ANALISIS BENTUK TINDAK TUTUR (SPEECH ACT) BERDASARKAN KONTEKS

ANALISIS BENTUK TINDAK TUTUR (SPEECH ACT)

BERDASARKAN KONTEKS

Oleh Meldawati

  1. I. PENDAHULUAN

Di dalam kegiatan bertutur, penutur tidak sekedar menyampaikan pesan, tetapi ia juga membangun hubungan sosial dengan petutur (mitra tutur). Penutur perlu memilih strategi bertutur yang dapat mengungkapkan pesan secara tepat dan tuturan itu dapat membangun hubungan sosial. Dengan kata lain, penutur tidak ‘asal buka mulut dalam bicara’ tetapi ia harus memikirkan terlebih dahulu tuturan yang akan dituturkannya. Anjuran bahwa sebelum orang bertutur, orang perlu memikirkan apa yang akan dituturkannya, seperti yang dianjurkan di dalam ungkapkan bahasa Minang Kabau, yaitu “mangok dahulu sabalun mangecek”

Untuk mencapai tujuan bertutur yang kedua, yaitu membangun hubungan sosial, penutur kadang-kadang bertutur dengan mengabaikan makna referensial ujaran yang dituturkan atau penutur sekadar melakukan komunikasi fatis (bertutur sekadar untuk basa-basi).

Walaupun ribuan kalimat tentang beragam topik dari berbagai sumber yang didengar oleh manusia setiap hari, mereka selalu berusaha untuk memahaminya. Mereka tidak mengalami kesulitan untuk memahami apa yang didengarnya, dan mereka cenderung menganggap bahwa pemahaman adalah hal yang sederhana saja. pemahaman merupakan proses mental yang dialami oleh pendengar dalam menangkap bunyi-bunyi yang diucapkan oleh si pembicara dan menggunakan bunyi-bunyian itu untuk menciptakan terjemahan dari apa yang difikirkan mengenai apa yang dimaksud oleh si pembicara.

Namun demikian, memahami ujaran bukanlah hal yang mudah. Disaat memahami ujaran seseorang  sering melakukan kesalahan sehingga terbukti bahwa pemahaman terhadap ujaran adalah persoalan yang sulit.

Untuk memahami sebuah ujaran, seseorang harus memahami dahulu urutan-urutan kata-kata yang mereka dengar dan melihat bahwa kata-kata itu membuat suatu kelompok. Akhirnya pendengar membuat terjemahan untuk kalimat tersebut.

Untuk membuat terjemahan terhadap kalimat atau ujaran-ujaran, harus memperhatikan konteks. Lebih tegas Yule (1996) mengatakan bahwa dalam melakukan analisis wacana tentu saja melibatkan sintaksis dan semantic, tetapi yang terutama adalah pragmatic. Pragmatik adalah hubungan antara tanda dengan para penafsir.

Apabila seseorang memberikan penafsiran ataupun terjemahan terhadap kalimat atau ujaran tanpa melihat konteksnya (tempat berbicaranya dimana, kapan pembicaraan berlangsung, siapa yang menuturkan kalimat atau ujaran, apa tujuan pembicaraan, cara penutur mengungkapkan gagasannya, bahasa apa yang dipakai, apakah penutur bertanya, memberitahu, memerintah atau meminta tolong, dan dalam suatu kegiatan apa tuturan itu disampaikan) maka ia diragukan untuk dapat menangkap informasi apa yang sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh penutur. Misalnya saja penutur berkata “Enak, ya!” bisa saja mempunyai penafsiran berbeda dari banyak orang yang mendengar ucapan tersebut. Pemahaman pendengar bisa saja penutur memberitahu bahwa yang “enak” itu brownies yang dimakannya dengan tujuan sekedar memberi informasi kepada pendengar dalam situasi pesta, atau mungkin pendengar menafsirkan penutur sedang mengejek lawan bicaranya yang dimarahi oleh ibu kost apabila pembicaraan itu terjadi di tempat pondokan putri dengan tujuan mengejek. Bahkan penafsiran orang bisa ratusan banyaknya.

Ternyata  begitu pentingnya konteks dalam memahami dan menafsirkan wacana. Konteks sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja ketika orang berusaha memperoleh makna yang sesungguhnya dari informasi yang didengar atau dibacanya.

 

  1. II. LANDASAN TEORITIS
  2. A. Tindak Tutur (Speech Act)

Austin (1962: 94-95) dan Searle (1969: 16) sama-sama menganggap tuturan adalah tindakan yadn disebut tindak tutur (speech act). Austin (1962: 109-120) membagi tindak tutur menjadi tiga, yaitu tindak lokusioner, tindak ilokusioner, dan tindak perlokusioner. Tindak lokusioner adalah tindak tutur dengan makna tuturan itu persis sama dengan makna kata-kata yang di dala kamus atau makna gramatikal. Tindak illokusioner adalah tindak tutur yang penutur menumpangkan maksud tertentu di dalam tuturan itu. TIndak perlokusioner adalah tindakan yang muncul akibat seseorang melakukan tindak tutur tertentu.

Searle (1976:1-24) mengelompokkan tindak tuturan menjadi lima jenis, yaitu (1) tindak tutur representarif, (2) direktif, (3) ekspresif, (4) komisif, dan (5) deklaratif. Tindak tutur representative adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya atas kebenaran yang dikatannya. Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penutur agar petutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Tindak tutur direktif mencakupi tindak tutur menyuruh, memohon, menyarankan, menghimbau, dan menasihati. Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yagn dilakukan dengan maksud untuk menilai atau mengevaluasi hal yang disebutkan di dalam tuturannya itu. Memuji dan mengkritik tergolong tindak tutur ekspresif. Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan hal yang disebutkan di dalam tuturan itu. Berjanji atau bersumpah termasuk dalam tindak tutur komisif. Tindak tutur deklaratif adalah tindak tutur yang dilakukan denan maksud menciptakan keadaan yang baru. Membatalkan dan mengizinkan termasuk tindak tutur deklarasi. Topik penkajian analisis ini adalah analisis bentuk tindak tutur (speech act) berdasarkan konteksnya.

 

  1. B. Konteks

Konsep teori konteks dipelopori oleh antropolog Inggris Bronislow Malinowski. Dia berpendapat bahwa untuk memahami ujaran harus diperhatikan konteks situasi. Berdasarkan analisis konteks situasi dapat dipecahkan aspek-aspek bermakna bahasa sehingga aspek-aspek linguistic dan aspek nonlinguistic dapat dikorelasikan (Pateda, 1994).

Selanjutnya Pateda mengatakan pada intinya teori konteks adalah (1) makna tidak terdapat pada unsur-unsur lepas yang berwujud kata. Tetapi terpadu pada ujaran secara keseluruhan dan (2) makna tidak boleh ditafsirkan secara dualis (kata dan acuan) atau secara trialis (kata, acuan dan tafsiran) tetapi merupakan satu fungsi atau tugas dalam tutur yang dipengaruhi oleh situasi.

Stubbs (1993) mengemukakan bahwa unsur-unsur konteks itu adalah pembicara, pendengar, pesan, latar atau situasi, saluran dan kode. Namun Freedle (1982) mengatakan bahwa konteks yang langsung berhubungan dengan tuturan adalah setting, partisipan, bentuk bahasa, topik, dan fungsi tindak tutur.

Hymes (1964) mengemukakan bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan  komponen yang tersimpulkan dalam akronim SPEAKING. Kedelapan komponen tersebut adalah:

S : Setting, yang merupakan tempat berbicara dan suasana bicara

P :   Participant, adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan

E :   End, merupakan tujuan petuturan

A : Act Sequeces, adalah bentuk ujaran atau suatu peristiwa di mana seseorang pembicara sedang mempergunakan kesempatan bicara

K :   Key, mengacu pada nada, cara dan ragam bahasa yang digunakan dalam menyampaikan pendapatnya dan cara mengemukakan pendapatnya.

I :   Instrument, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan seperti bahasa lisan, bahasa tulis, dan juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan seperti bahasa, dialek, dan lain-lain

N : Norm, yaitu aturan dalam berinteraksi misalnya yang berhubungan dengan aturan memberi tahu, memerintah, bertanya, minta maaf, basa-basi, mengkritik, dan sejenisnya

G : Genre, yaitu jenis kegiatan

 

Beberapa aturan atau norma berbahasa yang berfungsi dalam suatu tindak tutur sering terdapat dalam peristiwa bahasa adalah: (a) tindak tutur memberitahu adalah memberitahu sesuatu kepada lawan tuturnya, (b) tindak tutur perintah atau imperative merupakan peristiwa atau kalimat yang meminta lawan tutur untuk melakukan tindakan sesuai dengan maksud penutur, (c) tindak tutur bertanya adalah dimana penutur ingin mendapatkan suatu informasi dari lawan tutur, (d) tindak tutur minta maaf merupakan permintaan penutur kepada lawan tutur untuk menyampaikan penyesalannya karena telah melakukan suatu kesalahan atau suatu kejadian yang dirasakan kurang sopan, (e) tindak tutur basa basi merupakan adat sopan santun atau tata krama pergaulan penutur kepada lawan tutur, (f) tindak tutur mengritik adalah penutur memberikan kecaman dan tanggapan atau pertimbangan, (g) tindak pernyataan merupakan hal tindakan mengatakan atau menyelaskan, permakluman, dan pemberitahuan, (h) tindak tutur penegasan merupakan penjelasan atau penentua atau menerangkan, (i) tindak tutur persetujuan merupakan persetujuan merupakan pernyataan setuju dan mufakat, cocok, sesuai, (j) tindak tutur pengulangan, balik lagi  dan kembali ke semula, kembali mengungkapkan apa yang sudah dikatakan, (h) tindak tutur permohonan merupakan meminta sesuatu dengan hormat terhadap mendapat sesuatu.

Disamping itu, Brown (1987) mengemukakan ciri-ciri konteks relevan : addresser (pembicara) addressee (pendengar) topic (topik) setting (waktu, tempat dan situasi) channel (bahasa lisan atau bahasa tulisan) code (pilihan kata) event (kejadian)

Werth (dalam yasin 1991) membagi konteks atas : konteks situasional (ekstra linguistik) dan konteks linguistik. Konteks situasional diperinci lagi menjadi konteks budaya dan konteks langsung. Pembagian itu digambarkan pada diagram berikut:

 

Konteks langsung terdiri atas lima unsur (1) setting, meliputi tempat, waktu dan situasi, (2) partisipan, ialah pihak-pihak yang terlibat, (3) saluran bentuk bahasa lisan atau tulisan, (4) topik pembicaraan, (5) fungsi bahasa.

 

III.     PEMBAHASAN

Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan pada bagian II di atas, maka peranan konteks dalam menganalisis wacana dapat diaplikasikan untuk menganalisis wacana berikut. Data (wacana)  ini penulis dapatkan dengan merekam pembicaraan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari antara seorang wanita dengan tetangganya. Hasil rekaman percakapan tersebut penulis transkripsikan kedalam bentuk tulisan. Jenis bahasa adalah ragam bahasa lisan walaupun ditranskripsikan ke dalam bentuk tulisan.

Topik : Bertetangga

  1. 1. Transkripsi Percakapan

Setting: Waktu percakapan sekitar pukul 08.15 WIB di depan rumah petakan yang disewa oleh Ibu I dan Ibu II. Ibu I berusia kira-kira 26 tahun, suku Minang, mempunyai anak satu orang masih bayi, menyewa petakan di sebelah petakan sewaan Ibu II. Ibu II berusia kira-kira 37 tahun, suku Minang, Panggilan akrabnya Bunda, mempunyai dua orang anak bertetangga dengan Ibu I.

Pagi itu Ibu I akan menjemur pakaian di jemuran depan rumahnya, terlihat Ibu II sedang bersih-bersih di halamannya.

Ibu I : (Sambil menjemur pakaian, Ia menyapa Ibu II) “ Lagi bersih-bersih Nda?”

Ibu II : (Senyum, sambil menoleh sedikit ke arah Ibu I tanpa mengubah posisi duduknya, tangannya sibuk mencabuti rumput liar yang tumbuh di halamannya) “Ya, sudah terlalu panjang. Sudah hampir sampai ke pintu.” (tertawa kecil)

Ibu I : (Ikut tertawa juga) “Iya, ya, Nda. Apalagi musim hujan begini, tumbuhnya cepat sekali.”

Ibu II : “Ho Oh.”

Ibu I : “Kami juga… Ntar Nda, Tiara terbangun..” (Tiba-tiba pembicaraan terputus. Ibu I berlari ke dalam rumahnya karena terdengar tangis anaknya yang tadinya lagi tidur)

 

  1. 2. Analisis
  2. Secara umum percakapan dalam wacana lisan di atas terkesan sangat akrab karena Ibu I dan Ibu II sudah lama saling mengenal. Walaupun Ibu I sudah tahu bahwa Ibu II sedang bersih-bersih, tetap saja menanyakannya.

“Lagi bersih-bersih Nda?” Kalimat ini walaupun bersifat interogatif sesungguhnya hanya berfungsi sebagai sapaan untuk membuka percakapan.

  1. Jawaban “Ya” dari Ibu II menyatakan persetujuan bahwa dia memang sedang bersih-bersih. “Sudah terlalu panjang. Sudah hampir sampai ke pintu.”(kalimat deklaratif) Pernyataan ini hanya untuk memperakrab suasana. Walaupun rumputnya sudah panjang dan tumbuh banyak tidak beraturan, tidak mungkin sampai ke pintu karena antara pintu dengan halaman ada teras.
  2. Pernyataan Ibu I “Iya, ya, Nda. Apalagi musim hujan begini, tumbuhnya cepat sekali.” (kalimat deklaratif) menyetujui perkataan Ibu II dan seolah-olah mempertegas dan mencarikan penyebab dari pernyataan Ibu II tadi.
  3. Pernyataan Ibu II “Ho Oh.” Juga merupakan persetujuan dari penegasan Ibu I. Dari pernyataan ini terlihat bahwa Ibu I dan Ibu II sesungguhnya mempunyai pemikiran yang sama mengenai topik yang sedang mereka bicarakan.
  4. Pernyataan selanjutnya dari Ibu I memang belum selesai, tetapi kalau diteliti dari dua kata yang baru saja diucapkan (“Kami juga…”) dapat dikatakan kalau Ibu I akan menyatakan sesuatu bahwa keadaan halaman rumahnya sama halnya dengan Ibu II.

 

Dari analisis di atas dapat disimpulkan bahwa keseluruhan percakapan antara Ibu I dengan Ibu II hanyalah untuk menjaga keakraban di antara mereka. Suasana itu terlihat dari hampir seluruh pembicaraan yang diwarnai oleh senyum dan tertawa.

Memang terdapat kalimat yang tidak sempurna, kadang-kadang sulit diberi label. Hal itu juga dapat diterima dalam percakapan lisan karena konteks percakapan dan unsur-unsur paralinguistic sangat membantu untuk memahami ilokusi masing-masing.

Dapat bahwa upaya menjaga keakraban dengan orang lain dapat dilakukan dengan banyak cara. Orang bisa menyatakan keadaan keluarga, menyapa, bercanda, dan hal ringan lainnya. Akan tetapi yang sangat penting adalah percakapan itu perlu dihiasi dengn senyum atau ketawa. Hampir tidak ada percakapan mengakrabkan diri yang terkesan kaku.

Kesimpulannya, wacana lisan di atas mempunyai konteks sebagai berikut:

S : Setting, dalam wacana “bertetangga” adalah pukul 08.15 WIB di depan rumah petakan yang disewa oleh Ibu I dan Ibu II.

P : Participant, yang terlibat dalam pembicaraan wacana “bertetangga” adalah Ibu I berusia kira-kira 26 tahun, suku Minang, mempunyai anak satu orang masih bayi, menyewa petakan di sebelah petakan sewaan Ibu II. Ibu II berusia kira-kira 37 tahun, suku Minang, Panggilan akrabnya Bunda, mempunyai dua orang anak bertetangga dengan Ibu I.

E : End,  tujuan pembicaraan dalam wacana “bertetangga” adalah untuk menjaga keakraban di antara ibu I dan ibu II.

A : Act Sequeces, dalam wacana “bertetangga” ada berupa lokusi, perlokusi dan illokusi

K : Key, Penutur dalam wacana “bertetangga’ menggunakan basa-basi dalam   menjaga keakraban

I : Instrument, bahasa yang digunakan dalam wacana “bertetangga” adalah ragam lisan.

N : Norm, dalam wacana “bertetangga” ada berupa kalimat interogaif yang sebenarnya hanya berfungsi sebagai sapaan, dan beberapa kalimat deklaratif untuk menyatakan persetujuan dalam menjaga keakraban.

G : Genre, penutur dalam wacana “bertetangga” adalah ibu rumah tangga dalam kegiatan sehari-harinya.

 

IV. PENUTUP

Konteks sangat penting dalam memahami dan menafsirkan wacana. Konteks sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja ketika orang berusaha memperoleh makna yang sesungguhnya dari informasi yang didengar atau dibacanya. Menentukan konteks dalam pemahaman wacana tentu saja dengan memberikan penafsiran terhadap SPEAKING (setting, participant, end, act sequences, key, instrument, norm, and genre)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Djajasudarma, T. Fatimah. 1991. Wacana ke Arah Pemahaman Teks. Bandung: Program Pascasarjana UNPAD.

 

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS.

 

Hymes, Dell (Ed). 1964. language In Culture and Society. New York: Harper and Row.

 

Kartomiharjo, S. 1992. Analisis Wacana dan Penerapannya: Pidato Ilmiah dalam Rangka Pengukuhan Guru Besar IKIP Malang: IKIP Malang.

 

Lubis, A. Hamid Hasan. 1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.

 

Maksan, Marjusman. 1996. Bahasa Minangkabau suatu Kajian Sosiolinguistik. Forum Pendidikan IKIP Padang No. 2 Th. XXI – 1996.

 

Pateda, Mansoer. 1992. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa.

 

Purwo, Bambang Kaswanti (penyunting). 1993. PELLBA 6 (Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atmajaya: Keenam). Jakarta: Lembaga Bahasa Atmajaya.

 

Van Dijk, Teun. 1997. Text and Context, Exploration In The Semantics and Pragmatics of Discourse. London: Longman Group Limited.

 

________. 1997. Discours as Structure and Process. London: Sage Publication.

 

Wahab, Abdul. 1990. Butir-butir Linguistik. Surabaya: Airlangga University Press.

 

Wardhaugh, Ronald. 1988. An Introduction Sosiolinguistics. New York: Basil Blackwell Inc.

 

Werth, Paul. 1984. Focus, Coherence, and Emphasis. London: Croom Helm.

 

Widdowson. 1981. Exploration in Applied Linguistics. New York: Basil Blackwell Inc.

 

 

 

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s