.

 

Akhadiah, Sabarti, dkk. 1992. Pembinaan Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

 

Akhadiah, Sabarti.1988. Evaluasi dalam Pengajaran Bahasa. Jakarta: P2LPTK.

 

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Atmazaki. 2006. Kiat-kiat Mengarang dan Menyunting. Padang: Citra Budaya Indonesia.

 

______. 2006. “Penelitian Tindakan Kelas sebagai Upaya Peningkatan Hasil Belajar”. Padang: UNP. Makalah tidak Dipublikasikan.

 

Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)). Jakarta: Depdiknas.

 

Djiwandono, M. Soenardi. 1996. Tes Bahasa dalam Pengajaran. Bandung: ITB.

 

F. Rahardi. 2006. Panduan Lengkap Menulis Artikel, Feature, dan Esai. Depok: Kawan Pustaka.

 

Halim, Amran, dkk. 1974. Ujian Bahasa. Bandung: Ganaco NV.

 

Hasanuddin WS. 2004. Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu.

 

Keraf, Gorys. 1994. Komposisi. Ende: Nusa Indah.

 

Marahimin, Ismail. 1999. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya.

 

Nurhadi, dkk. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/ CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Surabaya: Universitas Negeri Malang.

 

Semi, M. Atar.1990. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya.

 

Subyakto, Nababan, Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: P2LPTK.

 

Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: SIC.

 

Tarigan, Hendry Guntur. 1986. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

 

Tarigan, Jago dan Hendry Guntur Tarigan. 1986. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

 

Wiriaatmaja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda Karya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENULIS

 

Meldawati lahir di Dilam (Kecamatan Bukit Sundi, Kabupaten Solok), 17 Juni 1980. Menamatkan SD Inpres Dilam pada tahun 1993, menamatkan SMPN Koto Baru pada tahun 1996 dan menamatkan SMKN I Solok pada tahun 1999. Melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Padang (UNP) pada jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tamat tahun 2003. Tahun 2006,   melanjutkan pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pada Program Studi Pengajaran Bahasa, Konsentrasi Pengajaran Bahasa Indonesia di PPs UNP, tamat tahun 2008. Diangkat menjadi guru Bahasa Indonesia di SMAN I Hiliran Gumanti Kabupaten Solok semenjak Desember 2003 sampai Juni 2010. Juli 2010 Berdinas di SMAN I Gunung Talang sampai sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s